
Riani menggelengkan kepalanya, ia menyesap kopi hitam kemasan kaleng yang sudah tersisa seperempat. "Belum nih, kebanyakan iklan punyaku yang nyaranin buat kost di tempat ibuku atau iklan yang dibikin Sella buat kost di tempat ayahnya."
Tidak putus asa begitu saja, Riani masih terus mencari postingan yang berhubungan dengan sewa kamar kost. Tentu saja Riani mencari postingan dari orang lain yang tidak Riani kenal.
Bermenit-menit berselancar dalam sosial media, Riani belum menemukan unggahan tentang sewa kamar kost. Riani menghela nafasnya berat, ia hampir putus asa.
Sekaleng kopi hitam kembali diteguk oleh Riani, kali ini hingga habis tak tersisa satu tetespun. Riani masih terus mencoba untuk mencari. Ia masuk ke dalam grup-grup yang tersedia di sosial media, membaca informasi yang dibagikan dalam grup tersebut satu persatu.
Hingga akhirnya setelah berkutat dengan smartphone selama kurang lebih empat puluh lima menit, Riani berhasil menemukan apa yang dia cari.
"Nah, ini kayanya bisa deh." Riani berkata senang, pandangan matanya masih terfokus pada benda pipih dalam genggaman tangannya. Ia mengambil tangkapan layar agar informasi yang sudah dia dapatkan tidak hilang begitu saja dan tersimpan di dalam galeri penyimpanan dalam smartphone-nya. "Di belakang perumahan Griya Indah Permai, itu di mana?"
"Oh, aku kayanya tahu deh itu di mana," ujar Nindira, air mukanya menunjukkan ekspresi jika ia sedang mengingat sesuatu. "Coba kamu hubungi nomor yang tertera. Ada di situ, kan?"
Riani menganggukkan kepala, ia lantas menyimpan nomor yang tertera pada unggahan tersebut dan menyimpannya dalam daftar kontak telepon.
"Coba aku chatt dia, ya," ujar Riani yang masih fokus pada smartphone-nya.
Riani: Halo, selamat sore. Apakah masih tersedia kamar kost-nya?
Kost: Halo, silahkan masih ada beberapa kamar yang kosong. Mau buat berapa orang, Kak?'
Riani: Buat saya, satu orang aja.
Kost: Oh ya bisa, Kak, barangkali mau lihat ke sini dulu juga masih bisa. Kalau mau kami tunggu sampai jam delapan malam ya.
"Masih ada nih katanya, Ra," ujar Riani sembari mengetikkan pesan balasan. "Masih ada beberapa kamar yang kosong."
"Kamu mau lihat ke sana malam ini juga?'
"Kamu mau nggak nganterinnya? Kalau nggak ya nanti aku ke sana aja sendiri, tapi pinjem motor kamu, hehe."
"Mau aja akumah, Ri. Tapi aku mandi dulu ya." Nindira beranjak dari duduknya, ia mengambil handuk yang ada di tempat gantungan dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Riani masih ada di ruang depan sendirian, ia masih berkutat dengan smartphone-nya, memberi kabar kepada pemilik kost yang akan dia sewa untuk menunggu karena ia dan Nindira akan datang ke situ malam ini juga.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Nindira keluar dari dalam kamar mandi dan digantikan oleh Riani yang masuk ke dalam untuk membersihkan diri.
Pukul tujuh malam, sepeda motor yang dikendarai Nindira melaju dengan perlahan menuju ke tempat tujuan.
Malam ini bertepatan dengan malam minggu, banyak sekali kendaraan pribadi yang melintas. Beberapa dari mereka adalah anak-anak muda yang berboncengan bersama lawan jenis untuk menikmati malam yang manis.
Jalanan sangat padat malam ini sehingga Nindira juga tidak bisa mengendarai sepeda motornya dengan sedikit lebih cepat. Alhasil keduanya baru sampai di tempat kost itu sekitar jam delapan kurang lima belas menit.
Baru saja turun dari sepeda motornya, Riani sudah ditunggu oleh seorang wanita yang sudah renta di depan pintu rumahnya.
Dilihat dari tampilan rumahnya, rumah ini terlihat tidak jauh berbeda dengan rumah milik keluarga Riani. Rumah tua yang sudah direnovasi di beberapa bagiannya tapi masih bisa terlihat jelas jika ini adalah rumah tua yang ditinggali beberapa generasi secara turun-temurun.
Wanita tua yang mengenakan kain jarik di bagian bawah dan baju kebaya putih sebagai atasannya itu tersenyum. Terlihat keriput pada wajahnya sangat jelas, tanpa bahwa ia sudah cukup lama berada di dunia ini.
"Malam, Bu." Riani mencium punggung tangan wanita tua itu terlebih dahulu, baru kemudian disusul oleh Nindira.
"Silahkan masuk, Nak. Ibu sudah menunggu kalian berdua di sini dari tadi. Jalannya ramai ya?"
Mendengar kalimat tersebut diucapkan olehnya, Riani merasa tidak enak hati. "Maaf ya, Bu, jadi nunggu saya kaya gini, harusnya udah beristirahat ya."
Tidak melihat ada siapapun dalam rumah ini selain wanita tua itu membuat Riani merasa aneh. Tidak mungkin kan jika wanita tua itu sendiri yang mengunggah tentang kamar yang akan dia sewakan? Rasanya tidak mungkin ada wanita yang sudah tua seperti ini yang bahkan hampir seluruh rambutnya sudah memutih tahu akan teknologi dan cara menggunakan smartphone serta sosial media.
"Ehm ...." Riani ragu untuk mengatakannya. "Tadi saya lihat postingan di sosial media tentang kamar yang mau disewakan di rumah ini, Bu."
"Oh, iya, tadi anak saya juga--" Belum sempat wanita tua itu menjelaskan, suara dering telepon yang sangat keras menghentikan kalimatnya. "Sebentar ya, Nak. Silahkan diminum dulu airnya."
Wanita tua itu beranjak dari duduknya dengan sedikit kesulitan, dia berusaha sebisa mungkin untuk berdiri dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan agar bisa berdiri dengan sempurna.
Langkah kedua kakinya tertatih-tatih menuju ke arah sumber suara. Wanita tua itu berhenti di depan sebuah lemari besar dan mengambil sebuah ponsel jadul yang terus berdering sedari tadi.
Tangannya menekan salah satu tombol, sepertinya ia sudah hafal bagaimana cara mengangkat panggilan suara yang masuk ke dalam ponselnya.
"Giamana, Nek? Mereka udah datang?"
"Udah ini, Nduk. Perempuan, berdua, ini mereka lagi duduk di ruang tamu."
__ADS_1
"Oh, ya syukurlah, Nek. Maaf ya aku nggak di situ, Nenek kasih tahu aja mana kamar-kamar yang masih kosong biar dia milih sendiri."
"Ya, Nduk."
"Ya udah, Nek. Semoga aja jadi ya nge-kost di situ biar Nenek juga makin banyak temannya, nggak kesepian lagi."
"iya, aamiin."
Panggilan suara terputus dan wanita tua itu berbalik badan kembali mendekat ke arah Riani dan Nindira duduk.
Riani dan Nindira bisa mendengarkan percakapan itu dengan cukup jelas karena wanita tua tersebut mengakifkan fitur pengeras suara saat panggilan tersebut berlangsung.
Secangkir teh yang ada dalam genggaman tangan Riani diletakkan di atas meja kembali, ia lantas beranjak dari duduknya yang kemudian disusul oleh Nindira.
"Boleh aku tahu di mana aja kamar-kamarnya, Nek?"
"Oh, mau lihat-lihat kamarnya sekarang?"
Riani mengangguk pasti. "Iya, udah malam juga biar nggak kelamaan."
Wanita tua itu berjalan paling depan untuk memandu. Rumah ini lebih luas dari pada yang Riani bayangkan saat berada di depan. Ada banyak kamar dan ruangan di sini, belum lagi lorong yang panjang dan cukup menyeramkan.
Sepertinya rumah ini dulunya milik sebuah keluarga besar yang tinggal di dalam satu rumah yang sama. Masing-masing ruangan dalam rumah ini sangat luas, kamar mandinya pun berderet empat dan saling berhadapan. Untungnya pencahayaan di dalam rumah cukup terang sehingga tidak terasa begitu menyeramkan.
Home tour singkat sudah selesai dilakukan dan ketiganya kembali ke ruang tamu yang berada di paling depan. Ketiganya kembali duduk di kursi masing-masing, sama seperti saat Riani dan Nindira baru datang.
"Ya begitulah keadaan rumah ini, rumahnya besar tapi yang tinggal di sini cuma aku saja. Ada sih anak kost yang nempatin empat kamar, masih ada lima kamar lagi yang tersisa. Kalau punya temen, bolehlah diajak kost di sini juga. Tempatnya juga strategis, kan?"
Riani menganggukkan kepala. "Nanti kalau ada temen yang belum punya tempat tinggal aku saranin buat kost di sini juga deh, Bu."
"Eh, yang mau tinggal di sini kamu apa kamu?" Pandangan matanya melihat ke arah Nindira dan Riani secara bergantian.
"Saya, Bu."
"Oh, begitu ya. Jadi gimana? Kalau mau langsung tidur di sini malam ini juga bisa loh, kamu udah lihat sendiri kan tadi kamar-kamarnya bersih dan cukup terawat."
__ADS_1