
"Kekunci ya pintunya?" lirih Riani yang berdiri tepat di depan pintu rumah.
Ia merogoh tas selempangnya untuk menemukan kunci pintu tersebut. Selang beberapa detik kemudian, kunci pintu ketemu dan pintu berhasil terbuka.
Pandangan mata Riani melihat ke sekitar, seperti sebelumnya rumah ini tampak sepi, bahkan hingga langkah kaki Riani menggema saat masuk ke dalam rumah tersebut.
Pintu rumah kembali ditutup, Riani melangkah menuju kamarnya.
Terlihat pintu-pintu kamar yang lain juga tertutup rapat, entah pemiliknya ada di dalam atau tidak, Riani tidak begitu perduli.
Tas selempang berwarna pink soft itu digantung di belakang pintu. Riani mengambil smartphone dan chargernya, lantas menghempaskan diri ke atas tempat tidur.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah lima sore, ia ingin beristirahat sejenak selama setengah jam sebelum membersihkan diri.
Riani masuk ke dalam aplikasi perpesanan, ia membuka obrolannya dengan Rita yang sebelumnya sudah diblokir. Di bagian bawah profil memperlihatkan waktu terakhir akun tersebut aktif digunakan, sekitar dua jam yang lalu.
"Miss you, Bu."
Meskipun sedang kesal dengan ibunya, Riani merasa rindu juga. Bagaimanapun dia, dia tetaplah ibu kandung yang sudah melahirkan dan membesarkan Riani.
Seketika perasaan bersalah menyelimuti hati, Riani merasa menyesal dengan perbuatannya kali ini. Tapi tidak mungkin juga jika harus kembali.
Foto-foto bersama ibunya dipandangi terus menerus oleh Riani. "Kenapa sih Ibu malah biarin Bayu ngelakuin itu ke aku? Padahal kan harusnya dia jagain aku, lindungi aku, kenapa justru Ibu dukung Bayu? Sekarang Bayu ngancem aku, apa Ibu juga bakal dukung dia lagi?"
Riani menghempaskan smartphone-nya, ia menenggelamkan wajah ke dalam bantal. Air mata mulai mengalir seakan tak pernah berhenti, Riani tak bisa menahannya lebih lama lagi.
Saat sedang menangis, Riani merasa ada yang mengusap kepalanya. Usapan yang lembut dan tenang. Mungkinkah itu ibu pemilik kost?
Ia merasa malu, tak seharusnya menangis tersedu. Perlahan tangisan itu berhenti, bersamaan dengan itu usapan tangan pada kepalanya juga semakin tak terasa lagi.
Riani menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mendapati hanya dirinya sendiri di dalam kamar ini.
Rasa penasaran membuat Riani beranjak dari tempat tidurnya, ia mengusap kedua mata yang lembab dan basah karena air mata.
"Bu ... Ibu ...." Riani mencari keberadaan pemilik rumah, namun ia tak kunjung menemukannya.
Hingga tiba di dapur, Riani melihatnya sedang mencuci alat makan. Langkah kaki Riani berjalan menghampirinya. "Ibu tadi masuk ke kamar aku?"
"Hah?" Ia menoleh tak mengerti. "Mana mungkin Ibu masuk ke kamarmu, Ibu sangat menjaga privasi. Kalau Ibu mau masuk ke kamar kamu, Ibu pasti izin dulu ke kamu."
"Ehm ...." Riani terdiam tak enak hati. "Gitu ya, Bu." Riani tersenyum kaku. "Maaf ya, Bu."
__ADS_1
"Tenang aja." Ia menunjukkan senyumannya yang terbaik. "Eh, kamu mau makan nggak? Ibu bikin tempe goreng tuh. Ya cuma tempe goreng sih, tapi enak kok kalau sama sambal, nasinya juga masih hangat. Cobain deh."
Seketika itu Riani teringat jika ia berniat untuk membeli bahan makan tadi pagi. "Oh ya ampun." Tangannya menepuk dahi. "Aku lupa, aku niatnya mau belanja sore ini."
"Udah, makan aja dulu yang ada."
"Emang nggak papa, Bu?"
"Ya nggak papa dong. Makan gih, mumpung masih hangat juga."
Riani mengangguk senang. Siapa yang tidak mau makan gratis?
Nasi hangat, tempe goreng dan sambal saja sudah sangat nikmat. Apalagi dimakan saat tanggal tua dan tidak memiliki stok persediaan makanan yang banyak.
Riani menyantap sepiring makanan itu dengan lahap, ia merasa sangat senang.
Malam tiba dan Riani kembali mengurung diri di dalam kamar. Masih ada dua bungkus mie instan yang bisa ia gunakan untuk sarapan besok pagi.
"Nah, gini kan jadi nggak lupa," lirih Riani usai membuat pengingat dalam kalender yang ada pada smartphone-nya.
Saat hendak masuk ke dalam akun sosial media, sebuah panggilan masuk terlihat di bagian atas layar.
"Riani ... gimana kamu? Betah di situ?"
"Betah banget, Ra. Kamu tahu nggak?"
"Apa tuh?"
"Sore tadi aku dikasih makanan sama ibu, pas kebetulan aku lagi laper juga."
"Wih, mending banget. Nggak kaya aku, di sini kerasa banget sendiriannya."
"Kamu pindah aja ke sini, Ra."
"Kejauhan, Ri, males aku motoran jauh-jauh."
"Lah kakakmu juga di sekitar sini kan, Ra. Aku jadi inget, tadi pagi aku ketemu kakak kamu."
"Iyakah?"
"Heem, aku nebeng ke restoran juga malah. Baik banget, cuma dingin aja kek es batu."
__ADS_1
"Hahahaha, iya emang dia gitu orangnya. Aku juga sebel sama dia."
"Beda jauh banget sama kamu yang ramah, ceria, suka ngomong."
"Dia pelit banget ngomong, Ri, kalau ditanya juga cuma geleng apa ngangguk doang. Padahal kan timbang ngomong iya apa nggak aja nggak susah ya."
Riani terkekeh mendengarnya.
Perbincangan di antara mereka berdua berlanjut hingga dua jam lamanya. Keduanya membicarakan banyak hal, bercerita tentang apa yang dijalani hari ini dan apa saja yang mereka alami.
"Ri, aku ngantuk nih, tidur dulu ya."
Sebuah suara ketukan pada pintu membuat Riani menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat dan ia kunci dari dalam.
"Ya udah tidur aja dulu, Ra, aku juga ada yang nyari nih."
"Okelah, aku matiin ya. Tiati loh, Ri."
"Apaan sih kamh, Ra, nggak usah nakut-nakutin gitu dong!" kesal Riani.
Sementara Nindira justru terkekeh mendengarnya.
Panggilan suara dimatikan namun smartphone Riani masih ada dalam genggaman. Langkah kedua kakinya berjalan mendekat ke arah pintu yang sudah tidak lagi diketuk.
"Siapa sih yang ketuk pintu, udah malam gini."
Tangan Riani menggenggam gagang pintu dan memutarnya, pintu terbuka namun tak ada siapa-siapa.
Pada lorong yang panjang hanya ada satu dari tiga lampu yang menyala, mungkin pemilik rumah sudah mematikannya.
"Siapa sih? Apa aku kelamaan ya jadi dia keburu pergi?" Riani menoleh ke kanan dan ke kiri, ia tak mendapati siapapun.
Tak ada siapapun di luar kamar membuat Riani memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mengunci pintunya lagi.
Baru juga berbalik badan dan melangkah beberapa langkah, pintu kamar sudah kembali diketuk. Tentu saja Riani merasa kesal karena saat ia melihatnya tadi tidak ada siapapun di luar kamar.
Riani membuka kunci pintu, lantas menarik pintu tersebut agar terbuka dengan segera.
Kosong, ia tak mendapati seorang pun di depan kamar atau di sekitar lorong.
"Siapa sih?!" kesal Riani dengan sedikit berteriak. "Nggak usah jail kaya gini bisa nggak?! Udah malam tahu, ganggu orang mau istirahat aja!"
__ADS_1