
Tiga hari berlalu dan Riani masih belum bisa mengalihkan pikirannya dari Bayu. Apalagi semalam ia baru saja bermimpi menikah dengan laki-laki itu. Rasanya begitu nyata dan Riani juga ingin hal itu menjadi kenyataan.
Sepanjang waktu saat memikirkan Bayu, Riani hanya mampu bergulang-guling di atas tempat tidur sembari mengingat kenangan manis yang pernah mereka berdua lalui.
Sesekali Riani akan mengecek smartphone-nya, menunggu barangkali Bayu mengirimkan pesan singkat kepadanya meskipun hal ini tak pernah terjadi lagi.
Tidak hanya itu, Riani juga memandangi akun perpesanan Bayu. Foto profil bergambar laki-laki tersebut dipandangi terus-menerus oleh Riani berharap bisa mengobati rasa rindu dalam hati, namun yang ada justru kerinduan itu semakin tinggi hingga tak bisa ditahan lebih lama lagi.
Riani: Sel, besok kamu free nggak?
Beberapa menit kemudian, pesan singkat masuk ke dalam ponsel Riani.
Sella: Jam berapa, Ri?
Riani: Jam dua belasan, gimana?
Sella: Aku jaga kedai, Ri, kamu tahu kan aku lagi merintis bisnis sama pacarku. Kalau kamu mau ngomong sesuatu mah datang aja ke stand, Ri, atau telepon apa cerita lewat chatt aja.
Riani: Oh, gitu ya. Nggak sih, tadinya aku pengin minta kamu anterin aku.
Sella: Anterin ke mana? Pakai motor aku aja nggak papa, tapi kalau nganterin mah maaf, Ri, aku nggak bisa.
Riani: Ya udah nggak papa, Sel, makasih ya.
Riani keluar dari ruang obrolannya bersama dengan Sella. Dengan segera ia masuk ke dalam ruang obrolannya dengan Nindira.
Riani menanyakan hal yang sama.
Kebetula jam istirahat di mall juga tiba pada jam dua belas dan berlalu sekitar satu jam, hal tersebut sama dengan jam istirahat Riani di restoran.
Riani: Besok aja aku ngomong ke kamunya, yang penting besok kamu jemput aku di restoran ya. Nanti aku bayar kamu deh.
Nindira: Oke siap, Ri.
Keesokan harinya, Riani yang sudah menjadi tukang antar makanan berangkat menuju restoran. Ia melakukan pekerjaan seperti biasanya, hanya saja mulai hari ini dia pulang pada pukul tiga sore, tidak sampai jam sembilan malam seperti sebelumnya.
__ADS_1
Hari ini pesanan makanan juga tidak terlalu banyak sehingga banyak waktu Riani yang terbuang sia-sia karena ia tak melakukan apa-apa. Hingga pukul dua belas siang, belum ada lagi pesanann yang harus Riani kirimkan.
"Kamu mau pulang, Ri?" tanga Gendhis yang melihat Riani begitu rapih dengan tas selempang yang menggantung pada salah satu bahunya.
Riani menggelengkan kepala. "Nggak, mau pergi sebentar sama teman. Cuma keluar satu jam aja kok, aku udah tanya ke atasan juga diizinin.
Sembari menunggu kedatangan Nindira, Riani duduk tidak jauh dari kasir. Pandangan matanya melihat ke arah luar dengan sesekali memperhatikan Gendhis yang sibuk melayani para tamu yang baru datang.
"Eh, itu temanku udah di depan. Aku pergi dulu ya," ujar Riani, salah satu tangannya menepuk bahu Genghis. Kebetulan area kasir juga sedang sepi.
Gendhis mengangguk tersenyum. "Ya udah nggak papa, kamu hati-hati ya, Ri."
Sementara Riani hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan Gendhis. Langkah kedua kakinya mendekat kepada Nindira yang menunggunya di atas sepeda motor.
"Kita mau kemana sih, Ri?" tanya Nindira sembari menyerahkan helm kepada Riani.
"Rumah sakit," jawab Riani singkat sembari menaiki sepeda motor Nindira.
"Emangnya siapa yang sakit?"
"Nggak sih, bukan mau jengukin orang sakit."
"Terus?"
"Mau nemuin Bayu."
Nindira yang terkejut seketika menghentikan sepeda motornya. "APA?!"
"WOI! KALAU BAWA MOTOR YANG BENER DONG!"
Teriakan laki-laki itu bersamaan dengan klakson yang tak henti-hentinya ia tekan. Seketika ada kerusuhan di situ. Untungnya laki-laki dengan jaket hitam yang menunggangi motor berkopling itu tak menghentikan kendaraan sehingga kerusuhan tak berlanjut lama.
"Kamu gimana sih, Ra?" tanya Riani yang juga ikut kesal karena hampir saja terjadi kecelakaan karena kesalahan Nindira.
"Kamu yang gimana, Ri?!" tanya Nindira, nada suaranya lebih keras daripada Riani. "Kok bisa sekarang kamu mau cari dia lagi setelah apa yang dia lakukan ke kamu?"
__ADS_1
Riani menghembuskan nafas. "Ya udah sih, Ra, lagian juga setelah dipikir-pikir dia dan keluarganya melakukan hal itu juga untuk kebaikan aku sama Bayu, kok, biar aku saka Bayu bisa sama-sama terus biar langgeng selamanya."
Sementara Nindira yang mendengar penjelasan dari Riani mengernyitkan dahi. "Kamu aneh, Ri."
"Kamu mau nggak anterin aku ke rumah sakit?"
Nindira mengangguk. "Ya udah." Sepeda motor tersebut kembali melaju. "Tapi jangan lama-lama, aku masih harus balik lagi ke mall."
Setelah sekian lama tidak pernah melihat Bayu, Riani merasa sangat rindu.
Saat pertama kali pandangab matanya melihat keberadaan laki-laki itu, Riani sangat ingin berlari ke arahnya. Namun ia menahan keinginannya itu karena ia datang bersama Nindira. Akan sangat tidak enak bagi Nindira jika melihat hal itu bukan?
Riani dan Bayu memutuskan untuk berbincang di kafetaria seperti biasanya saat mereka berdua masih menjalin hubungan. Bayu memesan mie kuah dan es jeruk peras sementara Riani dan Nindira memesan mie goreng dan es teh manis.
Sebenarnya Riani juga ingin memesan es jeruk peras, dilihat dari warnanya sangat menyegarkan daripada es teh manis. Namun es jeruk peras memiliki harga yang lebih mahal, ia tidak enak hati jika harus memesan menu dengan harga lebih tinggi daripada menu yang dipesan juga oleh Riani.
Suasana kafetaria hari ini cukup ramai, mungkin juga karena Riani datang pada saat jam istirahat makan siang sehingga banyak orang yang sedang berada di sini.
Tapi seramai apapun kafetaria di rumah sakit ini tidak menjadi masalah karena ruangannya yang luas dan memiliki banyak meja serta kursi. Tidak hanya itu, gerobak makanan yang berjualan di sini juga cukup banyak sehingga para pembeli mempunyai banyak pilihan menu makanan.
"Aku senang banget kamu akhirnya ke sini, nemuin aku, Ri."
Riani tersenyum, ia merasa tubuhnya merinding saat tangannya disentuh dan diusap-usap oleh Batu. Jantungnya mendadak berdegup kencang dan tentu saja ... kedua pipinya merah merona seperti kepiting yang sedang dibakar.
"Ehm ... maafin aku ya, Bay." Ruani menundukkan kepala, air mukanya memperlihatkan jika ia amat-sangat bersalah dan mengakui kesalahannya.
"Nggak papa, kok, aku juga ngerti, Ri." Bayu memberikan respon dengan lebih santai dengan senyuman yang selalu saja menawan.
"Makasih kamu udah selalu ngertiin aku, Bay."
"Sama-sama, Ri, bukannya seharunya begitu ya?"
"Iya," ujar Riani mengangguk. "Tapi ... aku belum bisa kaya gitu. Maafin aku ya, Bay."
"Nggak papa, nanti kita belajar sama-sama kedepannya." Bayu masih saja mengusap tangan Riani. "Ehm, jadi ... kamu mau kan aku ajak balikan?"
__ADS_1