
"Ri ... Riani. Bangun, Ri."
Setelah beberapa saat tak mengetahui apa yang sedang terjadi. Riani kembali mendengar suara seseorang yang memanggil-manggil namanya, tidak hanya itu, Riani juga mencium aroma yang menyegarkan, seperti aroma minyak kayu putih.
Perlahan Riani membuka matanya, ia melihat langit-langit rumah yang sangat asing, berwarna ungu dengan hiasan putih. Saat pertama kali melihatnya, dahi Riani sontak mengernyit.
Beranjak dari duduknya, Riani mendapati Nindira berada di sebelahnya. "Aku di mana, Ra?"
"Kamu di rumah Bang Bhanu."
"Hah?!" Tentu saja Riani terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa aku di sini?"
Terakhir kali Riani ingat dirinya sedang mengantar makanan ke sebuah rumah. Tapi sekarang justru sudah ada di rumah Bhanu. Bagaimana bisa?
"Kamu udah pingsan lama banget sampe sekarang jam tiga sore, Ri, terus ada yang ngabarin Bang Bhanu. Kamu tahu nggak sih Bang Bhanu pesenin taksi buat bawa kamu ke sini, jadi kamu dibawa ke sini sendirian sama supir taksinya doang. Ada gilanya juga itu orang emang, nggak mikir kalau nanti kamu bisa kenapa-kenapa."
Pandangan mata Riani melirik ke arah pintu yang tertutup. "Bilangin makasih ke dia ya, Ra."
"Udah, kok, tenang aja." Nindira mengambil sesuatu. "Nih, teh angetnya minum dulu."
Riani menganggukkan kepala, ia menyesap sedikit demi sedikit teh manis hangat buatan Nindira.
"Terus makanannya gimana, Ra?"
"Tenang aja, udah ada yang gantiin, kok. Bang Bhanu udah bilang ke pihak resto, dia juga minta izin buat kamu nggak masuk dulu."
"Terus?"
"Ya dibolehin, seminggu buat istirahat di rumah."
"Hah? Lama banget, Ra."
"Biar kamu sehat dulu lah, Ri. Kalau kaya tadi lagi gimana?"
Riani terdiam, ia tak bisa berkata-kata.
***
Tiga hari berlalu, Riani masih berada di rumah Bhanu. Sebenarnya kondisinya sudah cukup membaik meskipun ia masih merasa lemas dan sesekali mual.
"Kita ke rumah sakit aja ya, Ri?" ujar Nindira sembari menyantap makanan yang sudah dimasak oleh Riani.
"Nggak usah lah, Ra, lagian aku udah membaik. Nih, buktinya, aku udah bisa masak, bersih-bersih rumah juga. Ya ... walaupun masih agak lemas sih."
"Kan kalau periksa bisa tahu lebih detil."
"Palingan juga meriang biasa."
"Ri, jangan anggap sepele penyakit loh!" Nindira merasa kesal. "Kalau kamu nggak punya uang ya pake uang aku aja dulu nggak masalah deh."
__ADS_1
"Nggak usah, Ira. Lebih baik kamu simpan aja uang kamu buat hal-hal yang lain. Aku udah mendingan kok."
Pagi harinya, Riani kembali merasa mual seperti empat hari sebelumnya. Ia mengeluarkan kembali makan malam yang sempat ia santap, padahal malam tadi ia juga hanya menyantap sedikit makanan.
Tidak adanya makanan yang masuk membuat Riani merasa lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. Namun setiap kali menyantap makanan, Riani hanya mengambilnya dalam porsi kecil, apalagi setiap pagi ia juga akan memuntahkannya kembali.
Riani masih berada di rumah Bhanu, setiap hari Nindira juga tidur di sini menemani Riani. Meskipun jarak dari rumah ke mall menjadi cukup jauh, tapi Ninidira terlihat sama sekali tidak masalah dengan itu.
Betapa beruntungnya Riani bisa bertemu dengan Nindira, teman sekaligus keluarga yang bahkan lebih dari sekedar keluarga.
"Kita ke dokter aja hari ini ya, Ri," ujar Nindira saat Riani baru saja keluar dari toilet.
"Nggak usah lah, Ra, nanti juga paling dokter nggak bakal mendeteksi ini sebagai penyakit medis."
"Hah?" Nindira mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"
Riani menghembuskan nafas berat. "Sebenarnya Bayu pernah nemuin aku, udah agak lama sih."
"Terus?"
"Terus dia ngancem aku, dia bilang bakal bikin hidup aku nggak tenang. Mungkin ini bentuk ancaman dari Bayu."
"Tapi nggak ada salahnya kan kalau kita periksa ke dokter, Ri?"
Riani terdiam sejenak, dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Nindira.
Pukul sepuluh pagi, Riani pergi ke rumah sakit ditemani oleh Nindira menggunakan sepeda motor.
Suasana rumah sakit tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang.
Giliran nama Riani disebut, ia berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Dok, nanti hasilnya kasih tahu aja sama saya ya, jangan sama teman saya."
Dokter perempuan berambut panjang dan mengenakan kacamata itu menganggukkan kepala. Ia lantas melakukan pemeriksaan pada tubuh Riani.
Beberapa saat berlalu, pemeriksaan telah selesa dilakukan. Riani beranjak dari duduknya, ia menunggu hasil pemeriksaan tersebut.
Terlihat dokter perempuan itu tersenyum, Riani tak mengetahui apa maksud dari senyumannya hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Selamat, Nyonya Riani, sebentar lagi Anda akan menjadi ibu."
"APA?!"
Raut wajah dokter yang semula sumringah kini menjadi kebingungan dan bertanya-tanya. Melihat hal itu, Riani terkekeh menyembunyikan keterkejutannya.
"Ehm, ma--maaf, saking senengnya."
"Oh." Dokter tersebut lantas tersenyum. "Iya, usia kehamilan Anda sudah tiga minggu, jalan minggu keempat."
__ADS_1
Riani hanya bisa menganggukkan kepala. "Terima kasih, Dok."
Langkah kedua kaki Riani terasa berat untuk keluar dari ruang pemeriksaan. Apalagi di bangku tunggu terlihat Nindira yang sudah beranjak dan sedang menuju ke arahnya.
Jantung Riani berdegup kencang, haruskah ia mengatakan kehamilannya? Bukankah ini sangat memalukan? Apa yang harus Riani katakan? Apalagi ia juga tidak mengetahui siapa ayah dari janin dalam kandungannya ini.
"Gimana kata dokter, Ri?" tanya Nindira, ia terlihat sangat khawatir.
Riani tersenyum kaku, ia lantas menggelengkan kepala namun belum juga berbicara.
"Gimana, Ri?" tanya Nindira sekali lagi.
"Ehm ... dugaanku benar, Ra."
"Maksudnya?" Nindira mengernyitkan dahi.
"Kata dokter aku sehat-sehat aja." Riani tersenyum kaku. "Mungkin emang takdirnya kaya gini."
"Ri, kamu jangan ngomong kaya gini dong."
"Gimana lagi, Ra?"
Nindira terdiam, ia juga tak mengetahui apa lagi yang harus dia katakan.
Keduanya kembali ke kost-an Nindira kali ini. Riani terbaring dengan smartphone di tangannya, namun pikirannya entah kemana. Sementara Nindira tampak beristirahat sembari menonton sebuah video.
"Huh, cepet banget udah jam dua aja," ujar Nindira yang lantas beranjak dari duduknya. Pandangan matanya menoleh ke arah Riani. "Aku mau siap-siap berangkat dulu ya, Ri." Tak ada jawaban apapun dari Riani. "Ri?" panggil Nindira sekali lagi, namun Riani tetap saja diam. Setelah diperhatikan lebih lama, ia melihat tatapan mata Riani yang kosong. "Ri," panggil Nindira, kali ini sembari menepuk lengan Riani.
Mendapati seseorang menepuk lengannya, Nindira mengerjapkan mata. "Ke--kenapa, Ra?"
"Jangan ngelamun gitu ih, kamu mikirin apa sih?"
"E--enggak, kok," ujar Riani sembari menggelengkan kepala dan tersenyum kaku.
"Kalau ada apa-apa cerita, Ri."
"Maaf."
Nindira menghembuskan nafasnya. "Kalau gitu aku mau siap-siap berangkat deh, Ri. Kamu di sini sendirian dulu ya."
"Semangat, Ra."
"Pasti."
Beranjak dari tempat tidur, Nindira mulai menyiapkan diri untuk berangkat bekerja. Kepergian Nindira meninggalkan Riani sendirian di dalam kost-an, ia mencari kertas dan pulpen lantas menuliskan sesuatu di sana.
Setelah itu, Riani juga merapikan barang-barangnya hingga tak ada yang tertinggal satupun.
"Maaf, Ra, aku harus pergi, aku nggak mau terus-terusan ngerepotin kamu. Terima kasih untuk akhir-akhir ini, kamu teman paling baik yang pernah aku temui. Maaf, Ra, kayanya lebih baik kamu nggak usah cari-cari aku lagi."
__ADS_1