
Langkah kedua kaki Riani menuruni anak tangga. Kemeja putih dan celana hitam sudah tak lagi melekat pada badannya, kini ia tengah mengenakan seragam restoran khusus petugas pengantar makanan.
Jaket jeans berwarna abu-abu dikenakan oleh Riani tanpa dikancing. Sembari berjalan menuruni tiap-tiap anak tangga, Riani sedikit memperbaiki penampilannya.
"Tante seneng deh kamu bisa balikan lagi sama Riani."
Bayu terdengar terkekeh. "Hehe iya, Tante. Kali ini aku pasti akan berikan yang terbaik buat Riani, aku nggak bakalan bikin Riani sedih atau kecewa. Pokoknya selama pacaran kali ini, aku akan bawa Riani ke tempat-tempat yang indah, mengatakan hal-hal baik pada Riani dan tidak akan membuat bibirnya melengkung ke bawah."
"Gimana tuh kalau bibir melengkung ke bawah?"
"Kaya gini, Tante." Tidak lama kemudian terdengar suara Rita yang tertawa disusul oleh Bayu.
"Makasih ya, Bay, kayanya cuma kamu deh cowok yang bisa deketik Riani plus deketin mamanya juga. Tante seneng deh bisa kenal sama kamu, Bay." Pandangan mata Rita melihat ke arah jalan menuju ruang tamu. "Eh, Riani udah siap." Rita beranjak dari duduknya.
Mendengar hal tersebut, Bayu turut melihat ke arah yang sama. Hal itu terjadi beberapa detik saja dan kemudian pandangan mata Bayu kembali melihat ke arah Rita. "Kalau gitu aku sama Riani berangkat dulu ya, Tan." Bayu menyalami calon ibu mertuanya.
Hal yang sama dilakukan juga oleh Riani.
Keduanya berpamitan untuk berangkat bekerja hari ini.
"Kalian hati-hati di jalan, semangat kerjanya."
"Iya, Bu."
"Siap, Tante."
Sepeda motor yang dikendarai oleh Bayu perlahan mulai menjauh dari rumah. Hari ini Bayu berangkat pagi, begitu pula dengan Riani. Kesempatan ini digunakan oleh keduanya dengan sebaik-baiknya.
"Kamu tadi ngomong apa aja sama ibuku, Bay?"
"Ya gitu lah ngobrol biasa aja. Emangnya kenapa, Sayang?"
"Aku dengernya kaya seru banget."
"Iya emang seru banget, biasalah kalau camer udah klop sama calon menantunya emang suka kaya aku sama Tante Rita gini."
Riani memukul bahu Bayu yang membuat laki-laki itu terkekeh.
"Emangnya kamu nggak mau aku sama ibu kamu secocok ini?"
"Ya mau, tapikan jangan kaya gitu."
"Kaya gitu gimana?" Bayu terkekeh.
Riani kembali memukul bahu Bayu. "Tau ah, Bay, mau ngambek."
"Hahaha, kamu malu ya, Sayang?"
Riani tak menjawab perkataan itu, ia memilih untuk diam dan menyimpan segala rasa malu dalam dirinya.
Sepeda motor melaju perlahan dengan sengaja. Bayu tidak ingin terlalu cepat di tempat kerjanya. Saat-saat di atas motor ini sudah Bayu nantikan sejak lama dan ia ingin menikmati tiap detiknya.
"Ri," panggil Bayu, kepalanya sedikit menoleh ke belakang.
"Hem?" Riani merespon singkat.
__ADS_1
"Kamu ... kenapa mau balikan sama aku?"
Riani terdiam sejenak. "Kamu kenapa nanya gitu, Bay?"
"Pengin tahu aja sih, Sayang, kan kemarin pas kamh putusin aku kayanya kamu emosi banget."
"Maaf ya, Bay."
"Maaf kenapa?" Bayu mengernyitkan dahi.
"Maaf kalau aku emosi banget sama kamu waktu itu."
Bayu tertawa ringan. "Ya nggak papa sih, Sayang, tapi aku penasaran banget deh kenapa kamu mau diajak balikan sama aku?"
"Karena ...," ujar Riani tertahan. "Kamu udah tahu lah, Bay, jawabannya apa."
"Aku pengin denger langsung dari kamu."
Mendengar hal tersebut, Riani diam cukup lama kali ini. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat daripada biasanya. Hatinya sudah berkata, namun bibirnya tak mau bergerak untuk bersuara.
Dalam dirinya mempersiapkan kekuatan untuk mengatakan jawaban itu, meskipun ada sedikit keraguan yanb menahannya.
"Karena aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Bay." Riani lantas memeluk tubuh Bayu dan belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung laki-laki itu.
Sementara jawaban dari Riani tentu saja membuat Bayu tersenyum. Dalam hatinya merasa sangat senang mendengar kalimat tersebut dikatakan langsung oleh Riani.
"Kamu nggak nyesel sama pilihan kamu kan, Ri?"
Riani menggelengkan kepala, bersamaan dengan itu ia tak lagi bersandar pada punggung laki-laki di hadapannya. "Justru aku nyesel pas lagi nggak sama kamu."
"Beneranlah, kamu nggak percaya sama aku?"
"Berarti kita bisa dong ke kampung lagi? Aku pengin buru-buru nikah sama kamu, Ri."
"Aku juga, aku mau kok, Bay."
Perbincangan keduanya terpaksa harus terhenti saat sepeda motor Bayu sudah sampai di depan restoran tempat kerja Riani. Riani turun dari sepeda motor tersebut.
"Aku kerja dulu ya, Bay, kamu hati-hati berangkatnya." Riani tersenyum. "Semangat!"
"Kamu juga semangat kerjanya, Sayang. Aku pergi dulu ya."
Riani mengangguk, pandangan matanya melihat ke arah perginya Bayu. Setelah sepeda motor itu sudah jauh dan mengecil karena jarak yang semakin banyak di antara mereka, Riani berbalik badan dan mendekat ke arah perempuan yang duduk tidak jauh di depan restoran.
"Siapa dia, Ri?" tanyanya.
"Pacar aku, Ndhis."
Gendhis mengangguk. "Tapi kok kaya gitu ya, Ri?"
"Kaya gimana, Ndhis?"
"Kaya biasa aja gitu dilihat-lihat."
Riani terkekeh. "Emang pacar akumah nggak ganteng, Ndhis. Aku juga nggak cari yang ganteng."
__ADS_1
"Eh, bukan, bukan gitu maksud aku." Gendhis segera bersuara saat menyadari ada yang salah dengan jawaban Riani. "Dilihat-lihat kaya nggak sayang sama kamu. Maaf nih, tapi yang suka duluan kamu apa dia?"
"Dia, ya mungkin emang mukanya gitu, Ndhis. Lagipula juga rasa sayang kan nggak dilihat dari mukanya."
"Iya juga sih, tapi ...." Gendhis tak melanjutkan kalimatnya. "Maaf ya, Ri." Ia merasa tidak enak hati.
"Santai aja, nggak papa kok."
Tidak lama kemudian mobil milik sang pemilik restoran datang. Keduanya masuk ke dalam restoran untuk persiapan bekerja hari ini, lantas segera menempatkan diri di posisi masing-masing.
Menjelang jam makan siang banyak pesanan yang masuk ke dalam smartphone, Riani membalasnya satu-persatu dan menyiapkan orderan dengan segera.
"Loh, Bayu?" tanya Riani, ia tersenyum saat melihat nama dan alamat tempat kerja laki-laki itu.
"Kenapa, Ri?" tanya Gendhis penasaran saat melihat perubahan ekspresi pada wajah Riani.
"Ini loh, pacar aku pesan makanan di sini."
"Kalian lucu banget ...," ujar Gendhis yang turut senang mendengarnya. "Nggak papa, Ri, sekalian ketemu walaupun sebentar."
Riani mengangguk. "Iya nih emang ada aja idenya." Ia lantas beranjak dari duduknya. "Kalau gitu aku siap-siap dulu ya."
Gendhis menganggukkan kepala menanggapi perkataan dari Riani.
Usai semua orderan disiapkan dan dimasukkan ke dalam kotak, Riani segera mengendarai sepeda motor milik restoran untuk mengantarkan berbagai pesanan.
Tidak terasa tersisa empat makanan lagi yang belum diantarkan. Riani mengecek smartphone untuk melihat kembali alamat tujuan.
"Riani," panggil seseorang.
Riani menoleh dan mendapati Nindira dengan bungkusan plastik putih di tangannya. Tidak heran jika ia bertemu dengan Nindira karena sekarang ia sedang berada di sekitar mall.
"Eh, kamu lagi apa, Ra?"
"Abis beli siomay, kamu lagi nganter makanan?"
Riani mengangguk.
Pada waktu yang sama smartphone restoran berdering.
"Halo, gimana udah lagi di antar belum?"
"Lagi nih, bentar lagi sampai kok di rumah sakit."
"Ya udah, hati-hati ya, Sayang."
"Iya, makasih banyak, Sayang, tunggu aku ya!"
Nindira mengernyitkan dahi mendengar percakapan tersebut.
"Siapa, Ri?"
"Siapa lagi kalau bukan Bayu, Ra? Pacar aku cuma Bayu doang."
"Tumben banget panggil sayang, perasaan dulu kamu pernah cerita deh kalau kamu belum terbiasa manggil sayang terus nggak bisa manggil dengan sebutan itu ke Bayu."
__ADS_1