
Perempuan yang tadi berhasil mengejutkan Riani berjalan lurus hingga ke bilik terakhir, ia membuka pintu dan masuk ke dalam sana.
"Loh, bukannya ... tadi ada orang nangis di situ ya?" Riani mengernyitkan dahi.
Kali ini rasa penasaran Riani tak dapat tertahankan lagi. Perlahan tapi pasti langkah kaki Riani mendekat ke arah bilik tersebut.
Tiba-tiba saja pintu bilik terbuka. "Eh!" Perempuan itu keluar sembari merapikan bajunya.
"Eh, ma--maaf," ujar Riani yang merasa tidak enak hati. "Ta--tadi--"
"Bilik di sebelah kosong kok," ujar perempuan itu memotong kalimat Riani yang terbata-bata.
Tidak ingin dianggal buruk oleh orang lain dan ingin menyampaikan apa yang baru saja telah ia alami, Riani tetap berusaha untuk berbicara. "I--iya tahu, ta--tapi bu--bukannya di sini ada--"
"Orang nangis?" tanya perempuan itu kembali memotong perkatan Riani.
Riani segera menganggukkan kepala.
Perempuan dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai itu tersenyum. "Kamu denger dia?"
"Maksudnya?" Riani mengernyitkan dahi."
"Iya, kamu denger ada yang nangis di sini kan?"
Riani menganggukkan kepala. "Iya tadi."
"Biasa itumah emang penunggu toilet ini." Perempuan itu lantas berbalik badan, ia memandang pantulan dirinya sendiri pada cermin.
Beberapa helai rambut yang berada di depan dada ia pindahkan semuanya ke belakang. Bersamaan dengan itu terlihat kilau kalung emas dengan bandul bergambar hati yang dihiasi beberapa permata.
"Kamu ... nggak takut?" tanya Riani kemudian.
Perempuan itu menghentikan kegiatannya yang tengah memperbaiki penampilan, ia melihat ke arah Riani sejenak.
Perempuan itu terkekeh. "Nggak lah, lagian juga kalau disamperin dia ilang. Sebenarnya kita manusia sama mereka itu sama-sama takut, tapi kalau kamu takut terus mereka tahu, mereka bakal lebih parah godain kamu. Makannya beraniin aja!"
"Tapi kayanya aku nggak bakal bisa seberani itu." Riani tersenyum kaku.
"Nggak papa, pelan-pelan juga nanti terbiasa." Ia mengambil sesuatu di dalam tas selempangnya. "Kemarin aku denger ada suara cewek nangis juga di sini, aku ketok pintunya aku tanya kenapa nggak ada jawaban, pas aku buka pintunya ternyata nggak kekunci dan aku nggak lihat ada siapa-siapa di sini."
Riani menganggukkan kepala beberapa kali. "Nyali kamu gede banget."
"Biar kutebak, tadi kamu lagi ketakutan ya makannya kamu kaget lihat aku?"
Riani terkekeh, ia merasa malu karena ketahuan. "Iya, aku mau keluar tadi. Tapi pas lihat kamu masuk kesitu nggak jadi."
__ADS_1
"Kenapa nggak jadi? Aku sengaja lagi masuk ke situ." Ia menggerakkan dagunya ke arah bilik dengan pintu yang sudah terbuka. "Aku udah nebak kamu lagi ketakutan, makannya aku masuk kesitu biar kamu tahu kalau itu bukan manusia."
"Tapikan kalau kaya gitu aku jadi makin takut."
"Iyakah? Harusnya kamu jadi berani dong, kan pas aku buka pintunya juga nggak ada apa-apa, aku juga nggak kenapa-kenapa, nggak malah aku mati di dalam kan?"
Riani menganggukkan kepala, apa yang dikatakan oleh perempuan di hadapannya memang benar. Ia masih tetap baik-baik saja.
"Aku keluar dulu ya," ujarnya sembari memasukkan lipstik ke dalam tas selempang.
Bibir yang semula pucat kini sudah terlihat berwarna nude sedikit oren. Perempuan itu tersenyum, lantas keluar.
Riani menoleh sejenak ke arah bilik tadi, ia merasa bulu kuduknya kembali berdiri mengingat hanya ada dirinya di sini.
"Kenapa lama sekali?" tanya Bayu yang lantas beranjak dari duduknya.
"Iya, aku ngobrol dulu sama cewek tadi."
"Oh." Bayu mengangguk.
Keduanya lantas kembali ke ruangan.
Berangkat siang adalah hal yang paling malas bagi Riani. Ia sudah terlalu asyik menjalani pagi seperti sedang belibur, namun di siang hari ia dipaksa untuk pergi bekerja.
Bedak padat yang telah ia gunakan diletakkan di dalam tas, ia akan membawanya agar bisa touch up kapan saja.
Hari ini seragam yang dikenakan oleh Riani berwarna peach, ia mengambil salah satu produk lipstik yang mempunyai warna hampir mirip dengan seragamnya.
Melihat pantulan wajahnya di cermin, Riani tersenyum. "Cantik banget aku."
Usai mengenakan sepatu dengan heels tiga sentimeter berwarna putih, Riani keluar dari kamar. Ia menenteng tas hitam dan jaket berwarna moka yang tidak terlalu tebal.
Baru saja menutup pintu kamar, Riani sudah dibuat mengernyitkan dahi. Pasalnya ia di rumah hanya sendirian, ibunya masih di rumah sakit bersama dengan Mba Dwi dan juga Bayu, tapi ia mendengar ada suara orang beraktivitas di dalam ruangan yang ada di depan kamarnya.
Ruangan itu jarang dimasuki oleh Riani, ayah, ibu dan juga Dwi. Ruangan itu selalu terkunci pintunya.
Pernah suatu hari Riani masuk ke dalam ruangan itu tanpa sengaja, tidak ada apapun di dalam sana kecuali barang-barang yang unik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Dari penjelasan Rita, Riani mengetahui jika ruangan itu adalah tempat penyimpanan barang unik dan antik karena ayahnya sangat tertarik dengan barang-barang seperti itu.
Tapi ... siapa yang sekarang ada di dalam? Kenapa ada suara aktivitas seseorang di dalam sana?
Tangan Riani sudah berada di gagang pintu, namun tiba-tiba smartphone-nya berdering.
"Halo, Ra, kenapa?"
__ADS_1
"Kamu jadi nanti malam ke kost aku kan?"
"Iya, Ra, nanti malam sekalian balikin tas."
"Oke, kamu berangkat siang?"
"Iya, kamu juga kan?"
"Iya ini mau berangkat."
"Ya udah, sampai jumpa nanti."
Panggilan suara terputus, melihat ke arah waktu di atas layar Riani menyadari jika ia hanya mempunyai sisa waktu lima belas menit lagi untuk segera sampai di mall.
Langkah kaki Riani bergegas menuruni tangga, ia lupa dengan suara yang membuat rasa penasarannya meningkat beberapa waktu sebelumnya.
"Eh ... lihat tuh, dia yang dulu ngomong sendiri kan?"
"Iya, tapi katanya dia lagi ngomong sama Fella."
"What?! Serius?! Fella kan udah--"
"Ya makannya itu, cuma dia yang bisa lihat."
"Gila!"
Riani tak menggubris dua orang pegawai yang sedang berbisik-bisik membicarakan dirinya. Terik matahari siang ini sudah cukup membuat ia ingin segera berdiri di bawah AC, Ia tidak ingin menambah rasa panas dalam hati.
"Baru dateng, Ri?" tanya Nindira yang sedang duduk bersama Tri.
Pandangana mata Riani sedikit melirik ke arah Tri, ia tersenyum dan segera mendapatkan balasan. "Iya nih, tadi di jalan macet banget."
"Sama banget, mana bus juga penuh."
"Tadi aku nggak terlalu sih, cuma itu macet banget."
"Ke depan yuk gantian sama anak-anak shift pagi," ujar Tri yang lantas beranjak dari duduknya. Ia mengibaskan seragam yang mungkin kotor setelah duduk di atas permukaan lantai secara langsung.
"Ayo." Nindira turut beranjak. "Ayo buruan, Ri."
"Duluan aja nanti aku nyusul, aku mau taro tas sama jaket dulu," ujar Riani yang lantas membuka pintu loker.
Di sudut matanya, Riani melihat seperti ada seseorang yang sedang berdiri di dekat tembok. Rasa penasaran yang kian memuncak membuat Riani akhirnya menoleh.
Pandangan mata Riani penuh dengan kebencian. Ia merasa kesal dengan sosok yang kini berdiri di sana dengan kepala yang menunduk.
__ADS_1
Matanya tajam melirik ke arah perempuan dengan blouse berwarna biru dan celana hitam berada. "Kamu bikin orang-orang nganggap aku gila, Fella!"