PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Alga


__ADS_3

Riani membuka mata dengan nafas yang tersengal-sengal. Melihat ke sekitar, ia mendapati dirinya berada dalam kamar dengan Bayu di sampingnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bayu yang terlihat sangat khawatir. Ia mengambil segelas teh panas dan membantu Riani untuk meminumnya.


Usai merasa cukup, Riani menjauhkan mulutnya dari gelas besar itu.


Rasa teh yang manis dengan wangi melati yang menenangkan membuatnya lebih baik.


Tangan Riani menjulur ke samping. Ia masih kesulitan berbicara karena nafasnya masih tak beraturan.


"Tenangkan dulu, Sayang, baru kamu bicara pelan-pelan," ujar Bayu yang kemudian menurunkan tangan Riani.


Menuruti apa yang dikatakan oleh Bayu, Riani menghirup nafasnya dalam-dalam, lantas menghembuskannya perlahan-lahan. Dengan melakukan hal demikian, ia merasa lebih tenang dan jauh lebih baik daripada sebelumnya.


"A--ada se--sesuatu di--di kolam," ujar Riani terbata-bata. Tangannya kembali terjulur ke arah kamar mandi berada.


"Apa ... apa yang kamu lihat, Ri?"


"Se--seperti rambut."


Bayu memeluk tubuh kekasihnya dengan erat. "Tadi aku nemuin kamu pingsan di kamar mandi, Ri," jelas Bayu yang masih terus memeluk Riani. "Aku khawatir banget sama kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa."


Mendengar hal tersebut, Riani justru merasa sedih. Ada perasaan bersalah dalam hatinya karena sudah membuat Bayu merasa khawatir.


Tanpa bisa ditahan, air mata mulai mengalir dari kedua ujung matanya. Riani tak bisa menahan tangisannya.


"Kamu kenapa nangis, Sayang? Kamu takut banget ya?" Kedua tangan Bayu masih berada di kepala Riani.


Tak ada sepatah katapun yang bisa diucapkan oleh Riani saat ini. Ia hanya bisa menganggukkan kepala.


"Aku ada di sini, Ri. Kamu tenanglah." Bayu kembali memeluk Riani.


"Aku nggak mau ke kamar mandi lagi, Bay," jelas Riani yang masih saja terisak.


Seharian ini, Riani menahan diri untuk tidak ke kamar mandi. Jika ia ingin buang air, ia memilih ke kamar mandi yang sebenarnya cukup jauh dari rumah, tapi di sana lebih baik menurut Riani. Tidak ada kolam besar yang menyeramkan itu.


Saat pulang dari kamar mandi usai membersihkan diri, Riani berjalan pulang dan bertemu dengan beberapa warga desa. Tampilan mereka lusuh, bajunya kotor dan tidak memakai sandal. Mereka sepertinya baru kembali dari kebun atau sawah tempat mereka bekerja.


"Nduk ... Nduk ...."


Riani menoleh ke arah sumber suara, ia melihat seorang perempuan yang kurus sedang melambaikan tangan. Merasa dirinya dipanggil, Riani mendekat.


"Ada apa, Bu?"


"Kamu mahasiswa yang lagi KKN di sini?" tanyanya.


Riani menggeleng. "Bukan," ujarnya disusul dengan tawa kecil. "Aku pacaranya Bayu."

__ADS_1


"Bayu siapa?"


"Bayu itu yang depan rumahnya ada pohon mangga."


"Oohh, anaknya Siti?"


"Bukan," ujar Riani yang lantas menggelengkan kepala. "Bayu anaknya Pak Suwiryo sama Ibu Utari."


"Ya ampun, Nduk, ya itu mah Bayu anaknya Siti."


'Siti?' Riani mengernyitkan dahi. 'Oh mungkin nama lengkap ibunya Bayu itu Siti Utari,' pikirnya.


Riani terkekeh mendengar tanggapan perempuan itu.


"Kirain kamu mahasiswa yang lagi KKN. Tadinya mau nawarin ini loh dagang ibu, ada rujak, ketoprak, kupat tahu, soto ayam, gorengan segala macam. Tapi yang paling best seller sih gorengan, Nduk."


"Best seller?" Riani terkekeh mendengarnya.


"Hahaha, tua begini Ibu tahu artinya yang paling laku, kan?"


Riani mengangguk masih dengan kekehannya. "Tahu darimana, Bu?"


"Dari mahasiswa-mahasiswa itu." Pandangan matanya melirik ke arah lengan Riani. "Eh, Nduk, sekarang jam berapa?"


Memeriksa jam yang ada di pergelengan tangan kiri, Riani melihat waktu menunjukkan pukul lima kurang lima menit.


"Hampir jam lima, Bu?"


"Oh, iya nggak papa, Bu." Riani mengangguk.


Tanpa beralih dari tempatnya berdiri, Riani memperhatikan wanita itu yang tampak terburu-buru.


"Riani, Riani!" Bayu terlihat berlari mendekat. "Huh, kamu mandi aja lama banget?! Ini udah mau jam lima, ayo buruan!"


Tanpa menunggu Riani mengatakan sesuatu, Bayu segera menggandeng tangan perempuan itu.


Langkah kedua kaki mereka dengan cepat menuju kembali ke rumah. Sementar Riani yang masih merasa bingung memilih untuk menahan diri tidak bertanya.


"Mandi kok lama banget, Nduk?"


"Hehe, iya, tadi ngobrol dulu, Pak."


"Diajak ngobrol sama Bi Sopirah." Bayu menambahi. "Untung aku lihat, jadi langsung aku ajak pulang."


"Namanya juga baru di sini, Bay, kamu belum ngasih tahu?"


Dahi Riani mengernyit mendengar percakapan itu. "Emangnya kenapa, Pak?"

__ADS_1


"Desa ini angker, Nduk," ujar Utari yang baru datang dari dapur dengan membawa ubi rebus. Ia duduk di sebelah Riani.


Suara anak-anak yang merupakan adik-adik Bayu terdengar di backsound.


"Angker?" tanya Riani, dahinya semakin mengerut.


Utari mengangguk saja, tak menjelaskan apapun lagi.


"Makannya ada peraturan di desa ini kalau jam lima sore itu sudah harus masuk ke dalam rumah," jelas Suwiryo. "Tapi kalau sudah lewat jam tujuh, orang-orang udah boleh keluar, cuma ya gitu, nggak banyak orang yang keluar kalau cuma mau santai. Kebanyakan milih di dalam rumah, capek, pada istirahat nyiapin tenaga buat besok kerja lagi."


Utari beranjak dari duduknya, ia lantas menekan saklar lampu.


"Kenapa dimatikan?" tanya Riani yang melihat ke bagian halaman berubah seketika menjadi gelap sesaat setelah Utari menekan saklar.


"Ini juga salah satu peraturan," jawab Suwiryo. "Biar rumah kita nggak jadi sasaran."


"Sasaran ... apa?"


"Demit, Ri. Kamu nggak tahu demit? Setan." Bayu menjawab dengan nada kesal.


Sementara Riani hanya mengangguk-anggukkan kepala.


Suara anak-anak sudah tidak lagi terdengar. Mungkin mereka tertidur setelah seharian bermain.


"Jadi kapan kalian menikah?" tanya Suwiryo sembari menerima ubi rebus yang sudah dikupas dari Utari.


Riani yang tengah menyesap teh sedikit terbatuk karena tersedak.


"Menurut Bapak kapan?"


"Kalau menurut Bapak ya secepatnya," ujar Suwiryo dengan nada santai. "Bukankah lebih cepat lebih baik?"


Bayu mengangguk setuju. "Aku pikir juga begitu, Pak."


"Emangnya kamu udah siap?"


"Siap, Pak," jawab Bayu mengangguk pasti. "Aku sudah punya pekerjaan di kota, uang tabungan juga masih ada sisa buat resepsi pernikahan."


"Bagus lah kalau kaya gitu, Bay." Suwiryo beralih kepada Riani. "Gimana denganmu, Nduk?"


"Ehm ...." Riani tak langsung menjawab. "Sebenarnya belum siap."


"Tapi kalau dilakukan sekarang nggak papa kan, Pak?" tanya Bayu dengan nada suara yang lebih kecil, namun Riani masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Suwiryo mengangguk. "Apa kamu udah yakin sama Bayu dengan kondisinya yang seperi ini? Adik-adiknya masih kecil, Bapaknya udah tua, rumahnya kaya gini, kamu emang mau sama Bayu, Nduk?"


Riani terdiam dalam kebimbangan. Hal ini benar-benar di luar prediksi. Riani tak menyangka jika pertemuannya dengan kedua orang tua Bayu akan membuat menciptakan sebuah percakapan yang seserius ini.

__ADS_1


Mengingat tanggapan ibunya yang sangat setuju dengan Bayu, Riani menganggukkan kepala. "Saya menerima Bayu apa adanya, Pak." Hal tersebut dia lakukan karena tidak ingin mengecewakan ibunya.


Suwiryo tersenyum. "Kamu beruntung." Pandangan matanya melihat ke arah Bayu, lantas kembali lagi ke arah Riani. "Dia beruntung."


__ADS_2