
Belum sempat Riani menyalakan smartphone-nya, smartphone itu kehabisan daya karena memang tidak disambungkan ke pengisi daya sejak malam.
Smartphone tersebut dilempar ke atas ranjang. "Sial, pake mati segala!" umpat Riani kesal, ia lantas mengambil kabel charger dari dalam tas dan mulai menyambungkannya.
Sementara itu dari dalam kamar, ibunya terus menyebut-nyebut namanya. Rita terus membahas soal Riani dan Bayu yang harus menikah, hal itu seperti tak pernah berhenti.
Kesal dengan smartphone-nya, kesal dengan ibunya juga yang terus bersuara membuat Riani keluar dari kamarnya. Alih-alih masuk ke dalam kamar, Riani justru menuruni anak tangga dan menuju ke dapur.
Kotor, berdebu, berantakan, entah sudah berapa lama rumahnya tidak pernah dibersihkan. Riani mulai membersihkan seluruh rumah, ia mulai dari kotoran yang paling kecil.
Peluh mulai bercucuran pada pelipis Riani, ditambah lagi ia tak pernah melakukan pekeerjaan rumah seperti ini sebelumnya. Dunia pekerjaan membuatnya tahu bagaimana cara menyapu, mengepel, memberihkan barang-barang, mencuci piring dan sebagainya. Riani kini mempraktekannya di dalam rumahnya sendiri.
Dua jam berlalu hampir seluruh rumah sudah dalam keadaan bersih kecuali kamar mandi, Riani masuk ke dalam ruangan berukuran satu meter persegi itu.
Beberapa kali Riani hendak muntah, namun ia tahan. Sikat yang tergeletak di ujung ruangan ia ambil dan mulai digunakan untuk menyikat toilet. Menjijikan, tapi harus Riani lakukan.
Usai membersihkan seluruh rumah, Riani bersandar pada kursi makan. Tenggorokannya yang kering membuat Riani memutuskan untuk mengambil gelas, namun saat hendak mengambil air rupanya galon itu sudah kering. Tak ada setetes airpun di dalamnya.
Rasanya Riani sudah menyerah, ia hanya bisa terkapar tak berdaya di atas permukaan lantai yang sudah dia pel sebelumnya.
Beberapa menit berlalu, Riani kembali beranjak. "Masa aku mati cuma karena kehausan?" lirih Riani berusaha menyemangati diri sendiri.
Demi berhemat, Riani memilih untuk merebus air. Tidak hanya itu, ia juga menanak nasi yang masih tersisa dan mulai membuat lauk.
Sosis kecap dengan campuran sayur kol dihidangkan di atas meja, tidak banyak hanya satu piring dan akan menjadi sedikit sekali jika Riani juga berbagi kepada ibunya.
"Biar aku makan bareng sama Ibu di atas," lirih Riani, ia mulai mengambil nasi dan lauk yang sudah ia buat.
"Bu," panggil Riani di depan kamar ibunya. Dengan satu tangan yang lain Riani membuka pintu kamar dari kayu dengan ukiran bergambar bunga yang indah itu. "Makan dulu."
__ADS_1
"Nggak mau." Rita memalingkan wajah.
"Kalau Ibu nggak makan nanti sakit, Ibu makan ya? Riani suapin."
"Dari kemarin juga udan sakit."
Riani terdiam, apa yang dikatakan ibunya benar. "Maafin Riani ya, Bu. Ibu sakit malah Riani nggak ada buat ngurus Ibu."
Rita menoleh, ia kembali melihat ke arah Riani. "Sekarang kamu pulang udah hamil begitu, lagian apa susahnya sih, Ni? Kamu tinggal nikah aja sama Bayu."
"Tapi dia udah jahat sama Riani, Bu, dia jahat sama kita. Ibu tolong percaya sama aku dong."
"Sekarang kamu udah mengandung, kalau dibiarin lama-lama jadi gede. Kamu mau dia lahir tanpa ayah?" Riani hanya menggelengkan kepala. "Ya udah, makannya kamu nikah sama Bayu."
"Emangnya nggak ada cara lain ya, Bu?"
"Riani mau Bayu tetap bertanggung jawab, Bu, tapi nggak dengan nikahin aku. Riani cukup minta Bayu buat ikut biayain dan ngurusin anaknya aja, nggak perlu sampai menikah sama aku."
"Kalau kaya gitu orang-orang mau ngomong apa sama kamu, Ni? Sama Ibu? Udah bener jalan satu-satunya kamu nikah sama Bayu, lagian itu juga anak Bayu, kan? Ibu udah nyiapin uang puluhan jutabuat pernikahan kalian. Ibu mau lihat kamu bahagia, Ni, Ibu mau gendong cucu sebelum mati, biar Ibu tenang. Emang kamu mau Ibu matinya nggak tenang?!"
"Ibu jangan ngomong gitu, ah! Lagian uang puluhan juta itu nggak ada artinya kalau Riani nggak bahagia, Bu."
"Riani!" Riani tersentak kaget, ia tak pernah mendengar Rita membentak dengan sedemikian kerasnya. "Ibu sama ayah udah susah-susah gedein kamu, ngurusin kamu, nabung buat masa depan kamu, tapi kamu malah ngomong gitu. Di mana rasa terima kasih kamu, Ni?! Dimana?!"
Selama beberapa detik, Riani terdiam. Dalam dirinya berusaha untuk menahan air mata agar tak tumpah saat ini juga.
'Nggak tahu kapan Ibu bakal ngerti kalau uang bukan segalanya. Memang segalanya membutuhkan uang, tapi sebagai seorang anak perempuan apalagi satu-satunya, Riani juga butuh didengarkan, Bu.' Ia hanya bisa mengungkapkan itu dalam hatinya. 'Riani tahu Ibu itu keren, Ibu bisa melakukan banyak hal, Ibu bisa bangun usaha kost dan kontrakan bareng ayah. Tapi apa Ibu pernah tanya aku, aku butuh keuntungan dari itu semua? Ya, mungkin memang aku butuh, tapi aku nggak tahu itu dulu. Aku cuma ingin Ibu jadi kaya Ibu teman-temanku. Ibu nggak ngerasain kan gimana sakitnya hati aku pas dibilangin nggak punya orang tua karena Ibu nggak pernah ngambil rapot atau ikut kumpulan di sekolah? Bahkan aku sampai dibilang sok kaya, mereka semua bilang aku anak Mba Dwi, bukan anak Ibu. Ibu nggak tahu itu, kan?'
"Kamu itu harusnya berterima kasih, Ni. Ibu nggak perlu kamu ngelakuin banyak hal, cukup nurut aja sama Ibu juga udah bikin Ibu seneng, Ni." Rita menghentikan kalimatnya sejenak. "Kamu udah Ibu gedein, semuanya Ibu biayain bahkan untuk pernikahan kamu pun uangnya sudah Ibu siapin puluhan juha biar pernikahan kamu itu bisa semewah yang kamu mau."
__ADS_1
Mendengar ibunya terus menyebut-nyebut tentang harta, Riani teringat dengan perkataan Bhanu. Apakah Ibunya benar-benar melakukan pesugihan Nyi Kembar?
"Dari mana Ibu dapat semua uang itu?"
Terdengar hembusan nafas dari Rita. "Usaha kost ini sudah mendapat banyak keuntungan, Ni, Ibu dan ayah sudah capek banting-tulanh buat ngebiayain kamu. Dari yang awalnya nggak punya apa-apa bahkan buat beli makan aja susah sekarang sudah bisa hidup nyaman seperti ini, semuanya itu hasil dari kerja keras aku dan ayahmu."
"Yakin hanya Ibu dan ayah? Bukannya Ibu pakai bantuan sosok lain?"
"Apa maksudmu, Ni?!" Rita mengernyitkan dahi.
"Ibu pakai pesugihan Nyi Kembar, kan?" tanya Riani dengan penuh selidik.
Kedua mata Rita terbuka dengan lebar seketika, bibirnya mengerut dengan urat-urat leher yang semakin tercetak jelas.
"BERANINYA KAMU NGOMONG KAYA GITU, NI?!"
"Jawab, Bu!"
"Kamu emang nggak peenah hargain usaha Ibu sama ayah!"
"Nggak usah mengelak, Bu. Apa yang aku katakan itu bener, kan?"
"SIAPA YANG NGOMONG KAYA GITU KE KAMU, NI?! KAMU PERCAYA OMONGAN MEREKA?!"
"Nggak ada yang ngomong kaya gitu, aku cuma lagi nanya aja tapi Ibu langsung marah. Berarti bener kan itu, Bu? Ibu pake pesugihan Nyi Kembar, kan?"
"DASAR ANAK NGGAK TAHU DIRI! NGGAK PERNAH NGERTI ORANG TUA! NGGAK PERNAH NURUT SAMA IBUNYA! KELUAR KAMU!!!"
"Riani nggak mau keluar, Ibu jawab dulu pertanyaanku. Bener kan, Bu?!"
__ADS_1