PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Liburan


__ADS_3

Bulan telah berganti dan Riani berhasil mendapatkan tiga hari cuti untuk pertama kali. Bedak padat yang ada di tangannya ditutup, lantas dimasukkan ke dalam pouck make up.


"Baru pulang kok mau pergi lagi, Ni?" tanya Rita yang mendengar suara langkah kaki Riani menuruni anak tangga.


Riani tak segera menjawab, ia berjalan mendekat ke arah ibunya yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ibu lagi sibuk banget kayanya."


"Iya nih, lagi ngerekap uang kost bulan kemarin." Sejenak Rita melihat ke arah anak perempuannya. "Kamu mau ke mana, Ni? Rapih banget."


Riani melihat ke arah dirinya sejenak. Crop top berwarna putih yang dipadukan dengan outer crem sangat menyatu dengan kulitnya. Riani mengenakan celana jeans hitam dan tas shoulder mini berwarna putih menggantung pada bahu sebelah kirinya.


"Mau pergi nih, Bu, sama Bayu, lagi nunggu dia jemput dulu."


"Oh, Bayu mau ke sini? Kok kamu nggak bilang?"


Sesaat setelah Rita berkata demikian, suara mesin sepeda motor terdengar berada tepat di depan rumah. Sedetik kemudian terdengar suara klakson yang dibunyikan sekali.


"Itu dia dateng," ujar Riani yang segera beranjak dari duduknya.


Langkah kaki Riani menuruni anak tangga yang berada di teras rumah, ia membukakan gerbang untuk Bayu yang biasanya hal ini dilakukan oleh Dwi.


"Kamu mau masuk dulu?" tanya Riani.


"Ehm ...." Bayu terlihat berpikir. "Langsungan aja nggak sih? Udah sore juga, agak mendung."


"Ya udah deh," ujar Riani yang lantas berbalik badan dan masuk ke dalam rumah kembali. "Bu, aku pergi sekarang ya sama Bayu."


"Loh, Bayu nggak mau mampir dulu?" tanya Rita setengah berteriak karena Riani sudah kembali keluar dari rumah.


"Nggak, Bu."


Sepeda motor yang dikendarai oleh Bayu perlahan melaju menyusuri jalanan perumahan yang sepi tanpa ada satupun kendaraan atau orang yang melintas dengan berjalan kaki.


"Kamu udah bilang ke ibu kamu juga kan, Ri?"


Riani mengangguk. "Udah."


"Terus gimana respon Tante Rita?"


"Kata ibu nggak papa kok."


"Syukurlah."


"Iya, emangnya kita mau liburan ke pantai mana?" tanya Riani, saat itu ia hanya diberitahukan oleh Bayu bahwa mereka berdua akan berlibur ke pantai tanpa memberitahu secara spesifik pantai mana yang dimaksud.


"Nanti kamu juga tahu."


"Bay, jangan bikin aku penasaran lah."

__ADS_1


"Justru itu, Ri, kan aku pengin kasih kejutan buat kamu."


Tak ada lagi kalimat yang bisa diucapkan Riani, tapi yang pasti hatinya merasa sangat senang kali ini. Sepanjang perjalanan bibir Riani terus tersenyum seakan tak akan pernah berhenti.


Sampai di pusat perbelanjaan, keduanya segera membeli beberapa barang yang mungkin akan mereka butuhkan.


Riani membeli koper kecil, baju renang, baju santai, sepatu flat, sandal jepit, ikat rambut, sunscreen dan beberapa makanan ringan.


"Jangan terlalu banyak," ujar Bayu menginterupsi saat Riani mengambil beberapa coklat.


"Emangnya kenapa?"


"Kita bisa beli di sana."


"Tapi kan kalau di tempat wisata biasanya mahal, Sayang."


"Nggak masalah dong, Sayang, lagian kita harus membantu UMKM di sana juga."


Riani mendengus sebal. "Ya udah deh." Beberapa coklat dan makanan ringan itu dikembalikan ke dalam rak.


Hari berlalu lebih lama daripada biasanya menurut Riani. Selain rasa penasaran, ia juga ingin liburan karena sudah cukup lama ia menghabiskan waktu hanya dengan bekerja.


Hingga akhirnya tiba malam hari di mana beberapa jam lagi akan berangkat. Riani duduk di depan meja rias sembari melakukan skin care routine seperti biasanya saat tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


Riani menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. "Masuk aja," teriak Riani dari dalam.


Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka memperlihatkan Dwi yang berdiri di sana.


"Bayu udah nunggu di bawah, Non," ujar Dwi dengan sopan.


Riani beranjak dari duduknya. "Bentar lagi aku ke bawah."


"Baik, Nona Riani."


Dwi berbalik badan dan pintu kamar Riani kembali ditutup.


Sementara itu di dalam kamar Riani mengambil jaket jeans abu-abu, tas selempang dan memasukkan smartphone-nya ke dalam sana sebelum keluar untuk menemui Bayu.


"Kalian hati-hati ya, nanti, Ibu titip Riani."


Bayu mengangguk. "Tenang aja, Bu, Riani pasti aman sama aku."


"Ibu percaya sama kamu, Bay." Rita menepuk bahu Bayu dua kali.


"Udah nih, berangkat sekarang?"


Dua orang yang sedang berbincang di ruang tamu itu menoleh secara bersamaan dan mendapati Riani yang sudah berada di ambang pintu menuju ruang tamu.


Bayu melihat ke arah jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya. "Ayo."

__ADS_1


Setelah sekian lama akhirnya Riani hendak liburan juga. Sepanjang perjalanan Riani merasa begitu senang. Pandangan matanya melihat ke arah jalanan yang gelap hanya terkena remang cahaya lampu jalan.


Tidak ada kantuk yang dirasakan, yang ada justru rasa penasaran. Kemana Bayu akan mengajak dirinya pergi?


"Ri ... bangun, Sayang, kita udah sampai."


Suara itu masuk ke dalam tidur Riani, perempuan itu membuka matanya perlahan-lahan. Beberapa bagian tubuhnya merasa sakit karena tidur di dalam mobil semalaman.


Suasana di sekitar mobil masih gelap, namun mobil sudah berhenti di sebuah tempat parkir.


"Kita di mana?" tanya Riani sembari memperbaiki posisi tubuhnya.


"Udah di sekitar pantainya kok, emang kamu nggak dengar ada suara ombak?"


Riani mengernyitkan dahi, ia berusaha menajamkan indra pendengarannya dan sayup-sayup terdengar suara deburan ombak yang terdengar jauh entah di mana.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku pengin pipis, sekalian bebersih juga sama ganti baju. Emang kamu nggak mau?"


Riani mengangguk. "Mau."


Keduanya turun dari mobil. Riani menguap begitu lebar karena rasa kantuk yang masih ada dalam dirinya.


Langkah kakinya menuju ke bagian belakang mobil untuk mengambil baju dan alat mandi di dalam koper kecil berwarna merah muda yang ia bawa.


Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi saat Riani kembali ke mobilnya. Di sana sudah ada Bayu dan Manda yang menyupiri mobil mereka. Keduanya nampak duduk di samping mobil sembari menikmati segelas kopi.


Semburat jingga terlihat di ujung timur sana begitu indah. Riani menghembuskan nafas seraya mendudukkan tubuh di atas kursi lipat yang kosong.


"Kamu mau kopi, Ri?" tanya Manda.


Riani menggelengkan kepala. "Aku nggak biasa ngopi pagi-pagi."


"Teh?" Bayu memberi penawaran.


"Boleh, deh. Emang ada?"


"Ada dong."


Ketiganya menikmati minuman masing-masing sembari melihat matahari terbit di ujung timur sana. Suara desir angin dan ombak bersahut-sahutan, menenangkan.


Saat sedang memandang ke sekitar, pandangan mata Riani terpusat pada sebuah panggung yang berada tidak jauh darinya.


"Mau ada acara ya di sini?"


"Iya, ada konser girlband sama boyband," jawab Manda. "Seven Lovers sama The Grape."


Kedua mata Riani terbelalak mendengarnya, ia tahu kedua girlband dan boyband itu, mereka sangat terkenal sekarang, tapi Riani benar-benar tidak mengetahui jika mereka akan mengadakan konser di sini.

__ADS_1


"Beneran?!" Riani memandang ke arah panggung dengan takjub. "Kita bakal nonton konser mereka, kan?"


__ADS_2