PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Abu


__ADS_3

Abu yang berserakan dibersihkan oleh Riani. Indra penciumannya bisa menangkap bau wangi yang cukup menenangkan, namun juga menyeramkan.


Saat Riani meletakkan wadah kecil itu di bagian kolong meja, Riani melihat beberapa dupa yang tergeletak, ia juga melihat ada bungkusan aneh berwarna putih yang sudah terlihat kotor karena tanah.


Kedua mata Riani membulat, ia teringat dengan pesugihan yang sedang ramai saat ini. Apa Pak Abdul juga melakukan hal yang sama?


Di malam hari, Riani melepas penat sembari menikmati tontonan video di smartphone miliknya sembari menikmati bisukuit.


"Oh, aku belum selesai melihat video ini," ujar Riani saat melihat video tentang pesugihan yang sedang ramai dibicarakan.


Ibu jarinya menyentuh thumbnail dari video tersebut dan seketika suara perempuan yang merupakan host dalam kanal tersebut terdengar.


Beberapa menit berlalu tiba-tiba Riani mendengar ada suara aneh dari luar kamar.


"Bu?" panggil Riani, berharap itu adalah ibunya, namun tidak ada jawaban dari luar. "Bu?" Riani kembali memanggil ibunya dengan suara lebih keras, namun tetap saja, tidak ada jawaban dari luar.


Suara itu masih tetap ada, suara berisik seperti barang-barang yang dipindah. Merasa takut jika yang di luar adalah orang jahat, Riani memutuskan untuk mengeceknya.


Video yang sedang diputar berhenti, kamera dalam smartphone milik Riani mulai merekam.


Ragu tapi juga penasaran. Riani mulai mengganggam gagang pintu, ia membukanya perlahan-lahan.


Gelap karena hampir semua lampu sudah dimatikan. Keadaan di luar justru sangat sunyi, tak terdengar suara apapun lagi.


"Kenapa tiba-tiba hening?" Riani mengernyitkan dahi, ia semakin yakin jika suara-suara itu berasal dari seseorang.


Jantung Riani berdegup kencang, ia merasa ketakutan. Tidak pernah sebelumnya rumah ini kemasukan orang asing.


"Siapa itu?!" Riani mengarahkan smartphone-nya ke lantai satu, tapi tak ada sesuatu apapun yang terjadi.


Tiba-tiba pintu ruangan yang ada di belakangnya digedor oleh seseorang dari dalam. Tentu saja Riani kaget mendengar suara berisik itu.


"SIAPA DI DALAM?!" Riani semakin memperkeras suaranya. Ia sangat yakin jika ada seseorang yang sudah berani masuk ke dalam rumah.


Ruangan yang berada tepat di belakang Riani adalah sebuah ruang kerja pribadi. Dulu, ayah Riani sering berada di dalam sana selama berjam-jam lamanya.


Riani membuka pintu itu, ia merasa kesal dengan orang yang berani masuk ke dalam ruangan pribadi ayahnya.


Pintu yang sebelumnya selalu terkunci itu kini terbuka. Di dalamya gelap karena lampu ruangan tidak dinyalakan. Tapi untungnya senter yang ada dalam smartphone Riani menyala terang.


"Apa ini?" Riani merasa asing dengan rumahnya sendiri.


Tak ada meja kerja di dalam ruangan itu, juga tidak ada kursi atau apapun. Hanya ada karpet merah di atas permukaan lantai dengan barang-barang kuno.


Kendi, poci, cangkir, piring semuanya dari tanah. Riani juga melihat ada sebuah cermin, entah berfungsi sebagai apa.


"Kau selanjutnya ...."

__ADS_1


Riani menoleh mendengar suara itu, namun dia tak mendapati apapun. Ia mengarahkan smartphone-nya ke beberapa arah, tapi ia tak melihat sesuatu apapun.


Hingga ia merasa ada sesuatu yang kemudian menutupi dirinya. Seperti sebuah kain yang tipis dan menerawang. Setelah itu, Riani sudah tidak lagi melihat, mendengar bahkan mengingat apapun yang tengah terjadi.


Suara alarm yang keras berhasil membangunkan Riani. Tangan kanannya memegangi kepala, ia merasa sedikit pusing.


"Loh, kok ... aku di kamar?" tanya Riani bermonolog pada dirinya sendiri. "Perasaan semalam aku kayanya pingsan deh."


Riani melihat ke sekitar, ia mendapati smartphone yang tergeletak tidak jauh darinya.


"Pasti ada rekamannya," ujar Riani, ia mengambil smartphone tersebut.


Sayangnya daya yang tersisa hanya satu persen saja. Saat Riani hendak membuka galeri untuk melihat hasil rekaman videonya semalam, smartphone itu justru mati karena kehabisan dana.


"Aihh ... pakai mati segala!" kesal Riani, ia menyambungkan ponsel itu dengan kabel daya.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi saat Riani berjalan menuruni tangga. Dari atas anak tangga, Riani sudah bisa mendengar suara Rita yang sedang mengobrol dengan Dwi.


"Eh, Riani udah bangun."


"Udah, Bu." Riani mendudukkan tubuhnya di kursi makan. "Bu, tahu nggak?"


"Tahu apa?"


Riani menceritakan kejadian aneh semalam kepada ibunya, berharap ia akan mendapatkan sedikit titik cerah. Kejadian itu sangat nyata, Riani tidak yakin jika itu hanya mimpi semata.


"Palingan kamu mimpi, Ni," ujar Rita, memberikan tanggapan yang sebelumnya sudah dibayangkan oleh Riani.


Rita terdiam barang sepersekian detik. "Mana coba Ibu lihat."


"HP Riani mati, baterainya abis, nanti sore deh kalau aku pulang kerja," ujar Riani, ia mengambil satu gorengan yang baru saja dihidangkan.


Selama jam kerja, pikiran Riani tak bisa teralihkan dari kejadian semalam. Rasanya ingin segera beristirahat dan mengecek video dalam smartphone-nya.


Saat jam istirahat tiba, Riani menjadi orang pertama yang berada di dalam ruang karwayan.


"Cepet banget udah sampai sini aja," ujar Nindira, menepuk pundak Riani yang sedang mengambil smartphone di dalam loker.


"Heheh, iya nih, sengaja." Riani mengikuti arah langkah Nindira. Keduanya duduk di ujung ruangan dan bersandar pada tembok. "Semalam aku ngalamin kejadian aneh, tapi aku yakin itu bukan mimpi, aku juga ngerekam kejadian itu soalnya." Riani menyalakan ponselnya yang mati.


"Kejadian apa emangnya?" tanya Nindira, ia terlihat begitu penasaran.


Riani mulai menceritakan apa yang ia alami semalam. Smartphone-nya menyala seiring dengan ia yang sudah selesai bercerita.


"Coba aku lihat rekamannya di galeri," ujar Riani yang lantas dengan segera membuka galeri dalam smartphone tersebut.


Nindira juga turut mendekatkan tubuhnya, ia juga ingin melihat rekaman kejadian yang menimpa Riani semalam.

__ADS_1


"Loh, kok nggak ada," ujar Riani yang mencari-cari rekaman tersebut namun tak kunjung menemukannya.


"Kamu lupa nggak save kali, Ri."


Riani terdiam selama beberapa detik. "Mungkin, soalnya pas terakhir tuh aku ngerasa kaya ada yang nutupin aku pakai kain tipis gitu, Ra, terus abis itu aku nggak tahu lagi."


"Nah, bisa jadi kan."


"Tapi biasanya kalau rupa rekam tuh pas keluar kamera bakal kesimpan otomatis."


"Terus pas kamu bangun di kamar kamu, HP kamu ada di mana?"


"Di atas kasur juga, nggak jauh."


"Pas dinyalain pertama langsung di kamera?"


Riani terdiam, ia lantas menggelengkan kepala.


"Hmm, mungkin itu cuma mimpi."


"Tapi masa nyata banget? Aku bisa ingat detil kejadian semalam, biasanya kalau mimpi kan nggak bisa ingat sejelas ini?"


"


Keduanya sama-sama terdiam, menciptakan keheningan dalam ruang yang diterangi satu lampu remang.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Riani. Ia segera membukanya.


Sebuah pesan berupa foto dikirimkan oleh Bayu.


Riani: Kamu kenapa, Bay?


"Bayu yang waktu itu kan?" tanya Nindira yang juga melihat pesan tersebut.


Riani mengangguk. "Iya, benar."


"Dia dirawat kenapa?"


"Nggak tahu juga deh, Ra, aku juga lagi nanya."


Terlihat status di bawah nama Bayu berubah menjadi mengetik dan beberapa detik kemudian, sebuah pesan balasan masuk.


Bayu: Kamu bisa ke sini nggak pulang kerja?


Riani: Bisa, kamu kenapa emangnya? Mba Dwi udah tahu?


Bayu: Jangan dulu kasih tahu dia, Ri, kamu ke sini aja dulu sendirian, ya?

__ADS_1


Riani: Emangnya kenapa, Bay? Kamu kenapa?


Bayu: Aku nggak mau dia khawatir, Ri, cukup kamu aja yang tahu. Nanti kamu ke sini ya, aku tunggu.


__ADS_2