PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Konser Musik


__ADS_3

Seharian penuh Riani, Bayu dan Manda saling bercanda dan tertawa sembari bermain pasir dan ombak.


Nafas Riani terengah-engah sembari mendekat ke arah Bayu yang hanya mengenakan celana boxer berwarna abu-abu.


"Capek," ujar Riani sembari merobohkan tubuhnya tepat di sebelah laki-laki itu.


"Minum," ujar Bayu singkat sembari memberikan kelapa utuh yang sudah dilubangi bagian atasnya.


Riani menyesap es kelapa yang sangat menyegarkan tenggorokannya.


Suasana di pinggir pantai semakin panas, Riani bisa merasakannya.


Di kejauhan Manda masih terlihat sedang menyelesaikan istana pasir yang tadi dibangun oleh mereka bertiga sebelum Bayu dan Riani memilih untuk beristirahat sejenak di bawah pohon besar yang ada di pinggir pantai.


"Mau udahan?" tanya Bayu kemudian.


"Pulang?" Riani berbalik tanya.


"Ke hotel."


"Hotel?" tanya Riani tak percaya.


Sementara Bayu menganggukkan kepala. "Iya, aku udah pesan hotel buat kita tidur malam ini."


"Jadi kita di sini dua hari?" Air muka tidak percaya masiu ada dalam wajah Riani.


Bayu mengangguk lagi. "Kamu senang nggak?"


"Seneng banget." Riani tersenyum. "Makasih, Sayang." Ia memberikan pelukan kecil untuk Bayu.


Pukul dua siang, mereka berdua menuju ke hotel yang sudah dipesan oleh Bayu. Bayu hanya memesan dua kamar, satu untuk dirinya dan Riani sementara satu kamar yang lain untuk saudaranya -- Manda.


Pintu kamar dibuka dan ruangan tersebut masih gelap gulita. Riani terlebih dahulu melangkahkan kedua kakinya ke dalam ruangan. Tangannya meraba tembok di sekitar pintu, mencari steker yang biasanya berada di sana.


Satu persatu lampu dalam ruangan terbuka. Di hadapan Riani sudah ada sebuah tempat tidur king size dengan hiasan kelopak bunga mawar membentuk hati.


Melihat hal tersebut, Riani menoleh ke arah Bayu. "Kok nggak twin bed sih, Bay? Terus kenapa kaya gini juga? Kaya mau honey moon, tahu!"


"Kamu nggak senang ya, Ri?"


Riani melihat kembali ke arah tempat tidur itu. Bukan ia tidak senang, namun ia merasa belum pas waktunya untuk Bayu memberikan kejutan seperti ini.


"Kalau gitu aku pesenin kamar lain."

__ADS_1


Belum sempat Bayu pergi, Riani menghentikan Bayu. "Nggak usah, Bay. Di sini aja nggak papa, kok."


"Tapi kamu kaya nggak seneng gitu, Sayang, aku kan pengin bikin kamu seneng. Percuma kalau aku ngajakin kamu liburan tapi kamu nggak seneng gini, kan?"


"Aku seneng kok, Bay. Aku seneng."


Bayu tersenyum mendengar hal tersebut.


Satu persatu baju di dalam koper ditata di dalam lemari, sementara baju yang kotor dikumpulkan dalam plastik untuk kemudian dibawa oleh petugas khusus untuk dicuci.


Saat keduanya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, pintu kamar diketuk oleh seseorang.


Riani masih duduk di atas ranjang sementara Bayu membukakan pintu. Seorang petugas membawakan troli berisi makanan yang kemudian diserahkan kepada Riani.


"Lunch, Sayang." Bayu mendorong troli makanan itu mendekat.


"Kamu pesan apa aja ini, Bay?" tanya Riani mendekat.


Satu persatu makanan di dalam troli dikeluarkan dan ditata sedemikian rupa di atas meja kecil dalam kamar mereka. Piring-piring tersebut berisi wagyu beef burger, spaghetti carbonara, dua gelas jus mangga dan air putih serta pudding stroberi dengan warna pink kemerahan yang nampak segar.


"Kamu mau makan yang mana, Ri?" tanya Bayu sembari menata piring dan gelas itu.


Keduanya menyantap makan siang bersamaan. Mereka berua juga saling mencicipi makanan masing-masing.


Bayu sengaja memesan menu makanan yang berbeda agar bisa saling mencoba, keduanya menyantap makan siang dengan penuh kenikmatan.


***


Saat terbangun, Riani mendengar suara bising dari arah luar. Di dalam kamar, ia tak mendapati keberadaan Bayu.


Riani yang merasa penasaran memutuskan untuk keluar menuju balkon. Korden yang sedari awal tertutup ia singkap dan seketika kedua mata Riani terbelalak dengan mulutnya yang juga terbuka lebar.


Kamarnya berada tidak jauh dari panggung. Dari atas sini, Riani bisa melihat dengan jelas konser musik nanti malam tanpa harus berdesakan.


"Kamu udah bangun, Sayang?"


Riani menoleh dan mendapati Bayu yang sudah kembali berada di dalam kamar. "Kamu pesen kamarnya pas banget, Bay."


Terlihat bibir Bayu yang perlahan tertarik ke kedua ujung yang berbeda. "Kamu seneng nggak?"


Langkah kaki Riani kembali masuk ke dalam kamar. Riani memberikan pelukan kepada Bayu. "Seneng banget, Sayang, makasih banyak."


Malam datang dan lampu-lampu yang ada di panggung mulai dinyalakan. Riani keluar dari kamar menuju balkon dan mendapati Manda yang sudah duduk di balkon kamarnya. Kamar Riani dan Bayu bersebelahan dengan kamar Manda.

__ADS_1


"Kamu udah stand by aja, Man," sapa Riani dengan sedikit beteriak karena suara soundsystem yang sedang dicek terdengar keras.


Manda tersenyum. "Iya dong, mau lihat my baby Seven Lovers."


"Siapa idolamu, Man?"


"Semuanya."


Keduanya tertawa.


"Nggak boleh serakah gitu dong!"


Di bawah sana sudah banyak orang yang menunggu konser di mulai, beberapa orang yang menghuni kamar hotel yang lain juha nampak menikmati konser musik dari balkon kamar masing-masing.


Bayu mendudukkan tubuhnya di sebelah Riani. Ia memberikan satu kresek putih berisi makanan ringan dan juga minuman.


"Woah." Riani membuka bungkusan itu.


"Biar makin seru nontonnya." Bayu tersenyum sembari memperbaiki posisi duduknya.


Suara pembawa acara sudah terdengar menyapa seluruh penonton. Semua orang riuh menjawab sapaan dari pembawa acara tersebut.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, satu jam lagi dari jadwal yang ditentukan.


"Sebelum konser dimulai, akan ada beberapa penampilan dari adik-adik kita yang akan menghibur kalian. Penampilan pertama dari SD Negeri Satu, silahkan."


Suara musik terdengar menggelegar karena salon-salon besar itu berada tepat sejajar dengan balkon kamar Riani, kaca balkon bergetar karena suara musik tersebut.


Di panggung yang megah dan besar dengan lampu-lampu indah mengiringi penampilan anak-anak membuat penampilan mereka semakin spektakuler. Lima anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar menari dengan lihai mengikuti alunan musik. Kelimanya nampak begitu lemas menggerakkan bagian-bagian tubuhnya.


Penampilan pertama selesai dilanjutkan penampilan kedua, ketiga dan seterusnya hingga penampilan kelima. Sebuah puisi berantai yang dibawakan oleh tiga anak sekolah dasar menutup penampilan dari para anak-anak.


Panggung dan sekitarnya mendadak gelap, beberapa orang kebingung dan berteriak. Namun hal ini tidak terjadi lama karena beberapa detik kemudian lampu-lampu kembali menyala dengan Seven Lovers yang sudah di atas panggung membawakan lagu pertama mereka.


"Woooo ...."


Para penonton bersorak, mereka terkejut dengan kehadiran Seven Lovers yang mendadak.


Riani menyesap minuman teh yang diberikan oleh Bayu, rasanya agak sepat.


Smartphone yang sedari tadi berada di sebelahnya ia ambil. Beberapa moment direkam oleh Riani dan diunggah di sosial medianya.


Hampir setengah jam berlalu, Riani merasa kepalanya pening. Pandangan matanya perlahan berubah buram.

__ADS_1


Riani menoleh ke arah Bayu dan pada saat yang sama, Bayu juga melihat ke arah Riani.


"Kamu kenapa, Ri? Pusing?"


__ADS_2