
"Emang kamu mimpi apa, Ri?"
Riani mulai menceritakan bagaimana mimpinya semalam dengan sejelas-jelasnya kepada Bayu. Ia ingin laki-laki itu paham dengan benar apa yang telah terjadi dalam mimpi Riani.
Usai Riani menceritakan semua yang terjadi dalam mimpi semalam, Bayu tersenyum dan mendekat ke arah Riani. Ia memberikan pelukan kepada perempuan itu selama beberapa saat.
"Aku nggak mungkin lah kaya gitu, Sayang. Emang bener aku sayang banget dan cinta banget juga sama kamu, tapi aku nggak mungkinlah minta kamu buat kasih kehormatan kamu ke aku. Lagipula ya, kalau yang bener-bener sayang dan cinta itu justru menjaga pasangannya, bukannya malah merusaknya."
"Aku percaya kok sama kamu, Bay. Tapi ... pas pertama bangun aku lihat kamu nggak pakai baju."
Bayu terkekeh. "Kamu pake baju nggak?"
"Pake," jawab Riani singkat sembari menganggukkan kepala.
"Ya udah berarti aman kan, Sayang?" tanya Bayu. "Aku emang kalau tidur lebih nyaman nggak pakai baju, tapi tetep pake celana pendeklah, nggak malahan nggak pake apa-apa gitu aja."
Riani menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Emang nggak dingin?'
"Nggak," ujar Bayu, menggelengkan kepala. "Justru kalau pakai baju malah gerah banget, keringetan gitu."
"Iya aku juga kadang gitu."
"Tapi kamu jangan tidur buka baju juga, Ri," ujar Bayu dengan cepat.
Membayangkan hal tersebut, Riani terkekeh. "Ya nggaklah, Bay, paling aku turunin AC-nya."
"Iya itu lebih baik daripada kamu tidur buka baju." Bayu menghentikan kalimatnya sejenak. "Aku pernah baca ada kasus perempuan yang disukai sama jin gara-gara suka pake pakaian seksi."
"Oh, aku juga pernah denger, malahan ada juga yang sampe dijilati bagian tubuhnya yang nggak ketutup."
"Makannya kamu jangan gitu, Sayang, kamu mau disukai jin?"
"Nggaklah, amit-amit."
"Mending disukai aku aja, ya nggak?" Bayu mengedipkan salah satu matanya.
"Apaan sih, Bay?!" Riani menyembunyikan wajahnya yang sedang tersipu malu.
Pintu kamar terdengar diketuk oleh seseorang. Bayu yang berada paling dekat dengan pintu segera membuka pintu yang tertutup itu.
Rupanya Manda sudah selesai merapikan barang bawaannya, ia berdiri di depan pintu dengan ransel merah yang ia gendong di belakang punggungnya.
"Eh, kamu udah selesai? Kenapa nggak kirim pesan dulu?"
"Apaan orang aku udah ngirim pesan ke kamu, cek dong HP-nya. Aku sampai nunggu kalian di lobby lama banget."
__ADS_1
"Hah? Kamu udah sampai ke lobby?" tanya Bayu terkejut, namun setelah itu ia terkekeh.
Sementara Manda justru kesal dengan Bayu. "Udahlah, kalian berdua lama banget."
Dari tempat Riani berdiri, ia juga terkekeh kecil, apalagi saat melihat wajah kesal Manda.
Ketiganya sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke pusat perbelanjaan. Kali ini Bayu yang mengendarai mobil bergantian dengan Manda. Riani duduk tepat di sebelah Bayu sementara Manda sendirian di belakang.
Jalanan pagi ini padat merayap dengan kendaraan pribadi yang mendominasi. Bayu mengemudikan mobilnya dengan perlahan hingga tiba di tempat tujuan.
Matahari sudah bersinar terik dan hampir sejajar dengan ubun-ubun manusia.
Mobil yang ditumpangi oleh mereka bertiga terparkir di tempat parkir sementara ketiganya berjalan kaki menuju ke tempat tujuan yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Beberapa pengunjung lain juga melakukan hal serupa.
Ada banyak pejalan kaki di sini yang membuat berjalan-kaki menjadi lebih menyenangkan. Sepanjang perjalanan, Bayu terus menggandeng tangan Riani. Keduanya membiarkan Manda berjalan terlebih dahulu di depan.
"Panas banget," ujar Riani sembari mengangkat tangan kanannya untuk sedikit menghindari sinar matahari.
Manda yang berjalan di depan menoleh, ia menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa, Man?" tanya Bayu yang juga memperlambat langkah kakinya.
"Aku mau ke sana, ya, nanti kita ketemu lagi aja di parkiran tadi."
Bayu menganggukkan kepala. "Ya udah, jam satu udah di parkiran ya?"
"Siap!"
Sementara itu Bayu dan Riani masih terus berjalan ke arah yang sama.
"Kamu mau beli kacamata nggak, Sayang?" tanya Bayu saat melihat penjual kacamata pada jarak sekitar lima meter di hadapan mereka.
Riani menganggukkan kepala. "Boleh, yuk, coba lihat-lihat ke sana."
Dua kacamata hitam dibeli oleh mereka berdua dengan model yang sama. Sekarang siang hari yang terik tidak terlalu membuat kedua mata mereka sakit. Keduanya melanjutkan mencari barang-barang yang mungkin akan mereka jadikan cendera mata.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang dan ketiganya sudah kembali berkumpul di dalam mobil dengan cendera mata yang sudah mereka dapatkan. Kali ini Manda yang bertugas menyetir mobil duduk di depan sendirian sementara Bayu dan Riani berdua di belakang.
"Sini aku bantu atur kursi kamu," ujar Bayu dengan penuh pengertian.
Sekarang jauh lebih baik, Riani bisa setengah merebahkan tubuhnya selama perjalanan pulang.
Awal perjalanan mereka bertiga masing bercanda dan tertawa sembari menikmati alunan musik dan juga makanan ringan yang sudah mereka beli tadi. Ketiganya sangat menikmati perjalanan dan tidak ingin menyia-nyiakan sedetikpun pengalaman liburan kali ini.
Setelah satu jam berlalu, Riani mulai menyandarkan tubuhnya. Indra pendengarannya masih tetap menikmati alunan musik indie yang menenangkan pikirannya dan kedua matanya mulai terpejam.
__ADS_1
Liburan kali ini menyenangkan sekaligus melelahkan, kejutan liburan ke pantai yang indah dengan deburan ombak dan pasir putihnya, hotel yang bagus pilihan Bayu dan konser musik yang bisa dinikmati oleh Riani secara gratis, jalan-jalan di pusat perbelanjaan yang ramai dengan tangan yang terus bergandengan dan tawar-menawar dengan membanting harga hingga mendapat harga semurah mungkin, semua pengalaman ini ingin tetap tersimpan dalam memori ingatan.
Setelah berstirahat seharian, hari ini waktunya Riani untuk kembali ke rutinitas pekerjaannya. Jam tujuh pagi, Riani sudah duduk di depan cermin sembari mengaplikasikan lipstik berwarna nude pada bibirnya.
Beranjak dari duduknya, Riani mengenakan jaket jeans dan mengambil tas selempang berwarna putih dalam lemari tas. Langkah kakinya berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga, lantas menuju ke ruang makan.
"Tumben Ibu belum ada di sini," ujar Riani sembari mendudukkan tubuhnya.
"Nyonya masih di kamar kayanya, Non."
"Belum bangun?" tanya Riani dengan mnegernyitkan dahi.
"Belum, semalam Nyonya Rita pulang jam setengah satu."
"Malem banget, habis dari mana emangnya, Mba?"
Suara klakson sepeda motor membuat Riani segera beranjak dari duduknya. Langkah kakinya terayun cepat menuju halaman depan.
"Bekalnya, Non," teriak Dwi dari dapur.
Riani tak menanggapi teriakan asisten rumah tangga dalam rumahnya, ia terus berjalan keluar.
Terlihat Bayu yang masih duduk di atas sepeda motornya. Riani melangkah mendekat.
"Berangkat sekarang aja yuk, aku udah mau telat, nih," ujar Bayu saat ia sudah melihat Riani berjalan ke arahnya.
"Oh, ya udah deh." Riani berbalik badan dengan maksud mengambil bekal makanannya, namun ia mendapati Dwi yang sudah berada di ambang pintu rumah. "Makasih ya, Mba."
"Hati-hati, Non." Dwi menatap ke arah Riani yang sedang berjalan ke arah Bayu. "Jaga Nona Riani ya, Bay.
"Siap!" Bayu memberikan sikap hormat.
Hari ini Riani membawa cukup banyak barang, ia ingin memberikan beberapa cendera mata untuk atasan dan beberapa teman kerjanya.
Sepeda motor Bayu melaju dengan sedikit lebih cepat daripada biasanya, beberapa kendaraan di depan disalip begitu saja. Meskipun sedikit ketakutan, namun Riani menganggap ini wajar karena Bayu sedang terburu-buru.
Beberapa menit berlalu, mereka akhirnya sampai di restoran. Riani turun dari sepeda motor itu dan memberikan helmnya kepada Bayu.
"Kamu hati-hati ya, Bay."
Bayu mengangguk sembari tersenyum. "Kamu semangat kerjanya."
"Kamu juga."
Riani mengiring kepergian Bayu dengan lambaian tangan, saat Bayu sudah semakin jauh dan tidak lagi terlihat, Riani berbalik badan namun dengan segera menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Gendhis, kamu bikin aku kaget aja!" ujar Riani kesal.
Sementara Gendhis justru terkekeh. "Cie yang habis liburan, mana oleh-olehnya?" Gendhis menghentikan kalimatnya, ia menatap ke arah Riani dan memperhatikan perempuan di depannya dengan seksama. "Kok kamu kaya pucet gitu, Ri, kelihatannya juga nggak semangat banget, kamu sakit?"