
"Silahkan es teh manisnya."
Perempuan itu kembali dengan membawa dua gelas besar berisi es teh manis.
Bayu sedikit beranjak dari duduknya, ia menerima segelas teh manis itu untuk dirinya sendiri. "Makasih ya, Bu."
"Terima kasih," ujar Riani, tersenyum dan sejenak mengangguk ke arah perempuan itu.
"Iya, sama-sama. Jemputannya belum datang ya, Bay?"
Bayu menggelengkan kepala. "Iya belum nih, Bu, padahal tadi katanya sebentar lagi nyampe." Pandangan mata Bayu sesekali melihat ke arah jalanan yang lengang dengan beberapa kendaraan saja yang melintas.
"Ya udah tunggu aja dulu," ujar perempuan itu. "Tapi Ibu mau ke dalam ya, masih ada urusan di dalam."
"Oh, iya, iya nggak papa, Bu. Maaf ya jadi ngerepotin begini." Bayu merasa tidak enak hati.
"Kaya sama siapa aja kamu, Bay. Biasanya kan juga kaya gini." Ia terkekeh. "Kalau gitu Ibu tinggal ya." Pandangan matanya melihat ke arah Riani. "Mari, Neng."
Riani mengangguk dan memberikan sebuah senyuman. Ia memperhatikan perempuan yang berjalan masuk kembali ke toko sepatu dan kini menghilang di balik sebuah etalase.
Usai perempuan itu tidak lagi terlihat dalam penglihatannya, Riani menoleh ke arah Bayu. Rupanya laki-laki itu juga sudah menunggunya untuk melanjutkan pembicaraan.
"Kok kamu bisa tau, Sayang? Kemampuan kamu bertambah?"
"Jadi bener?!" tanya Riani, alih-alih menjawab pertanyaan dari Bayu.
Sementara Bayu menganggukkan kepala. "Sama persis kaya yang kamu sebutkan tadi, Ri. Kenapa kamu bisa tahu?"
Riani terdiam sejenak, ia menundukkan kepala. "Jadi tadi yang ada di depan kita itu dia dong?"
"Kamu lihat dia?"
Riani menganggukkan kepala.
"Di depan kita yang tadi kamu bilang ada orang itu?"
Riani lagi-lagi hanya menganggukkan kepala.
"Pas kaki aku naik ke atas itu kan?"
Riani mengangguk. "Pas kamu ngatain aku gila."
"Ri, please, jangan bahas lagi, Sayang," pinta Bayu.
Riani menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Jadi kamu lihat dia tadi?"
"Iya ... Bayu," ujar Riani dengan sedikit kesal karena Bayu terus mengulang pertanyaan yang sama.
"Kenapa kamu nggak bilang ke aku, Ri?"
"Kan aku udah bilang ke kamu."
"Ya maksud aku apa yang kamu lihat gitu, kan kamu cuma bilang di depan kita ada orang gitu aja."
"Aku nggak ada kepikiran untuk jelasin detail."
"Terus ... kamu lihat cincin itu di mana?"
"Di jari manis dia, kan tangannya di atas paha jadi aku bisa lihat jelas. Pas pertama aku lihat juga aku langsung kaya kok ini lagi hamil besar malah pergi naik kereta sendirian, gitu. Aku pikir dia sama suami atau keluarganya tapi mereka lagi pergi ke toilet atau gimana, ternyata sampai aku ketiduran itu aku nggak lihat suami atau keluarganya balik," jelas Riani. "Pas aku bangun juga dia udah nggak ada di depan kita."
"Ka--kamu lihat menantuku?" tanya perempuan pemilik toko sepatu yang ternyata sudah ada di sekitar Riani dan Bayu.
Keduanya sama sekali tidak menyadari kedatangan perempuan itu. Baru setelah mendengar suaranya, mereka berdua menoleh.
"Kamu lihat menantuku, Neng?" tanyanya, kedua tangan Riani digenggam erat.
Kedua mata dengan manik coklat kehitaman itu menatap ke arah Riani dengan penuh harapan. Dari matanya, Riani bisa melihat betapa besar kasih sayangnya kepada menantunya.
"Kamu lihat di mana, Neng? Gimana keadaann menantu Ibu?"
Seulas senyum tercipta pada bibir Riani. Jujur saja ia bingung bagaimana menjelaskannya. "Di--dia baik, Bu."
"Syukurlah, dia masih cantik kaya dulu, kan?"
Riani mengangguk lagi.
Dan perempuan itu nampak menangkupkan kedua tangannya di wajah, mengucap syukur.
Suara klakson mobil terdengar. Terlihat mobil hitam terparkir tidak jauh di depan toko sepatu, tepat di pinggir jalan raya.
Mesin mobil yang menyala seketika mati, kemudian seseorang keluar dari dalam sana.
Dia adalah seorang laki-laki dengan rambut yang sedikit gondrong dan diikat di bagian belakang. Kaos putih yang dikenakannya sangat pas dengan tulisan-tulisan tak jelas di bagian depan dan belakang.
"Maaf ya, Bang, di sana macet tadi," ujarnya seraya mendekat.
"Manda, kamu udah gede banget ya sekarang. Dulu pas masih ke sini masih kecil, masih kurus," ujar perempuan pemilik sepatu yang terkejut melihat Manda.
"Eh, Ibu," ujar Manda, pandangan matanya beralih dari Bayu ke arah perempuan tersebut. "Gimana kabarnya, Bu?" Manda membungkukkan badan, ia mencium punggung tangan pemilik toko sepatu.
__ADS_1
"Baik, baik, Alhamdulillah. Kamu sendiri gimana, Man?"
"Yah, yang kaya kelihatannya ini, Bu."
"Duduk, Man. Ibu juga udah bikinin es teh manis, sebentar ya biar Ibu ambilkan." Perempuan itu tergopoh-gopoh masuk.
"Eh, kamu--"
"Riani, pacarnya Bayu," ujar Riani mempekenalkan diri.
Kedua tangan mereka berjabatan cukup lama.
"Heh, udah dong, calonku itu jangan kamu goda-goda," tegur Bayu karena Manda tak kunjung mau melepaskan tangan Riani.
"Maaf, Bang, aku terpesona sih sama kecantikannya." Ia terkekeh. "Jago juga cari cewek," ujarnya sembari menyenggol lengan Bayu.
"Nah, ini es teh manis buat kamu," ujar perempuan itu yang sudah kembali dengan segelas es teh di tangannya. "Diminum."
Manda menurut, usai menerima segelas es teh manis tersebut ia segera meminumnya. "Seger banget, Bu, mana lagi capek abis macet-macetan. Ibu ngerti banget deh."
"Hehehe, bisa aja kamu." Perempuan itu terkekeh. Pandangan matanya lantas melihat ke arah Riani. "Aku ini memang bukan siapa-siapanya mereka, Neng. Dulu waktu menantuku mau pergi ke kota, kereta yang dia tumpangi kecelakaan. Hampir semua penumpang tidak selamat. Terus tiba-tiba ada orang datang yang bilang mau ngembaliin cincin, cincin maskawin menantuku, nah orang itu Manda sama Bayu. Sejak saat itu kita udah kaya keluarga," jelasnya.
Sementara Riani hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepala.
"Itulah mengapa pas tadi Ibu dengar kamu lihat menantuku di kereta, Ibu kaget. Rasa rindu Ibu ke dia jadi ada lagi. Padahal udah lama Ibu coba ngelupain dia."
"Maaf ya, Bu," ujar Riani merasa tidak enak hati.
"Ya nggak papa, Neng," ujarnya sembari menepuk lengan Riani. "Malah Ibu seneng, mungkin dia pengin menyampaikan sesuatu. Dia ada bilang sesuatu ke kamu nggak?"
Riani terdiam sejenak. Ia lantas menggelengkan kepala, berbohong. "Nggak ada, Bu."
"Hmm." Perempuan itu bergumam. "Kirain ada ngomong sesuatu ke kamu buat disampaikan.
Lagi-lagi Riani menggelengkan kepala sembari menunjukkan senyumnya. "Nggak ada, cuma tatap-tatapan aja."
"Andai aja Ibu yang ada di posisi kamu ya, Neng, pasti Ibu seneng banget. Pengin banget meluk dia, bahkan meluk jasadnya pun nggak bisa." Ia mengusap matanya yang mulai lembab. "Dia itu baik banget sama Ibu, Neng, rajin, suka bantu-bantu, mau juga menikah sama anak Ibu yang padahal jarak umurnya jauh."
"Sabar ya, Bu, kan katanya juga orang baik umurnya nggak lama," celutuk Bayu.
"Bener kamu, Bay."
Riani terdiam mendengarkan perbincangan mereka. Ia memikirkan perkataan sosok itu yang berkata hati-hati kepadanya.
Apa maksudnya? Ah, mungkin saja karena dia menjalani kecelakaan, jadi dia mengatakan hati-hati kepada kita berdua. Hal itu sebaiknya tidak perlu diceritakan.
__ADS_1