PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Beruntung


__ADS_3

Semakin malam, suasana desa semakin sepi. Tidak ada televisi atau bahkan radio untuk hiburan membuat semua orang memilih untuk masuk ke dalam kamar saat malam tiba.


Di ruang tamu kini hanya ada Riani dan juga Bayu yang duduk saling berhadapan. Sepotong ubi rebus masih tersisa di atas piring didampingi oleh dua gelas berisi teh manis yang hanya tersisa sedikit.


"Bay," panggil Riani, suaranya lirih dan terdengar sangat jelas.


Bayu tak mengatakan apapun, dia hanya melihat ke arah Riani saja.


"Maksud bapak kamu tadi apa? Melakukan apa?"


"Oh, itu ...." Bayu tersenyum simpul. "Ritual adat, Ri, biar hubungan kita langgeng dan tidak ada yang bisa mengganggu."


"Emang harus dilakukan ya, Bay?"


Bayu menganggukkan kepala. "Semua warga di desa ini ngelakuin itu, Ri. Kalau nggak, nanti bisa-bisa hubungannya nggak langgeng, ada aja masalah."


"Oh, gitu ya, Bay," ujar Riani menganggukkan kepala, mengerti. "Emang ritualnya kaya apa?"


"Nanti deh kamu juga tahu, susah kalau dijelasin, Sayang," ujar Bayu dengan lembut. "Udah malem, tidur yuk."


"Ya udah," ujar Riani yang menganggukkan kepala dan beranjak dari duduknya.


"Kamu nyaman nggak tidur di kamar ini?" tanya Bayu yang mengantarkan Riani hingga ke depan kamar tidur.


Riani mengangguk. "Nyaman, kenapa emangnya?"


"Syukur deh, aku seneng dengernya, Sayang." Bayu mengusap pipi Riani. "Aku beruntung bisa punya kamu."


Riani tersipu. "Bay!"


"Ya udah, kamu tidur ya, istirahat. Good night, Babe."


"Sok banget," ujar Riani sembari menutup pintu kamarnya.


Langkah kaki Riani mendekat ke arah kasur busa, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur itu dan menarik kain tipis bermotif batik hingga menutupi tubuhnya.


Jika diperhatikan lebih lama, Riani seperti seorang jenazah.


Pikirannya itu membuat Riani segera membuka kain yang menutupi tubuhnya. Ia merasa ngeri membayangkan hal itu. Untuk meminimalisir rasa dingin, Riani memilih untuk meringkuk.


Jam menunjukkan pukul satu saat Riani terbangun. Indra pendengarannya menangkat suara bising dari luar.


"Ada apa sih berisik banget?" Riani beranjak dari duduknya.


Keadaan rumah sangat sepi, sepertinya semua orang masih terlelap dengan pulas.


Suaranya berasal dari luar rumah. Riani yang penasaran memutuskan untuk mengintip dari jendela.


Terlihat di luar segerombolan orang yang sedang melintasi jalan. Di bagian depan, enam orang menganggul keranda.


"Emangnya ada yang meninggal?" lirih Riani, mengernyitkan dahi.


Ia memperhatikan orang-orang yang berjalan melewati dirinya yang sedang bersembunyi di dalam rumah. Mereka nampak berjalan dengan perlahan.


"Jam satu malam ada orang mau dikubur?" lirih Riani lagi, ia merasa tak mengerti.


Mereka semua menggunakan pakaian serba hitam, sepertinya kepergian seseorang tersebut membuat mereka sangat berduka.


Hingga barisan terakhir sudah selesai melewati Riani, dia memutuskan untuk kembali ke kamar.


Selanjutnya Riani tak bisa melanjutkan tidurnya. Pikirannya terus teringat dengan apa yang baru dilihatnya tadi.


Sekarang keadaan desa sudah kembali sepi, tapi Riani masih tetap belum bisa melanjutnya tidurnya hingga pagi.


"Biar aku bantu, Bu," ujar Riani yang menghampiri Utari.


Jam menunjukkan pukul empat pagi. Riani baru sadar jika Utari bangun sepagi ini untuk menyiapkan segalanya.


"Loh, kamu udah bangun, Ri?"


Riani terkekeh. "Udah, Bu. Biar aku bantu, Bu."


"Ya udah, nih kamu bantu petikin kangungnya ya."

__ADS_1


Riani mengangguk, ia merasa senang bisa membantu Utari.


Sembari tangannya memilih daun kangkung yang bagus, Riani memperhatikan Utari. Perempuan itu masih terlihat sangat muda, berbeda jauh dari Suwiryo yang sudah sangat tua dengan keriput dimana-mana.


"Bu," panggil Riani.


Utari yang tengah mengangkat panci berisi air untuk diletakkan di atas tungku itu menoleh. "Ya, kamu kesulitan?"


"Nggak," ujar Riani sembari menggelengkan kepala. "Aku boleh tanya sesuatu nggak sama Ibu?"


Utari tidak langsung bersuara, beberapa saat ia terdiam. "Boleh," ujarnya yang lantas tersenyum. "Emangnya kamu mau nanya apa, Ri?" Ia mengambil tutup panci yang masih tergeletak di atas meja. "Tanya aja nggak papa, kok."


"Ehm, sebenernya nggak enak sih, tapi aku penasaran." Riani tertawa kaku. "Aku lihat ibu sama bapak kok kayanya beda usia ya?"


"Oh, iya, aku istri keduanya bapak, Nduk." Ia tetap melanjutkan kegiatannya. "Ibunya Bayu meninggal, terus bapak nikah sama aku. Aku bukan ibu kandungnya Bayu, tapi aku ibu kandung dua adik Bayu yang masih kecil-kecil itu. Namanya Dara dan Gea."


Riani menganggukkan kepala. Ia baru tahu jika ternyata ibu kandung Bayu sudah tidak ada. "Oh ya, Bu, memangnya di sini kalau ada orang meninggal langsung dikuburin ya?"


"Biasanya iya, kan kasihan jenazagnya kalau harus nunggu lama," jelas Utari. "Emangnya kalau di sana nggak?"


"Ya ada beberapa sih, cuma umumnya ya kalau meninggal malam dikubur paginya."


"Oh ... ya sama di sini juga, Ri, apalagi di sini sebelum maghrib aja udah pada masuk rumah nggak ada yang kegiatan di luar, warga juga mana berani ke kuburan malam-malam."


"Loh, tapi semalam aku lihat ada rombongan bawa keranda, Bu."


Riani berhenti memetik kangkung. Begitu juga dengan Utari yang lantas menoleh dan menatap ke arah Riani.


"Kamu lihat mereka tadi malam?"


Riani mengangguk.


Terlihat raut wajah Utari yang seketika kebingungan sekaligus ketakutan.


"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Riani yang turut mengernyitkan dahi.


"Itu pertanda, Nduk. Sebaiknya ritualnya dilakukan malam ini juga."


"Ritual? Pertanda apa emangnya, Bu?"


Riani terdiam, ia masih tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Sarapan berlangsung seperti biasanya. Kali ini dua adik Bayu -- Dara dan Gea mengenakan seragam sekolah.


"Pengumuman ... pengumuman."


Sarapan pagi terhenti sejenak, semua yang ada di ruang tamu melihat ke arah luar.


Suara seorang laki-laki terdengar dari pengeras suara yang ada di surau desa tersebut.


"Pengumuman ... berita duka. Innalilahi wa innailaihi raji'un. Telah meninggal dunia, Ibu Sopirah binti Aman. Meninggal tadi malam di tempat jualannya."


"Kamu masih ingat sama ibu-ibu yang kemarin ajak kamu bicara?" tanya Bayu usai menyesap air putih.


Riani mengangguk. "Dia?"


Bayu mengangguk.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un, padahal kemarin masih kelihatan sehat."


"Dia telat pulang kali," celutuk Suwiryo.


"Bisa jadi, soalnya pas aku bawa Riani juga dia masih lagi beresin jualannya."


"Kasihan banget," ujar Utari menanggapi.


"Emang separah ini?"


Bayu, Suwiryo dan Utari mengangguk hampir bersamaan.


"Siapapun yang belum masuk ke rumah minimal jam lima sore akan ditemukan meninggal," jelas Bayu.


Sementara Riani justru mengernyitkan dahi, tak mengerti.

__ADS_1


Dara dan Gea berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Tidak lama setelah kepergian mereka, Suwiryo juga keluar rumah dengan arit di tangannya. Sementara itu, Bayu pergi ke rumah duka untuk membantu menguburkan jenazah Ibu Sopirah.


"Lagi apa, Bu?" tanya Riani menghampiri Utari yang berada di dapur.


Di atas meja dekat dengan kompor sudah ada dua kotak makan. Satu berisi penuh dengan nasi dan yang satunya lagi masih kosong. Sementara itu Utari nampak sibuk memasukkan sayur kangkung ke dalam plastik.


"Mau dikirim ke bapak?" tanya Riani lagi.


Utari menganggukkan kepala. "Iya nih."


"Aku boleh ikut nggak?"


"Kamu mau ikut?" tanya Utari.


Riani menganggukkan kepala, ia tersenyum. "Boleh kan?"


"Boleh dong, kebetulan juga kalau kamu ikut. Nanti kamu bawa teko itu ya?"


Pandangan mata Riani melihat ke arah yang ditunjukkan Utari, sebuah teko kecil berwarna emas. Riani menghampirinya.


"Kok dingin?" tanya Riani sesaat setelah merasakan teko tersebut.


"Iya, isinya es teh manis." Utari melanjutkan mengemas bekal makanan untuk suaminya. "Ayo kita pergi sekarang."


Teko kecil itu sudah ada di tangan Riani. Saat berbalik badan, tiba-tiba ia merasa kepalanya pening. Pandangan matanya buram dan keseimbangannya perlahan menghilang.


"I--ibu." Riani berusaha memanggil Utari, namun terlambat, ia terlebih dahulu jatuh tersungkur.


"RIANI?!" suara Utari terdengar tegas dan keras.


Riani bisa melihat Utari yang berdiri tidak jauh darinya melihat ke arahnya, ia terlihat marah, namun beberapa detik kemudian ia berhambur mendekat ke arah Riani.


"Riani, kamu kenapa?"


Riani menggelengkan kepala. "T--tiba-tiba pusing, Bu."


"Ya udah, ayo Ibu antar kamu ke kamar. Kamu nggak usah ikut antar makan siang."


Riani berusaha untuk beranjak dan melangkah ke kamar dengan dipapah oleh Utari. Tubuhnya dibaringkan di atas kasur.


Pintu kamar masih terbuka. Riani merasa kepalanya semakin pening hingga ia tak sadarkan diri. Sementara Utari sudah pergi mengantar makan siang untuk sang suami.


Entah berapa lama Riani tidam sadarkan diri, tapi Riani merasakan angin menerpa seluruh bagian tubuhnya. Dingin, merinding dan juga ... geli.


Kedua mata Riani perlahan-lahan terbuka. Pada saat yang sama rasa pening di kepala kembali menyerang.


Dalam pandangan yang masih buram, Riani melihat seseorang yang berdiri di atasnya. Ia merasa tidak asing dengan orang itu.


"Ba--Bayu?"


Riani mengerjapkam mata berulang-kali hingga ia bisa melihat Bayu dengan jelas.


Menyadari jika tubuhnya sudah tak mengenakan apapun lagi, Riani segera bergerak menjauh.


"Kamu ngapain, Bay?!" Riani menutup tubuhnya dengan kain batik yang ada di atas kasur.


"Ma--maaf, Ri, a--aku nggak sengaja."


"Nggak sengaja gimana?!"


"Kamu jangan marah sama aku, Sayang," ujar Bayu yang hendak memeluk Riani. Namun Riani segera menjauh. "Maaf, aku khilaf, Sayang."


"Khilaf gimana? Jelas-jelas kamu sadar, Bay!" Riani semakin menjauhkan diri.


"Aku bisa jelasin, Ri." Bayu terlihat begitu ketakutan. "A--aku nggak sengaja lihat kamu tidur, terus tiba-tiba kaya ada yang bisikin aku buat deketik kamu sampai aku ngelakuin ini ke kamu. A--aku kinta maaf, Sayang, aku ngg--nggak sengaja."


Riani terdiam memperhatikan laki-laki yang sudah kurangajar padanya. "Aku nggak bisa maafin kamu gitu aja, Bay."


"Aku mohon maafin aku, Ri, aku nggak sengaja. Aku juga belum apa-apain kamu, kan?"


"Belum apa-apain aku gimana?! Ini apa, Bay?!"


"Ma--maksud aku, ka--kan aku belum sampai jauh banget, Ri. Lagipula kalau misalkan sampai kaya gitu aku juga bakal bertanggung-jawab kok, Sayang. Aku cinta sama kamu, apapun kamu aku terima."

__ADS_1


"Tapi belum waktunya, Bay."


"Aku tahu, Sayang, makannya aku minta maaf." Bayu meraih tangan Riani dengan lembut, mencium punggung tangannya dalam waktu lama hingga pandangan matanya kembali melirik ke arah Riani. "Kamu mau kan maafin aku? Katanya kamu mencintai aku, anggap aja maaf yang kamu berikan itu sebagai tanda cinta untukku, Sayang. Maafin aku, kalau kamu cinta sama aku."


__ADS_2