PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Menunggu


__ADS_3

Kedua mata Riani terbuka perlahan, Riani mendapati dirinya masih berada di kursi ruang tamu. Smartphone yang pada awalnya berada dalam genggaman tangan kini sudah tergeletak begitu saja di atas permukaan lantai dalam kondisi layarnya mati.


Beranjak dari kursi tamu, Riani merasa beberapa bagian tubuhnya sakit karena terlalu lama berbaring di atas kursi kayu dengan permukaan yang tidak begitu empuk itu.


Melirik ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit.


"Ya ampun aku ketiduran," ujar Riani sembari mengusap kedua matanya.


Smartphone yang tergeletak di atas lantai diambil, bersamaan dengan itu Riani mendengar suara pintu yang tertutup.


"Niatnya mau lihat mereka pada pulang malah ketiduran," lirih Riani sembari melangkahkan kedua kakinya menuju kamar.


Hening, sepi, sunyi adalah hal yang biasa Riani rasakan di dalam rumah ini.


Di dalam kamar, Riani melanjutkan tidurnya. Belum lama ia memejamkan mata, suara langkah kaki yang sangat berisik membuat kedua matanya kembali terbuka.


Suara langkah kaki itu terdengar ramai, seperti orang-orang yang sedang berlalu-lalang di lorong depan kamar. Meskipun Riani sudah mencoba menutup telinganya dengan selimut dan bantal, suara itu masih tetap terdengar jelas.


Merasa tidak bisa menahannya lebih lama, Riani membuka pintu kamar untuk memperingati mereka.


"Loh?" Riani tak melihat seorang pun di lorong, menoleh ke kanan dan ke kiri keadaannya masih sepi. "Nggak jelas." Pintu kembali ditutup dan Riani kembali ke atas tempat tidur.


Belum juga memejamkan mata, Riani mendengar suara orang yang sedang mencuci piring dan memasak. Seakan tidak ada siapapun lagi di rumah ini, suara mencuci dan memasak itu terdengar keras, mungkin mereka juga melakukannya dengan kasar.


Lagi-lagi Riani beranjak dari duduknya, ia membuka pintu kamar dan mendapati lorong yang sepi. Suara-suara yang tadi didengarnya juga berhenti, namun Riani tetap melangkah menuju dapur.


Sepi, bersih, tak ada siapapun di dapur dan alat masak juga tertata rapih.

__ADS_1


Saat inilah Riani mulai menyadari ada sesuatu yang aneh, bulu kuduknya merinding. Dari atas rumah terdengar suara berisik dan burung gagak dalam jumlah banyak berbunyi secara bersamaan.


Pandangan mata Riani melihat ke ujung dapur bagian atas yang terdapat lubang angin di sana. Dari atas sana muncul sebuah rambut yang menggantung dengan kepala. Wajahnya menyeringai kenara Riani dan berkata, "Kamu cari aku ya?"


Riani terdiam, tubuhnya terpaku dengan pandangan mata yang tetap mengarah ke sosok itu.


Seketika suara letusan seperti mercon yang besar terdengar dan menyadarkan Riani. Perlahan Riani yang sudah bisa menggerakkan tubuhnya melangkah mundur.


Sementara itu, sosok dengan rambut panjang menjuntai ke bawah itu semakin turun. Kedua matanya yang menyeramkan dengan lingkar hitam tebal itu terus menatap ke arah Riani.


Saat sedang melangkah, Riani tak sengaja menabrak pemilik kost. Setidaknya kini ia tidak sendirian, Riani merasa sedikit lebih tenang.


"A--ada, a--ada ha--hantu di--di da--daput, B--Bu," ujar Riani dengan sangat terbata-bata.


"Di mana?" Pemilik kost tampak khawatir, ia lantas berjalan menuju dapur.


Dari tempat Riani berdiri, ia bisa melihat bagian punggung wanita tua itu dengan baju yang sudah lusuh dan robek. Riani melihat bagian punggung itu sudah tidak ada lagi daging melainkan hanya ada kulit yang menempel pada tulang, bahkan terlihat jelas kulit itu sudah berubah warna dan menyisakan tulang di beberapa bagian.


"Kamu mau ke mana? Di sini aja sama saya."


Kedua tangan Riani berusaha membuka pintu rumah itu dengan sedikit kesulitan. Mendengar wanita tersebut berbicara, Riani menoleh dan mendapatinya yang sedang berjalan mendekat tertatih-tatih. Wajahnya sudah peot dengan kulit yang sudah berubah warna, benar-benar seperti sebuah tengkorak yang hidup kembali.


Keringat dingin mulai bermunculan, apalagi pintu rumah masih juga belum terbuka.


"Ku--kunci, kuncinya ...." Riani melihat ke arah gantungan kunci pada tembok yang ada di belakang pintu, namun tak ada satupun kunci yang menggantung di sana. "Sialan, kunciku juga di kamar lagi."


Riani kembali menoleh ke arah wanita tua itu, ia masih berjalan tertatih mendekat dan mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? Di sini saja sama saya."


Suara tersebut terus terngiang-ngiang di pikiran Riani.


Kondisi tangan yang basah membuat Riani semakin kesulitan membuka pintu yang terkunci. Tenaganya yang terlalu kuat membuat gagang pintunya terlepas.


"Aduh!" pekik Riani dengan gagang pintu yang sudah patah di tangannya. "Gimana ini?"


Riani berusaha menendang pintu yang terkunci itu. Tidak mungkin baginya untuk kembali ke kamar dan mengambil kunci karena ada wanita tua yang sedang berjalan ke arahnya. Jika ia kembali ke kamar, mungkin dia sudah berada di belakang pintu menunggu dirinya.


Lalu apa yang harus dilakukan Riani sekarang?


Pandangan mata Riani melihat ke arah pemilik kost yang kini bukan lagi pemilik kost, ia lantas berpikir cepat dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Riani berlari melewati lorong yang ada di sisi lain. Banyak lorong di rumah ini cukup membantu juga. Secepat mungkin Riani berusaha kembali ke kamar, dalam pikirannya saat ini hanya ada kunci rumah.


Memasuki ruang kamar, lampu dalam ruangan itu berkedip mati dan menyala. Hal ini semakin membuat Riani semakin kesulitan apalagi ia sedang terburu-buru.


Tercium bau tidak sedap dalam indra penciuman Riani, bau itu sepertinya bersumber dari tempat tidur. Dalam kegelapan Riani bisa melihat seperti ada sesuatu yang terbaring di sana.


Tidak ingin memikirkan hal itu, Riani segera keluar kamar setelah mendapatkan kunci rumah. Sampai di ruang tamu, wanita tua itu sudah berada tidak jauh dari pintu.


Kedua kaki Riani terayun dengan cepat ke arah pintu rumah, meskipun kesulitan Riani tetap berusaha hingga akhirnya pintu tersebut berhasil terbuka.


Riani berlari keluar rumah, ia bersembunyi di balik sebuah batang pohon yang besar. Ia mengamati rumah tua yang semakin menyeramkan itu.


Tangan Riani berpegangan pada pohon itu, ia masih penasaran kenapa rumah tersebut bisa berubah menjadi menyeramkan dalam semalam. Tidak hanya itu, Riani juga ingin melihat apakah sosok wanita tua yang menyerupai pemilik kost itu akan kekuar menjadi dari rumah tersebut dan mengejarnya atau tidak.

__ADS_1


Pada saat mengamati rumah tua di hadapannya itu, Riani seketika menyadari sesuatu.


"Eh, pohon apa ini? Perasaan aku nggak pernah lihat ada pohon sebesar ini di depan rumah sebelum-sebelumnya."


__ADS_2