PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Sama Saja


__ADS_3

Layar smartphone menyala dengan kecerahan seratus persen. Mungkin kecerahan layar itu diatur secara otomatis menyesuaikan cahaya yang diterima.


Kunci layarnya belum aktif sehingga pada saat dibuka, Riani bisa melihat dengan jelas apa yang baru saja dilihat oleh Nindira.


Nampaknya Nindira sedang membuka akun sosial medianya dan mencari sebuah akun yang khusus membahas tentang pegunungan. Sebuah foto puncak gunung yang gagal ia kunjungi terpampang jelas di permukaan layar smartphone.


Riani hanya bisa tersenyum simpul. "Ternyata kamu sama aja, Ra."


Dalam hati Riani bisa merasakan kekecewaan yang dialami oleh ketiga temannya, ia semakin merasa bersalah.


"Ri, kamu udah pergi?" ujar Nindira dengan sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.


Pandangan mata Riani beralih ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Beruntungnya dia karena Nindira belum keluar dari ruangan itu.


"I--iya," jawab Riani dengan sedikit terbata-bata. "Ini baru mau pergi."


"Kalau mau pergi tutup pintunya ya, Ri."


"Iya, Ra."


Riani beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar sembari menggatungkan tas selempang pada salah satu bahunya. Sesuai dengan apa yang sudah dikatakan oleh Nindira, Riani menutup pintu kamar kost tersebut.


Jalanan siang ini sangat padat, beberapa penjual minuman dingin turut memadati jalan yang tengah macet.


Tangan kanan Riani dikibaskan, secuil angin yang ada karena kibasan tangannya sudah cukup membuat Riani sedikit lebih segar.


"Duh, lama banget lagi," ujar Riani melihat ke arah jalanan di samping angkutan umum yang ia tumpangi.


Sebuah bus berukuran tiga perempat itu juga penuh akan penumpang dan penjual asongan. Beberapa kali Riani ditawari makanan dan minuman, beberapa kali juga ia menolaknya.


Berbeda dengan kondisi jalanan, rumah sakit tampak lengang.


Langkah kaki Riani berjalan cepat menuju ke sebuah ruangan yang sudah diberitahukan oleh Sella sebelumnya. Ia merasa tak sabar untuk melihat keadaan ibunya.


Tanpa terasa air mata menetes dari kedua ujung mata, Riani merasa bersalah, ia merasa bersalah dengan semua orang yang ada di dekatnya.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu, perempuan itu kini sudah berdiri di ambang pintu.


Alat-alat rumah sakit menyala terhubung dengan beberapa bagian tubuh milik ibunya. Terlihat kedua mata Rita telah terbuka, tapi terus terbuka tanpa sedikitpun berkedip dalam waktu yang lama.


"Bu ...." Riani berhambur memeluk tubuh yang terbaring di atas ranjang khusus pasien itu.


Riani bisa merasakan dada ibunya yang naik turun, ia juga bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang.


"Bu ... Ibu kenapa? Ibu lihat apa?" Riani turut melihat ke arah mata ibunya memandang, tak menemukan apapun. "Ibu kenapa bisa seperti ini, Bu?"


Tangis Riani semakin kuat, di atas tubuh ibunya yang tak sedikitpun bergerak Riani terus menangis.


Tak lama kemudian, ia baru sadar dengan apa yang sebaiknya harus ia lakukan. Riani keluar dari ruangan untuk memanggil bantuan.


Dua orang perawat datang, mereka masuk ke dalam ruangan disusul oleh Riani. Ia melihat ibunya disuntik dan kemudian kembali tak sadarkan diri.


"Mohon tunggu sekitar satu atau dua jam lagi dan terus pantau kondisi pasien."


Riani menganggukkan kepala dan dua orang perawat itu meminta diri.


Kedua mata Rita terbelalak seperti ketakutan, bibirnya sedikit terbuka dan tubuhnya beberapa kali terpantul di atas ranjang.


"Bu ... Ibu kenapa?" tanya Riani yang segera menghampiri ibunya. Riani melihat ke arah yang sama seperti yang dilihat ibunya, ia hanya melihat dinding putih tanpa sesuatu apapun di sana. "Bu?! Biar aku panggil dokter."


Riani bergegas keluar dari ruangan untuk memberitahukan petugas kesehatan.


Apa yang dialami oleh Rita saat ini sama seperti beberapa bulan yang lalu. Hal ini menciptakan sebuah pertanyaan dalam kepala Riani.


Smartphone yang sedari tadi berada dalam genggaman dinyalakan. Ia lantas mencari nomor kontak dengan nama Dwi dan berusaha untuk menghubunginya.


Satu kali, Dwi tak mengangkat panggilan suara dari Riani. Dua kali, tiga kali, hingga sepuluh kali Riani sudah berusaha untuk melakukan panggilan suara, namun Dwi tak pernah mengangkat panggilan itu.


Riani menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lantas menoleh ke dalam ruangan tempat ibunya yang terbaring di dalam dan kini dengan keadaan kedua mata yang sudah kembali terpejam.


Perut Riani berbunyi, ia merasa lapar. Baru kali ini ia ingat jika belum makan sedari pagi.

__ADS_1


"Soto atau ketoprak mungkin enak," ujar Riani yang lantas beranjak untuk mengambil uang.


"Riani ... Riani ...."


Mendengar namanya dipanggil berulang kali, Riani menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati Nindira yang setengah berlari ke arahnya.


"Nindira?" Riani melihat perempuan itu semakin jelas seiring dengan jaraknya yang semakin dekat. "Kamu mau apa ke sini?"


"Ketemu kamu lah," ujar Nindira dengan begitu ceria. "Nih!" Perempuan itu menyodorkan kedua tangannya dengan dua bungkusan plastik.


"Apa ini?" Riani mengernyitkan dahi, menerima kedua bungkusan itu.


"Kamu pasti belum makan kan? Tadi aku masak buat kamu, kita makan sama-sama di dalam yuk."


Riani mengintip sedikit ke dalam bungkusan yang masing-masing berisi satu kotak makan dan sebitol air mineral. "Maaf aku jadi ngerepotin kamu, Ra."


"Sama sekali nggak kok, Ri."


"Ya udah, ayo masuk, kita makan bareng di dalam."


Riani dan Nindira duduk saling bersebelahan di sofa. Di atas kedua paha mereka sudah ada satu kotak makan dengan isi yang sama. Nasi, sayur cesim dan telur goreng lengkap dengan sambal yang dibungkus terpisah menggunakan plastik kecil.


"Kamu pintar masak juga ya, Ra," ujar Riani usai menyantap suapan pertama. "Ini enak banget loh, kamu belajar dari mana?"


Nindira tersipu malu. "Awalnya aku nggak bisa masak, tapi keadaan memaksa, hahaha. Kamu tahu kan aku nge-kost, jadi untuk menghemat biaya pengeluaran aku milih masak sendiri, lebih hemat juga ternyata sekali masak bisa buat seharian."


"Aku iri sama kamu yang bisa mandiri, Ra." Riani tersenyum kaku.


"Nggak perlu kaya gitu, Ri. Aku melakukan ini juga karena terpaksa buka karena suka-suka. Kalau aku masih sama orang tua pun mungkin aku nggak mandiri seperti ini."


Riani seketika teringat dengan gambar yang ia lihat di smartphone Nindira tadi siang. "Ehm, kamu ... orangnya emang suka alam gitu ya?"


"Iya, dari dulu," ujar Nindira menganggukkan kepala. "Pas SD aku udah ikut kemah, SMP sama SMA juga aku aktif di ekstrakulikuler pramuka. Nggak cuma itu, aku juga ikut organisasi pecinta alam di luar sekolah. Semua yang berhubungan dengan alam itu menyenangkan."


Riani menganggukkan kepala beberapa kali, mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Nindira. "Kamu kemarin ngarep banget ya bisa ke puncak?"

__ADS_1


__ADS_2