
"Ehm ...." Fella menggaruk kepalanya. "Se--sebenarnya iya sih."
"Kok kamu nggak bilang sih, Fel?!" ujar Riani dengan nada suaranya yang meninggi.
"Ma--maaf, Ri." Fella menundukkan kepala.
"Aku nggak mau tahu, Fel, pokoknya kalau manti aku sampai gila, kamu harus tanggung jawab!" bentak Riani.
Langkah kakinya keluar dari ruang makan dengan segera dan menaiki anak tangga.
"Ma--maafin aku, Ri. Riani ... tunggu aku," ujar Fella yang berusaha mengejar langkah Riani.
Riani sama sekali tak menghiraukan panggilan-panggilan Fella. Ia terus melangkah hingga sampai di dalam kamarnya.
Sejenak ia memperhatikan tubuhnya yang terbaring lemas di atas tempat tidur. Riani menoleh dan bersamaan dengan itu, Fella juga berada di ambang pintu kamarnya yang terbuka.
"Gimana caranya aku kembali ke tubuhku?" tanya Riani.
Sebenarnya ia sudah membayangkan jika ia bisa kembali dengan merebahkan diri tepat di tempat tubuhnya terbaring, namun ia merasa ragu karena hal itu biasanya dia lihat di film atau cerita horor saja.
"Kamu hanya perlu merebahkan diri di tempat tubuhnya terbaring saja, Ri," jelas Fella.
Riani mengangguk, apa yang dia pikirkan sebelumnya benar. Ada perasaan menyesal karena sudah bertanya pada Fella, seharunya hal ini tidak perlu dia pertanyakan.
Perlahan Riani mulai mendekati tubuhnya. Ia membaringkan diri sesuai dengan bagaimana tubuhnya terbaring.
Namun Riani tak merasakan apapun. Ia masih merasa tubuhnya enteng seperti sebelumnya.
Riani beranjak dari posisinya dan duduk di atas ranjang. Menoleh ke arah Fella, ia masih ada di tempat yang sama.
"Mana? Aku nggak merasa ini berhasil."
"Riani, kamu udah sadar?"
Riani segera menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati Bayu yang sedang mendekat ke arahnya dan lantas memeluk tubuhnya dengan erat.
Pelukan yang sangat erat dan Riani juga bisa merasakannya.
"Lepas, Bayu!" bentak Riani. "Kita putus!"
Kedua mata Bayu terbuka lebar, tidak menyangka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Riani terhadap dirinya.
Sementara itu dari arah pintu kamar, Dwi datang bersama dengan Rita.
"Ada apa ini, Bay? Riani kenapa?" tanya Rita yang lantas mendekat ke arah anak perempuan tunggalnya.
__ADS_1
Bayu terdiam, nampaknya ia masih sangat shock dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Riani terhadap dirinya.
Rita memeluk tubuh Riani dengan erat. "Kamu kenapa, Nak? Kamu kenapa?"
Mendengar ibunya sampai menangis, Riani turut bersedih dan tah kuasa menahan air matanya. "Bayu, Bu, dia aneh-aneh ke aku." Riani berkata di sela isak tangisnya.
"Seperti yang sudah aku bilang tadi, Nyonya," jelas Dwi yang kemudian dibalas anggukkan kepala oleh Rita.
"Kamu tenang, Ri. Bayu nggak ada mau berbuat jahat ke kamu kok."
"Bohong, Bu! Mereka berdua itu sudah bersekongkol. Aku lihat dengan mata dan kepalaku sendiri!"
"Sabar, Nak, kamu baru aja sadar. Kamu yang sabar, yang tenang," ujar Rita, ia beralih kepada Dwi. "Bawakan teh manis hangat untuk Riani."
Dwi mengangguk, ia lantas keluar dari kamar untuk menjalankan perintah.
"Aku nggak mau lihat dia lagi, Bu," ujar Riani yang masih menangis. "PERGI KAMU DARI SINI, PERGI!!!"
"Ta--"
"AKU BILANG PERGI YA PERGI!!!" bentak Riani dengan suara yang lebih lantang kali ini.
Tangis Riani semakin pecah tatkala Bayu meninggalkan kamarnya. Bersamaan dengan itu, Rita juga semakin memeluk tubuh Riani dengan erat.
"Ini tehnya, Nona Riani." Dwi menyerahkan segelas teh kepada Riani, tapi Riani tak menerimanya.
Dwi berjalan keluar dari kamar Riani lagi. Kini di dalam kamar itu hanya tersisa Riani dan Rita saja.
"Bu ... Ibu percaya kan sama aku?" tanya Riani, pandangan matanya menatap lekat manik mata berwarna coklat tua milik ibunya.
Rita mengangguk. "Tentu saja, Ni, tentu saja Ibu mempercayai kamu."
"Bayu bukan laki-laki yang baik, Bu, keluarganya aneh, masa Riani disuruh ikut ritual, Riani juga disuruh minum darah ayam. Kan kalau kaya gitu udah menyimpang kan, Bu?"
Rita lagi-lagi menganggukkan kepalanya. "Kamu tenang ya, Ni. Jangan terlalu dipikirin."
"Riani serius, Bu, Riani nggak mau ketemu sama Bayu lagi."
"Terus hubungan kamu sama dia gimana dong?"
"Riani nggak mau ada hubungan lagi sama dia, Riani mau putus!" tegas Riani.
"Kamu tenangkan diri ya, Ni, jangan ngambil keputusan pas lagi emosi kaya gini."
"Ibu nggak percaya sama aku?!"
__ADS_1
"Percaya, Ni. Ibu percaya sama kamu."
"Kalau gitu Ibu harus mendukung keputusan aku dong, Bu."
"Iya ... iya ... Ibu dukung kamu."
"Riani mau sendiri dulu, Riani mau istirahat." Riani merubah posisi tubuhnya menjadi meringkuk membelakangi Rita.
Di lengan Riani, ia bisa merasakan bagaimana tangan Rita mengusap lembut bagian tubuh itu.
"Kalau gitu, Ibu keluar ya, Ni. Selamat beristirahat," ujar Rita dengan lembut.
Beberapa saat berlalu setelah kepergian Rita dari dalam kamar, Riani beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan perlahan ke arah pintu dan membukanya dengan pelan. Riani berusaha semaksimal mungkin agar tidak menciptakan sedikitpun suara.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Riani sih, Bay?"
"Jadi gini ... Tan. Pas kemarin itu Riani sakit, terus akses ke rumah sakit atau puskesman di desaku kan lumayan jauh, Tan, jadi nggak sempat deh kita buat bawa dia ke rumah sakit. Pas lagi diomongin, tiba-tiba aku kepikiran buat bawa pulang Riani aja ke sini. Lagian puskesmas atau rumah sakit di daerahku juga peralatannya minim banget, kayanya percuma aja gitu kalau aku bawa Riani ke sana," jelas Bayu. "Tapi kepercayaan masyarakat sekitar, kalau orang dari luar desa sampai sakit itu berarti dia lagi diganggu, Tan. Aku kan tahu tuh kalau Riani bisa lihat makhluk-makhluk begituan--"
"Tu--tunggu," sela Rita. "Emangnya Riani beneran bisa lihat makhluk-makhluk halus gitu?"
"Kan sudah saya kasih tahu dari awal, Nya. Saya sama Riani kan juga pernah diganggu di rumah ini. Nyonya aja yang nggak percaya," jawab Dwi yang berdiri di dekat saudara sepupunya.
"Iya, Tan, Riani beneran bisa lihat mereka."
"Terus, terus?"
"Terus ya gitu, kemungkinan dia lagi diganggu sama makhluk halus. Makannya kalau dia sadar dan bicaranya ngelantur itu berarti dia mengalami itu di dimensi lain, Tan."
"Tapi tadi dia bilang kamu sampai nyuruh dia buat minum darah, apa itu bener?"
"Nah, itu namanya bicara ngelantur, Nyonya," jawab Dwi segera.
"Ya salah satunya seperti itu, Tante. Mungkin dia mengalami itu di dimensi lain. Lagian nggak ada juga yang suruh Riani minum darah, pas kemarin juga Riani udah sakit."
Rita mendengarkan perkataan dua orang tersebut dengan seksama. Matanya melihat ke arah siapa yang sedang berbicara, menatapnya dalam dan memahami setiap kata yang keluar dari mulut salah satu dari mereka berdua.
"BOHONG! JANGAN PERCAYA MEREKA!" Riani berteriak dari dekat tangga.
Matanya menatap tajam ke arah Bayu dan Dwi yang telah mengaranb cerita.
"APA YANG MEREKA KATAKAN ITU BOHONG, BU, JANGAN PERCAYA."
Rita beranjak dari duduknya. Langkah kakinya berkalan mendekat ke arah anak perempuannya berada.
"Tenanglah, Ni, tenang," ujar Rita dengan suara yang lembut.
__ADS_1
"GIMANA AKU BISA TENANG KALAU MEREKA TERUS MENGATAKAN KEBOHONGAN, BU?!"