PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Pergi


__ADS_3

Kedua kaki itu kini telah berdiri kembali di sebuah tempat yang sudah tidak ia kunjungi sejak beberapa minggu lalu. Pandangan matanya melihat jauh ke dalam, tapi tak ada siapapun yang dia lihat di sekitat sana.


Langkah kedua kakinya mulai berjalan ke depan, Riani membuka pintu gerbang yang tidak terkunci itu. Debu-debu di lantai teras rumahnya begitu pekat, bahkan hingga langkah kedua kaki Riani meninggalkan jejak.


Asing, rasanya sangat asing saat menapakkan kedua kakinya kembali di rumah ini. Riani merasa tidak sedang berada di teras rumahnya, rasanya sangat asing dalam dirinya, ia seperti ingin keluar dan mencari rumahnya yang sebenarnya.


Jantung Riani berdegup kencang membayangkan malam itu saat ia kabur dan dijemput oleh Nindira. Bukankah seharusnya ia tidak perlu melakukan itu? Bukankah apa yang sudah dia lakukan itu salah?


Air mata mulai mengalir dari salah satu ujung mata, sebelum benar-benar mengalir membasahi pipi, Riani segera mengusapnya.


Semakin dekat dengan pintu utama, pandangan mata Riani semakin buram. Air mata semakin berkumpul di balik kelopak matanya, semakin banyak dan menyerusak mengalihkan membasahi kedua pipinya.


Rasa bersalah, rasa menyesal sekaligus takut, takut jika ia tidak lagi diterima di rumah ini dan semua rasa lain yang tak bisa dijelaskan dirasakan dalam diri Riani.


Tangannya mulai mengetuk pintu, namun tak ada siapapun yang meresponnya.


Terlalu lama menunggu di depan pintu, Riani mengambil kunci rumah yang selalu ia bawa.


Suara kunci pintu terdengar menggema, Riani membuka pintu yang sudah mulai susah untuk dibuka.


Pengap, berdebu dan kotor, rumahnya benar-benar tergambat seperti yang ada dalam mimpinya beberapa waktu lalu.


"I--ibu ...." Riani mencoba memanggil ibunya, namun ia tak mendapatkan jawaban. "Mba Dwi ...."


Keadaan rumah ini sangat hening, seperti tidak ada seorang pun yang menempati rumah ini sejak lama.


Riani melihat ada mangkuk di meja makan, beberapa di antaranya sudah terdapat belatung karena terlalu lama dibiarkan di sana. Melihatnya saja Riani sudah merasa geli.


Rumah ini seketika menjadi sangat kotor, sepi seperti tak berpenghuni.


"Dimana Ibu dan Mba Dwi? Apa yang udah terjadi sampai rumah jadi seberantakan ini? Kenapa nggak ada orang juga di sini?" Riani bertanya lirih, ia mengernyitkan dahi.


Namun tiba-tiba saja ia mendengar ada suara orang yang terbatuk, Riani melihat ke atas, sepertinya suara itu berasal dari kamar utama.

__ADS_1


Langkah kedua kaki Riani segera menaiki anak tangga, ia membuka pintu kamar dan mendapati ibunya sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Kedua matanya terpejam, ia tertidur dengan keadaan kamar yang juga sama berantakannya. Riani melihat barang-barang yang berserakan di lantai dan tidak lagi ada di tempatnya, bahkan foto pernikahan yang digantung pada dinding itu juga sudah pecah berkeping-keping bingkainya.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Riani lirih.


Namun sepertinya ucapannya berhasil membuat Rita terbangun, ia membenarkan posisinya sembari membuka kedua mata.


"Riani?"


"I--ibu ...."


"Riani, kamu ... kamu beneran Riani kan?"


Riani menganggukkan kepala, ia tak kuasa menahan air matanya. Wajah cantik ibunya kini sudah berubah, tidak ada lagi wajah putih sekarang hanya ada wajah yang kusam, tidak ada lagi kulit mulu sekarang hanya ada kulit keriput dengan pipi kempot, tidak ada lagi mata yang bersinar terang sekarang hanya mata sayu dengan kantung mata yang bergelambir.


Tidak kuasa menahan air mata, Riani segera berhambur ke arah ibunya. Ia memeluk tubuh yang sudah tak terasa mempunyai daging seperti sebelumnya. Riani hanya merasakan adanya tulang yang ditutupi kulit.


Rita menggeleng pelan. "Ibu juga nggak tahu, Ni."


Pelukan pada tubuh Rita terlepas, Riani menatap wajah ibunya yang kini tampak pucat. Hati kecilnya menangis, ibu yang dulu sangat cantik kini sudah berubah drastis.


"Mba Dwi kemana, Bu? Kenapa dia nggak ada lagi di sini?"


"Dia pulang kampung, Ni." Rita terdiam sejenak. "Dwi udah nggak kerja lagi di sini, Ibu pecat dia."


"Hah? Kok bisa, Bu? Emangnya kenapa Ibu memecat Mba Dwi?"


"Usaha kost ini udah makin berantakan, Ni, pemasukan keuangan juga menipis. Jangankan buat bayar Mba Dwi, buat beli kebutuhan sehari-hari aja rasanya udah susah sekali." Rita tertunduk. "Maaf, Ibu nggak bisa pertahanin usaha ini."


"Kenapa bisa begini, Bu? Bukannya kamar kost masih ada tiga puluhan yang masih ditempati." Riani masih ingat beberapa anak kost yang masih tinggal di kost-annya yang tersebar di beberapa daerah kota ini. Meskipun jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu dan memang ada beberapa kamar kost yang sudah rusak dan dibiarkan kosong.


"Mereka semua memilih pergi," lirih Rita.

__ADS_1


"Apa?! Kok bisa?"


Rita terdiam sejenak, ia tak segera menjawab pertanyaan Riani. Pandangan matanya melirik ke kanan dan ke kiri seakan sedang mencari jawaban yang tepat, hingga beberapa detik kemudian, kedua mata yang sayu itu menatap ke arah Riani.


Rita menggelengkan kepala. "Nggak tahu juga, Ni, mereka semua pergi, sekarang hanya tersisa enam orang aja." Rita kembali tertunduk. "Apalagi banyak kamar kost yang rusak dan perlu direnovasi."


Riani menyadari hal tersebut, apalagi beberapa kost sudah cukup berumur sehingga pasti perlu perbaikan. Sedangkan sudah sejak lama ibunya tidak merenovasi satupun tempat kost, hal ini wajar terjadi. Mungkin para anak kost semakin merasa tidak nyakan karena kamar mereka rusak dan tak pernah diperbaiki, maka dari itu mereka memilih untuk keluar dan pindah ke kost yang lain.


Tidak ada perbincangan apapun di antara mereka berdua dalam beberapa menit ke depan. Riani menatap ke arah ibunya yang kini sudah banyak berubah.


"Kamu sendiri kenapa pulang? Selama ini kamu di mana, Ni?"


Mendengar pertanyaan itu, Riani hanya bisa diam. Ia malu untuk menjawabnya. Apakah ia benar-benar harus menjawabnya? Bagaimana jika ia memilih menyembunyikannya? Tapi sampai kapan?


"Apa Dwi udah bilang ke kamu?" lanjut Rita, pandangan matanya menatap ke arah Riani tajam.


Riani menggelengkan kepala, Dwi belum mengirimkan pesan atau apapun yang memberitahukan bahwa ia pergi dan ibu sendirian. "A--aku ... aku pulang karena ...."


"Karena apa?" tanya Rita tidak sabar.


"Ibu jangan marah sama Riani, ya, janji?"


Rita menganggukkan kepala. "Ibu tidak akan marah, katakan saja, Ni."


"Riani gagal jadi anak perempuan Ibu yang baik."


"Kenapa kamu ngomong gitu? Kamu bakal tetep jadi anak Ibu yang baik selamanya."


Riani menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Enggak, Bu. Ibu ngomong kaya gitu karena Ibu belum tahu, kalau Ibu udah tahu mungkin Ibu bakalan marahin Riani atau mungkin ngusir Riani lagi dari sini."


"Emangnya ada apa? Bicara yang jelas, Nak."


"Jadi ...." Riani kembali terdiam selama beberapa saat, ia merasa tidak siap untuk mengatakannya tapi ia dipaksa untuk segera mengatakan hal itu. Tangannya mengusap perut dengan lembut. "Ri--Riani ha--hamil, Bu."

__ADS_1


__ADS_2