
Nindira menyesap kuah mie sebelum berbicara, sementara Riani sudah menunggunya siap untuk mendengarkan kalimat apa saja yang keluar dari mulut Nindira.
"Sebenarnya ...." Nindira terlihat ragu dalam mengatakannya. "Aku suka Difki."
Kedua mata Riani seketika terbuka lebar setelah mendengarnya. "La--lalu?"
"Tapi Difki kelihatannya suka kamu."
Riani terkekeh. "Mana ada dia suka aku, Ra, dia aja dulu ikutan nge-bully aku sama Tri and the gang."
"Tapi dia sebenarnya suka sama kamu, Ri, aku bisa lihat itu."
"Dari mana kamu tahu?"
"Ya ... dia sering curi-curi pandang ke kamu, dia juga sering khawatir ke kamu. Kaya tadi juga dia khawatir ke kamu, kan?"
"Ehm, i--iya tapi ... aku ngerasanya dia biasa aja deh sama aku, Ra."
Nindira menggelengkan kepala. "Nggak, dia suka sama kamu, Ri, percaya." Ia menghentikan kalimatnya sejenak. "Jangan respon perasaaan dia ya, Ri."
"Hah? Ya enggak lah, Ra," ujar Riani yang lantas terkekeh. "Justru sekarang aku kesel sama dia, aku benci sama dia."
"Bagus deh, Ri. Tapi kamu restuin kan kalau aku sama Difki?"
"Ehm ...." Riani tampak berpikir terlebih dahulu. "Emangnya apa yang bikin kamu suka sama dia?"
Nindira tak segera menjawab, ia terlebih dahulu menyangap satu sendok mie instan. "Ganteng, baik, rajin ... apa lagi ya? Banyak lah, Ri."
"Oh ... gitu." Riani menganggukkan kepalanya, mengerti. "Tapi nggak papa kan kalau aku benci sama dia?"
"Nggak masalah dong, lagian aku tahu dia tuh kaya gitu gara-gara diprovokasi sama Tri. Pas pertama juga dia muji-muji kemampuan kamu yang bisa lihat makhluk-makhluk lain, kan?"
Riani mencoba mengingatnya, ia lantas menganggukkan kepala. "Iya, aku inget."
"Kelemahan dia itu cuma gampang dipengaruhi aja, selebihnya dia baik, kok. Selama ini aku udah ngamatin dia, aku juga udah pernah nyatain perasaan ke dia."
"Terus responnya?"
"Aku pake akun fake waktu itu, hihi." Nindira terkekeh.
__ADS_1
"Niat banget."
"Emang, aku pengin tahu respon dia bakalan gimana sama aku makannya aku bela-belain pake akun fake buat chatt dia, eh direspon." Nindira tersenyum membayangkannya. "Aku bilang suka sama dia, aku juga bilang kalau aku satu kerjaan sama dia." Raut wajah Nindira berubah murung. "Walaupun sekarang udah nggak."
"Sabar ya, Ra." Riani mengusap bahu Nindira. "Maaf."
"Lah, kenapa minta maaf, Ri? Kan bukan kamu yang salah."
"Ehm, kan Difki juga nggak betah lagi kerja di situ gara-gara Fella dan Fella kaya gitu juga karena aku."
"Tapi balik lagi ke mereka, Ri. Fella kaya gitu ya karena mereka juga gituin kamu."
"Iya juga sih." Riani menganggukkan kepalanya.
"Nah, makannya nggak ada yang salah sama kamu, Ri." Nindira memasukkan satu suapan yang tersisa ke dalam mulutnya. "Aku cuma minta kamu buat itu sih, Ri, kalau misalkan nanti dia nyatain perasaan ke kamu atau kamu ngerasa kaya lagi ngedeketin kamu, lebih baik nggak usah di respon ya?"
Riani mengangguk. "Pasti, Ra, lagian aku nggak ada rasa apapun sama dia."
"Bagus deh, Ri." Nindira tersenyum, merasa senang mendengarnya.
***
Merasa jenuh, Riani keluar dari kamar kost. Tidak ada siapapun yang keluar dari kamar selain dirinya.
Seketika terbesit dalam hati Riani tentang rumahnya, ada perasaan rindu dalam hatinya terhadap ibu dan rumah itu.
Riani melangkah masuk kembali ke dalam kamar, ia mulai bersiap untuk pergi.
Di angkutan umum yang ia tumpangi, Riani menyibukkan diri dengan mendengarkan musik dan membaca sebuah novel yang sudah ia unduh dalam ponselnya.
Angkutan umum tidak begitu ramai karena kebanyakan orang-orang yang hendak bekerja atau berangkat ke sekolah sudah sampai di tujuannya masing-masing. Riani duduk di samping jendela, meskipun begitu pandangan matanya terus fokus pada layar smartphone-nya.
Lima belas menit berlalu, Riani sampai di halte dekat perumahah. Ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sesampainya di depan rumah, ia mendapati pagar yang terkunci rapat. Teras rumah cukup kotor dengan debu dan daun-daun kering, tidak hanya itu pintu rumah juga tampak terkunci rapat.
Riani mengernyitkan dahi. "Kenapa kotor banget sih? Apa Mba Dwi nggak bersihin teras?" lirih Riani.
Suara sepeda motor yang mendekat membuat Riani menoleh. Rasanya dunia benar-benar sangat sempit saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Kak Bhanu," panggil Riani ramah dengan senyuman.
Sementara Bhanu justru mengernyitkan dahi. "Ngapain di sini?"
"Ehm ...." Riani menoleh sejenak ke arah pagar rumahnya. "Tadi aku bosen banget di kost-an Ira, akhirnya aku ke sini deh. Soalnya jam kerja juga masih lama, aku berangkat jam tiga sore." Senyuman Riani masih tetap ada menghiasi wajahnya. "Kak Bhanu sendiri ngapain di sini?"
Pandangan mata Bhanu melihat ke arah rumah dengan pagar hitam tidak jauh di depannya. Tidak begitu lama, pandangan mata laki-laki itu lantas mengarah kepada Riani.
"Ini rumah kamu?"
Riani mengangguk cepat. "Iya, emangnya kenapa, Kak? Kak Bhanu mau ke rumah siapa? Aku tahu semua rumah di sini punya siapa."
"Nggak." Bhanu menggelengkan kepala. "Mau lihat rumah ini aja."
"Kenapa emangnya?"
"Naik," ujar Bhanu menoleh ke jok belakangnya yang kosong.
Sementara Riani mengernyitkan dahi. "Mau ke mana emangnya, Kak?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Riani, Bhanu justru melajukan sepeda motornya.
Rasa penasaran membuat Riani berteriak, "Tunggu!"
Sepeda motor itu kembali berhenti, melihat hal tersebut senyuman pada wajah Riani kembali muncul.
Langkah kakinya mendekat ke arah sepeda motor yang kini berjarak sekitar lima meter dari tempat awal ia berdiri. Riani turut naik dan sepeda motor tersebut perlahan kembali melaju.
Hampir sepanjang perjalanan Riani tak pernah berhenti tersenyum, ada perasaan bahagia yang menenangka hati dan aman saat sedang bersama Bhanu, entah bagaimana. Mungkin saat pertama bertemu Bhanu membantunya?
"Kak Bhanu," panggil Riani, tapi tak ada jawaban apapun dari Bhanu. "Inget nggak waktu di kampus?" Tak ada jawaban lagi dari Bhanu, namun Riani mendapati ia menganggukkan kepala. "Ehm ... makasih ya, Kak, aku belum sempat bilang makasih ke Kak Bhanu waktu itu." Lagi-lagi tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Bhanu, ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Sepeda motor tersebut berhenti di sebuah tempat, tidak begitu asing bagi Riani tapi ia merasa sangat tidak mungkin jika Bhanu mengajaknya ke tempat ini.
"Kenapa kita ke sini, Kak?" tanya Riani dengan rasa penasaran yang kian bertambah.
Lagi dan lagi Bhanu masih belum merespon Riani, ia berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut dan Riani menyusul di belakang dengan berlari kecil karena langkah Bhanu cukup lebar.
"Kenapa Kak Bhanu bawa aku ke sini?"
__ADS_1