
"Paling bisanya awal bulan sih, Bay, aku harus ajukan cuti dulu. Kamu juga iya, kan?"
"Ya udah deh, awal bulan tanggal lima sampai delapan, gimana?"
"Empat hari?" Riani sedikit terkejut. "Apa nggak kelamaan, Bay?"
"Ya ... nggak, kan? Biar lebih santai juga nggak buru-buru, Ri," ujar Bayu.
Sementara Riani menganggukkan kepala dengan sedikit ragu. "Ya udah deh, Bay, nanti aku coba ngajuin cuti. Nanti aku kabari kamu lagi."
Keduanya melanjutkan menyantap roti bakar yang masih tersisa sedikit sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
Semenjak kepergian Agus, makan malam jadi terasa sunyi. Tidak ada lagi yang memulai pembicaraan seperti sebelumnya. Sepi, hanya ada suara alat makan yang berdentang.
"Bu," panggil Riani, ia tak berani menatap mata perempuan itu.
"Kenapa, Ni?" tanya Rita yang lantas menyantap makan malamnya.
"Ehm ...." Riani merasa ragu. "Dulu Ibu pacaran nggak sama ayah?"
Mendapat pertanyaan demikian, Rita tampak tersipu malu. "Emangnya kenapa?"
Riani tersenyum kaku. "Ya nggak papa sih, cuma nanya aja."
"Ibu sama ayah dulu pacarannya lama banget, udah kek nyicil rumah."
"Emang berapa lama, Bu?" tanya Riani yang semakin penasaran.
"Hampir sepuluh tahun, sepuluh tahun kurang enam bulan. Bayangin, Ni, kalau buat nyicil sesuatu pasti udah kesampaian." Rita terkekeh.
"Hahaha, iya juga ya, emangnya dulu ayah kenapa nggak nikahin ibu cepet-cepet?"
"Ya gimana ... umur kita dulu kan masih kecil, Ri, kita ketemu tuh pas masih kelas satu SMP."
"Wah, beneran, Bu?"
Rita mengangguk pasti. "Iya, nggak tahu deh pas lihat ayah kamu seketika langsung klepek-klepek, hehehe." Kedua pipinya merona. "Sayangnya ...." Raut wajah Rita seketika berubah murung. "Umur ayah kamu nggak lama ya, Ni, tapi ya emang udah resiko sih."
"Resiko ... apa, Bu?"
"Resiko," jelas Rita. "Resiko pacaran lama mungkin."
"Emang kalau pacaran lama bakal cepet meninggal?" Riani mengernyitkan dahi, tak percaya.
"Ya nggak melulu meninggal sih, Ni, banyak juga kasusnya beda-beda. Ada yang diselingkuhin, ada yang pergi gitu aja, ya gitu lah, Ni, macam-macam."
"Itumah orangnya aja kali, Bu."
"Bisa juga sih, tapi saran Ibu sih lebih baik kamu nggak usah pacaran lama-lama, Ni, buang-buang waktu doang. Kalau ada yang deketin kamu, bawa dia ke Ibu secepatnya, biar bisa tahu juga dia serius nggak sama kamu."
"Oh, gitu ya, Bu."
"Iya, biasanya yang nggak serius itu nggak mau pas diajakin ketemu orang tua."
Riani menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sepanjang malam, Riani memikirkan perkataan Ibunya. Ia tak bisa tidur dalam kegelisahan.
"Seharusnya aku kasih tahu tadi aja mumpung lagi ngomongin hal yang sama," ujar Riani dalam penyesalannya. "Argh! Bodoh ... bodoh!" Ia memukul kepala sendiri.
Hingga pukul satu dini hari, Riani sama sekali tak bisa memejamkan mata. Setiap kali mencoba untuk terlelap, justru yang ada ia merangkai kata-kata yang mungkin akan dia katakan nanti di hadapan ibunya. Mungkin besok?
Bayu: Kamu belum tidur, Sayang?
Riani hanya membaca pesan singkat itu dari notifikasi, ia tak membalasnya.
Dua minggu berlalu semenjak pembicaraan itu, Riani masih belum juga berani untuk berbicara tentang Bayu kepada ibunya. Namun pagi ini, dengan niat yang sudah dia kumpulkan sejak malam, Riani ingin menceritakan hubungannya dengan Bayu yang sudah berjalan hampir sebulan.
"Pagi, Bu," ujar Riani yang berjalan dengan jantung berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.
Dari tempatnya duduk, Rita tersenyum. "Pagi, Nak, kamu udah siap?"
Riani tersenyum, ia mengangguk. "Sarapan apa pagi ini, Bu?"
"Pagi ini Ibu pengin makan kupat sayur, jadi deh suruh Mba Dwi buat bikin. Tapi kayanya belum jadi deh," ujar Rita, pandangan matanya beralih ke arah pintu dapur. "Dwi ... udah siap belum sarapannya?"
Suara alat masak terdengar beberapakali. "Sebentar lagi, Nyonya, sabar dulu," teriak Dwi dari dalam sana.
"Ehm, Bu," panggil Riani dengan ragu.
"Iya, Ni, kenapa?" tanya Rita, ia sibuk dengan smartphone yang ada dalam genggaman tangannya.
Baru juga Riani hendak berbicara, Rita terlebih dahulu berkata, "Nanti pulang kerja kamu sekalian mampir ke toko cat langganan kita ya, bilang kalau Ibu butuh lima kaleng yang warna hijau sage."
"I--iya, Bu," ujar Riani gugup.
"Nah, sarapan kita udah siap tuh," ujar Rita dengan senyuman. Pandangan matanya melihat ke arah Dwi yang datang dengan membawa sebuah nampan.
Gagal untuk yang entah keberapa kali. Riani hanya bisa menganggukkan kepala. Keberaniannya telah sirna, niatnya sudah tak ada dan rangkaian kalimat untuk mengatakan kepada ibunya hanya sia-sia.
***
Riani keluar dari ruang atasan. Permohonan cutinya disetujui.
Ia mengambil smartphone di dalam saku seragam kerja, mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kekasihnya memberitahukan bahwa ia berhasil mengajukan cuti selama satu minggu.
"Riani," panggil Nindira. Riani menoleh dan mendapati perempuan itu yang berjalan dari arah toilet perempuan. "Kamu habis dari mana?" tanyanya kemudian.
"Dari ruang atasan, kenapa?"
"Oh ...." Nindira menganggukkan kepala. "Pantesan aku cari dari tadi di ruang karyawan nggak ada. Kamu habis apa ketemu Bu Bos?"
"Ngajuin cuti."
"Emangnya kamu mau ke mana?"
"Aku diajak Bayu buat ketemu sama orangtuanya," jelas Riani.
Kedua mata Nindira terbuka lebih lebar daripada biasanya, beberapa detik kemudian menyusul senyuman kebahagiaan yang seakan tak ada yang menandingi kebahagiaan itu. "Beruntung banget kamu, Ri."
Masih di lorong itu, Riani dan Nindira duduk saling bersebelahan. Riani menceritakan kejadian dua minggu yang lalu kala dia bertemu dengan Bayu di kafetaria.
__ADS_1
"Kamu beruntung banget bisa dapatin cowok kaya dia, Ri. Udah mah ganteng, serius pula. Yah, walaupun di berasal dari kampung, tapi not bad-lah, asalkan dia baik. Apa salahnya juga kalau orang dari kampung. Iya kan, Ri?"
Riani mengangguk, ia tersenyum tipis. "Iya, tapi ... emangnya nggak terlalu cepat ya, Ra?"
"Ya nggak lah, Ri." Nindira masih dengan senyumannya. "Justru kamu beruntung, daripada yang pacaran lama ujungnya ditinggalin, mending baru beberapa bulan tapi langsung diseriusin."
Benar juga apa yang dikatakan oleh Nindira, perkataannya tak jauh beda dengan apa yang sudah dikatakan oleh Rita. Apalagi Rita juga sudah mewanti-wanti Riani untuk jangan mau diajak pacaran terlalu lama.
Bayu: Ya uda nanti sore aku jemput kamu, kita bareng-bareng ke rumah ya.
Riani membaca pesan singkat itu di dalam hati tanpa membalasnya.
Waktu berlalu lebih cepat daripada biasanya. Seperti pesan singkat yang sudah dikirimkan Bayu, laki-laki itu datang untuk menjemput Riani dan beriringan pulang ke rumah.
"Bay, kamu gimana kabarnya?" tanya Rita.
Dwi meletakkan secangkir teh di atas meja, ia lantas kembali ke dapur usai melakukan tugasnya.
"Baik kok, Tante Rita."
"Setelah nge-kost, kamu jadi jarang ke sini."
"Iya, sibuk kerja juga, Tan."
"Duh, sibuk banget yang jadi apoteker."
Bayu terkekeh. "Ya gitu lah, Tan, lumayan." Ia terdiam sejenak. "Ehm, Tante, ada yang ingin aku bicarakan sama Tante Rita."
"Bicara apa emangnya, Bay?"
"Gini, Tan, aku sama Riani kan udah pacara--"
"Hah? Kalian jadian kapan?" potong Rita, ia melihat le arah Riani dan Bayu secara bergantian.
"Belum lama, sih, Tan. Tapi ... orangtuaku udah mau ketemu sama Riani, apa boleh aku bawa Riani ke kampung, Tan?"
"Wah, ya boleh, dong." Rita tersenyum lebar. Pandangan matanya beralih ke arah Riani yang duduk tepat di sebelah Bayu. "Kamu udah siap kan, Ri?"
Riani tersenyum, ia mengangguk ragu.
"Kapan rencananya kalian mau pergi?"
"Rencananya sih awal bulan nanti, Tan. Riani udah ngajuin cuti, aku juga udah, tinggal persiapan berangkat aja." Bayu berkata dengan lembut. "Makasih ya, Tan, udah mau izinin."
"Kalau buat niat baik mah selalu diizinin, Bay. Tapi kalian berdua aja berati perginya?"
"Oh--"
"Iya, Tante, nggak papa kan?" potong Bayu saat Riani hendak berbicara.
"Nggak papa, dong, Tante juga dulu berdua aja sama almarhum ayahnya Riani." Rita terkekeh. "Dulu kita berdua naik mobil, mana lama banget nggak nyampe-nyampe, duduknya mepet banget sama penumpang lain. Duh ... nanti kamu mah pakai yang nyaman ya."
"Pasti, Bu, nanti aku sewa mobil sendiri deh biar nggak harus desak-desakan duduknya sama penumpang lain."
"Itu lebih bagus lagi, Bay. Pokoknya Tante mau kamu bikin Riani senyaman mungkin di perjalanan atau di kampung nanti, oke?"
__ADS_1
Bayu mengangkat tangan kanan dengan ibu jari yang mengacung. "Siap, Tante!"