PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Desa Sepi


__ADS_3

Jalanan di depan mobil terasa tidak asing dalam pandangan mata Riani. Terlihat Pak Abdul sudah terlelap, begitu juga dengan Sella.


Tubuh Riani bergoyang mengikuti jalanan yang tak beraspal. Riani melihat ke sebelahnya, gelap, tak ada apapun yang bisa dilihat.


Riani memutuskan untuk mengambil smartphone-nya di dalam tas selempang. Smartphone dinyalakan dan terpampang waktu yang menunjukkan pukul setengah lima pagi.


Sama sekali tidak ada jaringan membuat Riani tidak bisa melakukan banyak hal.


Tanpa disadari, Riani kembali terlelap dengan smartphone yang masih tetap ada dalam genggaman.


Suara berisik seperti ada yang mencari sesuatu membuat Riani kembali terbangun. Suasana di luar mobil sudah terlihat terang dengan sinar matahari pagi yang hangat.


Riani mendapati Pak Abdul dan Sella yang sudah terbangun dan suara itu berasal dari keduanya yang sedang menata barang-barang.


"Aku nunggu di sini aja deh ya, Dul, mau istirahat juga."


"Santai aja. Selamat beristirahat, bro!" Pak Abdul menepuk bahu supir itu dua kali yang dibalas hanya dengan senyuman.


Ketiganya keluar dari mobil begitu juga dengan Riani. Baru saja menginjakkan kedua kaki di tanah tersebut, Riani sudah merasa aneh.


Pandangan matanya melihat ke sekitar dan benar saja, ia sangat paham dan mengenali tempat ini.


"I--ini kan ...." Riani terdiam tak melanjutkan kalimatnya, ia menatap ke arah bangunan rumah dari anyaman bambu di depannya.


"Kenapa, Ri?" tanya Sella lirih.


"Aku nggak mau masuk, Sel." Riani berbalik badan hendak kembali ke mobil.


"Loh, kita udah sampai loh, Ri."


"Riani."


Langkah kedua kaki Riani terhenti, pandangan mata Riani melirik ke kanan. Suara itu membuatnya merasa lebih ketakutan lagi, namun ada perasaan tidak enak juga dalam hatinya.


Riani sama sekali tidak menyangka dengan apa yang dia lihat saat ini, tapi mungkin bukan dia yang hendak Riani temui.


Mencoba untuk tetap berpikiran positif, Riani kembali berbalik badan. Kini di ambang pintu rumah itu sudah ada sepasang laki-laki dan perempuan yang berdiri sembari tersenyum ke arahnya.


Riani tersenyum kaku melihat ke arah mereka berdua, jantung Riani berdegup kencang membuat langkah kakinya begitu perlahan untuk kembali berada di tempat semula.


"Selamat datang kembali," ujar Suwiryo.


"Ka--kalian udah saling kenal?" tanya Pak Abdul sembari melihat ke arah Riani dan Suwirto serta istrinya secara bergantian.


Utari menganggukkan kepala. "Namanya Riani, kan? Dia pernah ke sini dulu, hampir jadi menantu kami."


"Mereka orangtuanya Bayu?" lirih Sella.

__ADS_1


Riani hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. "Aku nggak mau ketemu sama mereka."


"Tapi kita udah terlanjur datang ke sini, Ri."


Riani menoleh ke arah Sella yang berdiri tepat di sebelahnya. "Kalau tahu aku bakal ketemu sama mereka, aku nggak akan ke sini, Sel. Aku pengin ketemu sama orang yang udah bantu ibu pake pesugihan itu aja."


"Itu kami, Nduk." Suwiryo tersenyum.


Seketika kedua mata Riani terbuka lebar, ia tidak menyangka akan dua hal. Pertama, Riani berbicara dengan Sella menggunakan nada yang lirih, namun Suwiryo bisa menjawabnya. Kedua, Suwiryo adalah dukun yang membantu ayah dan ibunya melakukan pesugihan Nyi Kembar.


Seolah tidak percaya, Riani melirik ke arah Pak Abdul yang memang berdiri lebih dekat daripada mereka.


Dari tempat Riani berdiri, ia bisa melihat Pak Abdul yang menganggukkan kepalanya. "Benar, Riani."


Hening, tak ada perbincangan apapun di antara mereka saat tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat.


"Riani," panggilnya.


Riani menoleh dan mendapati Dwi yang kemudian tersenyum ke arahnya. "Akhirnya kamu ke sini juga, kamu mau jemput aku buat kerja lagi, kan?"


Mendengar kalimat tersebut, Riani menggeleng pelan. "Ma--maaf--"


"APA?!" Dwi memotong kalimat Riani begitu saja, langkah kedua kakinya berjalan mendekat. Hanya ada jarak sekitar beberapa sentimeter saja di depan Riani. "KALAU KAMU NGGAK AJAK AKU UNTUK PERGI SEKARANG JUGA, KAMU TIDAK AKAN SELAMAT SAAT PULANG NANTI," ancamnya dengan suara yang pelan tapi menakutkan.


Riani hanya bisa tertunduk, tidak tahu harus bagaimana.


"Aduh, duh, duh, ini nih majikan saya cantik banget."


"Tentu saja cantik, dia juga calon menantu kami." Utari menambahi.


Sementara Riani hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, ia merasa seperti sedang mengalami perundungan. Begitu pula dengan Sella dan Pak Abdul yang terus terdiam.


"Mari masuk," ujar Utari kemudian.


Pak Abdul sudah mulai melangkahkan kedua kakinya, sementara Sella mulai menarik-narik tangan Riani. Namun Riani masih tetap dalam pendiriannya, ia tidak mau bergerak sama sekali kecuali untuk pulang.


"Aku mau pulang aja," lirih Riani, masih sembari menundukkan kepalanya.


"Tapikan, Ri--"


"Aku mau pulang!" ujar Riani lebih tegas.


Sebuah langkah kaki mendekat ke arah Riani yang rupanya adalah Pak Abdul.


"Ri," panggilnya dengan lembut. "Bapak nggak tahu sebelumnya ada apa saja antara kamu dengan mereka, tapi tolong fokus pada tujuan awal kamu, Ri, ingat sama pesan mendiang ayahmu."


Riani terdiam, ia hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ini semua demi kesembuhan ibumu dan juga keinginan ayahmu, Ri." Pak Abdul masih berusaha untuk membujuk.


"Benar kata ayahku, ayo kita fokus pada tujuan utamanya saja."


Riani menggelengkan kepala kuat-kuat. "Seandainya aku tahu bakal ketemu mereka, mungkin aku nggak akan mau ke sini."


"Ini bukan tentang siapa mereka, Ri, sekali lagi Bapak nggak tahu ada apa aja antara kamu sama mereka, tapi tolonglah fokus pada tujuan pertamanya, kan kamu juga yang minta ditemani ke sini?"


Riani mengangguk lemah.


"Nah, kamu paham. Ini demi kesembuhan ibumu dan permintaan ayahmu juga." Pak Abdul masih berbicara dengan jada yang lembut. "Sebentar saja kita tanyakan kepada mereka, ya? Biar Bapak yang bilang juga nggak masalah."


Riani kembali mengangguk, namun sama sekali tak mengangkat kepalanya sedikitpun.


Kondisi di dalam rumah masih tetap sama, tidak ada banyak yang berubah dari sejak Riani meninggalkan rumah ini.


Kelimanya duduk di ruang tamu mengelilingi meja yang panjang. Suwiryo duduk bersebelahan dengan Utari sementara di hadapan mereka ada Pak Abdul, Sella dan juga Riani.


"Jadi gini, Mbah," ujar Pak Abdul memulai pembicaraan, ia memanggil Suwiryo dengan sebutan Mbah. "Ini anak perempuan mendiang Agus dan Rita, sekarang kondisi Rita sedang sakit parah." Pak Abdul berbicara dengan lembut. "kedatangan kami berdua ke sini adalah untuk meminta agar perjanjian itu dicabut saja, Mbah."


"Kamu mau perjanjian pesugihannya di hapus?"


Pak Abdul mengangguk pasti. "Iya, Mbah."


"Itu tidak bisa dilakukan dengan mudah, apalagi setelah kamu hidup dengan uang yang diberikan oleh Nyi Kembar. Itu namanya habis manis sepah dibuang."


"Bukan begitu, Mbah. Tapi yang saya ingat dulu, pesugihannya Nyi Kembar itu tidak menggunakan tumbal manusia, almarhum Agus sendiri yang bilang kepada saya. Tapi sekarang malah almarhum Agus sendiri yang jadi tumbalnya."


Suwiryo terkekeh menunjukkan barisan giginya yang rumpang dengan plak di mana-mana. "Itu karena keserakahan Agus dan Rita sendiri. Seandainya mereka tidak minta lebih, Nyi Kembar juga tidak akan meminta lebih."


"Jadi ... tidak ada yang bisa dilakukan untuk membatalkan perjanjiannya?" tanya Pak Abdul dengan tatapan mata penuh rasa penasaran.


Pandangan mata Suwiryo melihat ke arah Riani selama beberapa detik, lantas kembali melihat ke arah Pak Abdul yang menjadi lawan bicaraanya saat ini.


"Bisa saja."


"Bagaimana caranya, Mbah?"


"Anak keturunan Agus dan Rita harus menikah dengan anak saya."


Atmosfer ruangan berubah menjadi semakin mencekam, hening, tak ada yang bersuara.


Pak Abdul dan Sella melihat ke arah Riani, sementara Riani menggelengkan kepalanya dengan tegas.


Pandangan mata Pak Abdul kembali melihat ke arah Suwiryo. "Apa nggak ada cara lain, Mbah?"


"Tidak ada," jawab Suwiryo sembari menggelengkan kepala. "Itu adalah cara yang sangat mudah." Suwiryo menambahi, ia melihat ke arah Riani. "Bukannya kamu juga sedang hamil anak Bayu saat ini?"

__ADS_1


__ADS_2