PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Dipecat


__ADS_3

Pesan dari atasannya itu sama sekali tidak dibalas oleh Riani. Smartphone dalam genggaman tangannya kembali dimatikan.


Hari mulai sore dan Riani berjalan ke rumahnya. Kedua kakinya terus melangkah sembari menendang-nendang batu kecil yang ia temukan.


"Riani?!"


Mendengar namanya disebut, Riani melihat ke arah sumber suara. Ia mendapati Nindira yang sudah berada di depan gerbang rumahnya bersama dengan Dwi.


"I--Ira, dia nga--ngapain di sini?" lirih Riani, masih ada sekitar lima meter sebelum ia sampai di depan rumah.


Tidak mau menemui perempuan itu, Riani berbalik badan dan berlari.


"Riani, tunggu!" teriak Nindira berusaha menghentikan Riani yang sudah berlari menjauh darinya. "Aku kejar di ya, Mba Dwi." Nindira turut berlari. "Riani, tunggu aku, Ri. Ada yang pengin aku omongin ke kamu. Ri ...!"


Tak henti-henti Nindira berusaha untuk memghentikan Riani. Kedua kaki Riani yang kecil memudahkan dia untuk berlari sehingga ia tertinggal jauh dari perempuan itu.


Sementara Riani sebenarnya sudah cukup kelelahan. Sebelumnya dia tidak pernah berlari seperti ini. Keringat mulai mengalir dari pelipis dengan nafas yang tak beraturan.


Menoleh ke belakang, Riani masih melihat Nindira yang terus mengejar dirinya.


"Aduh, kenapa masih ngejar aku juga sih?!" kesal Riani yang masih terus berusaha untuk berlari.


Ia terus berlari menyusuri pinggir jalan raya, beberapa orang yang sedang berjalan ia salip dan sesekali ada yang kesal karena Riani tak sengaja menyenggol dirinya.


Merasa tidak efektif terus berada di jalan raya, Riani masuk ke dalam gang dengan harapan ia bisa sembunyi dari Nindira.


Sebenarnya ada perasan takut juga jika ia memilih jalan yang salah dan dia terjebak di dalam gang ini. Riani hanya bisa menajamkan instingnya, memilih jalanan yang tidak mungkin buntu.


Hingga akhirnya ia keluar dari gang tersebut. Sebuah sungai yang luas ada di depannya saat ini.


Saat menoleh ke belakang, Riani melihat Nindira yang sedang kecapekan. Beberapa helai rambut berwarna hitam legam yang dibiarkan terurai itu tampak menempel pada bagian wajahnya.


Nindira membungkukkan badan, kedua tangannya bertumpu pada kedua lutut. Wajahnya nampak pucat dengan peluh yang terlihat penuh.


Melihat hal demikian, Riani juga turut melakukan hal yang sama. Ia juga merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak.


Namun saat Nindira sudah kembali berdiri dan hendak berlari, Riani juga turut melakukan hal yang sama.


Keduanya kembali berlari dalam keadaan yang sama-sama sudah merasa lelah. Hal itu menjadikan keduanya terus mengulang-ulang kegiatan yang sama. Beristirahat kemudian berlari, beristirahat sejanak dan lari lagi sejenak, seakan tak pernah terhenti.


"Riani ... aku capek, Ri." Nindira mengangkat kedua tangannya, ia menyerah.

__ADS_1


"Aku juga," ujar Riani di sela nafasnya yang tak beraturan.


"Kalau kamu capek kenapa kamu nggak berhenti aja?!" kesal Nindira.


"Aku berhenti kalau kamu berhenti, kalau kamu lari ya aku juga lari lagi," jelas Riani.


Nindira menghembuskan nafas kasar. "Nggak usah ikut-ikut aku!"


"Hah? Bukannya kamu ya?"


"Kok aku?" tanya Nindira dengan dahi yang mengernyit.


"Iya kan dari tadi kamu yang ikuti aku."


"RIANI!!!"


Melihat wajah Nindira yang memerah dan terlihat begitu marah justru Riani tertawa. Apa yang dia lihat saat ini sangat lucu.


"Nggak usah ketawain aku, Ri!" kesal Nindira.


Keduanya kini duduk di pinggiran sungai.


Riani beberapa kali melemparkan kerikil-kerikil kecil ke arah sungai. Suara saat kerikil itu menyentuh air terasa sangat damai, Riani menyukai ini.


Riani menganggukkan kepala. "Aku males ketemu Tri, ketemu Difki, belum lagi kalau mereka bikin semua pegawai juga berpikiran sama kaya mereka. Malahan sekarang Bu Bos juga udah anggap aku gila."


"Iyakah?"


"Dia pecat aku tadi siang." Riani terdiam sejenak. "Lewat pesan singkat lagi."


"Ya lagian, Ri, gimana mau secara langsung kalau kamunya aja nggak pernah berangkat." Nindira berusaha menyadarkan Riani, bahwa apa yang telah dia lakukan adalah salah.


"Tapi ya gimana, Ra, aku males buat berangkat kerja."


"Tante Rita udah tahu?"


Riani menggeleng pelan. "Aku kan tiap hari selalu pergi dari rumah kaya pas berangkat kerja, terus aku pulang juga di jam biasanya aku pulang kerja."


"Terus selama jam kerja kamu di mana?"


"Di ... nggak tahu sih, nggak jelas juga. Kadang di jalanan, di mall, di danau, di taman, ya gitu deh, semau aku lagi penginnya dimana."

__ADS_1


"Ya ampun, Ri, sekarang kamu udah dipecat gini terus mau apa? Cari kerja itu susah loh, Ri."


Riani kembali menggelengkan kepalanya dengan lemah, wajahnya terlihat pasrah. "Aku juga bingung, Ra. Mungkin bakal nganggur sampai dapat kerjaan lagi. Aku juga bingung gimana ngomongnya ke Ibu." Riani menoleh ke arah Nindira yang sedang memperhatikan dirinya. "Aku takut dia marah."


"Kalau kamu jelasin yang sebenarnya, Tante Rita nggak bakal marah kok, Ri. Mama aku juga gitu."


"Kan beda, Ra."


"Ya kamu coba aja dulu, aku yakin Tante Rita nggak bakalan marah sama kamu."


"Nah, aku juga yakin kalau ibuku nggak bakalan marah sama aku, Ra."


"Terus?" tanya Nindira dengan ekspresi wajah yang penuh tanya.


Riani menundukkan kepala. "Aku takut ibuku marah ke Tri and the gang atau ke Difki kalau aku certain yang sebenarnya. Bisa-bisa mama aku permasalahin ini sama mereka, kalau sampai kaya gitu kan aku makin malu, Ra, malah nanti jadinya mereka tambah ngata-ngatain aku."


Mendengar penjelasan dari Riani, Nindira terdiam. Apa yang dikatakan oleh Riani benar. Ia tak menyangka jika Riani bisa berpikir sampai sejauh itu.


"Terus rencana kamu bagaimana?"


Riani menggelengkan kepala. "Kamu tadi bilang ke Mba Dwi kalau aku sering nggak berangkat kerja?"


"Belum sih, tadi aku cuma baru nanya Rianinya ada nggak di rumah gitu. Aku belum ngomong apa-apa lagi."


"Syukurlah, jadi besok aku masih bisa berpura-pura berangkat kerja lagi."


Nindira menempatkan salah satu tangannya pada bahu Riani. Tak ada sepatah-kata pun lagi yang bisa dia ungkapkan.


Hari mulai petang, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.


"Ibu di mana, Mba?" tanya Riani sembari mengambil gelas dari dalam rak.


Sejak kepulangannya sore tadi, Riani belum melihat keberadaan ibunya.


Aroma wangi ayam kecap buatan Dwi sudah mulai tercium harumnya meskipun belum matang sempurna. Perempuan itu menoleh ke arah Riani. "Lagi ke rumah Pak Abdul."


Riani mengernyitkan dahi. "Ngapain?"


"Katanya sih ada urusan," ujar Dwi yang lantas melanjutkan memasak.


"Kaya jadi sering banget Ibu ke rumah Pak Abdul."

__ADS_1


Riani mendudukkan tubuhnya di kursi makan. Usai meneguk air dalam gelas, Riani membuka smartphone-nya.


Riani: Sel, ibuku ada di situ?


__ADS_2