PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Hilang


__ADS_3

Gelap, hanya ada lampu remamg yang tak cukup menyinari ke sekitar, apalagi lampu itu hanya ditemui setiap jarak lima meter saja dan hanya mampu menyinari tepat di bagian bawahnya.


"Kamu ngerasa jatuhnya di mana sih, Bay?" tanya Riani dengan nada suara yang kesal.


"Ya nggak tahu, aku sadar pas tadi aku suruh kamu berhenti."


Keduanya berjalan dengan pandangan mata yang melihat ke bawah, mencari-cari smartphone dalam kegelapan dan di tempat antah-berantah.


"Susah banget kalah harus nyari kaya gini," ucap Riani mengeluh.


Bayu menghembuskan nafasnya. "Cari dulu lah, Ri, di HP aku itu ada banyak file penting yang nggak boleh ilang."


"Lagian kamu nggak pegang kenceng-kenceng sih, Bay."


"Udah dong, Ri, jangan nyalahin aku terus!"


Riani terdiam tatkala nada suara Bayu menjadi tinggi. Ia melihat ke arah laki-laki yang masih membungkuk mencari benda pipih itu tanpa ada sedikit pun penerangan.


"Ba--Bayu," ujar Riani, kedua matanya melihat ke arah ujung lorong, tangannya berusaha menggapai laki-laki yang sedang bersamanya itu. "Ba--Bayu, Ba--Bay ...."


"Apaan sih, Ri?!" kesal Bayu karena masih belum bisa menemukan di mana benda pipih itu berada.


Riani tak berkata sepatah kata pun. Ia menunjuk ke ujung lorong dengan tangannya yang lain yang berusaha untuk menggapai Bayu.


Pandangan mata Bayu melihat ke arah yang sama. Sepertinya dia juga melihat apa yang Riani lihat.


"Ka--kamu lihat itu kan?"


Belum sempat Bayu menjawab pertanyaan atau sekadar menganggukkan kepala, suara decitan roda troli kembali terdengar.


Bulu kuduk mereka berdua meremang. Tubuh mereka bergetar ketakutan. Tangan mereka berdua saling menggenggam karena tidak ingin terpisahkan.


"Ki--kita harus kemana, Ri?" tanya Bayu dengan suara yang bergetar, ia juga ketakutan.


Riani menggelengkan kepala. "Aku nggak tahu, Bay," ujarnya yang mulai terisak.


"Aduh, Ri, nangisnya nanti aja. Sekarang pikirkan dulu kita harus apa? Ngapain?"


Riani menggeleng pasrah.


Sementara itu suara decitN troli semakin jelas terdengar.


"Aku nggak mau ketemu suster serem itu lagi, Ri. Kita harus kemana?!" ujar Bayu mendesak, namun tetap saja Riani hanya menggelengkan kepala dan menangis.

__ADS_1


Di ujung lorong sana ada sebuah kepala yang menyala, tidak terlihat tubuhnya. Sementara di bagian belakang, suara troli semakin jelas terdengar.


Bimbang dan bingung, entah mana yang harus dipilih saat ini untuk bisa kabur. Sekarang mereka berdua tengah di kepung.


Suara troli yang semakin mendekat membuat Bayu tidak bisa tinggal diam. Dia menggapai tangan Riani dan membawa perempuan itu ke sebelah lorong dengan rumput-rumput yang tumbuh liar berukuran besar.


***


Rita membuka kedua mata, ia mendapati Dwi yang tengah melipat baju-baju gantinya.


"Kemana anak-anak, Dwi?" tanya Rita yang lantas beranjak dari tidurnya, ia memposisikan tubuh menjadi setengah duduk di atas ranjang.


Sementara itu Dwi mengangkat kedua bahuny bersamaan. "Udah keluar dari tadi kalo, Nya, soalnya pas saya bangun juga mereka udah nggak ada."


Rita mengangguk.


"Nyonya mau sarapan?" tanya Dwi memberikan tawaran.


"Nanti dulu deh, Dwi, baru juga bangun." Rita menggelengkan kepala.


Tangan kanannya terjulur ke samping mengambil remot TV yang ada di atas nakas. Televisi berukuran 50inch itu menyala dan menayangkan sebuah acara memasak.


Satu jam berlalu dan Rita masih belum bosan menonton acara memasak itu. Dua orang host yang merupakan seorang laki-laki dan perempuan tampak seru memasak semur ayam dengan produk-produk yang sedang mereka iklankan.


Dwi mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu, Nya, coba saya buka dulu." Langkah kakinya berjalan menuju ke arah pintu. Pintu putih dengan ukiran bergambar buka itu dibuka perlahan dan kepala Dwi melongok ke depan. "Eh, Non Sella." Dwi berkata ramah. "Silahkan masuk, Non."


"Terima kasih, Mba," ujar Sella yang lantas berjalan masuk ke dalam ruangan dan pintu kembali ditutup.


"Sella?" tanya Rita, ia sedikit mengernyitkan dahi.


"Tante Rita apa kabar?" tanya Sella dengan tersenyum ramah, ia menyalami Rita dan memberikan rantang plastik yang entah berisi apa. "Tadi aku ada masak, Tante, barangkali mau cobain masakan aku, hehe. Tapi maaf kalau nggak enak."


"Duh ... harusnya nggak usah repot-repot gini dong, Sel." Rita menerima rantang plastik yang lantas ia letakkan di atas nakas.


"Nggak ngerepotin kok, Tante, malah aku seneng kalau Tante Rita suka masakan aku." Sella terkekeh. "Tante Rita gimana keadaannya? Udah baikan?"


"Udah kok, Sel, dari kemarin juga udah dibolehin pulang tapi sempet drop lagi."


Sela menganggukkan kepalanya, mengerti.


"Eh, denger-denger Pak Abdul juga lagi sakit ya?" tanya Rita mengubah topik pembicaraan.


"Iya kemarin, Tante, tapi sekarang udah baikan."

__ADS_1


"Sakit apa emangnya?"


"Ehm, meriang biasa." Sella menjawab dengan senyum yang sedikit terpaksa. "Eh, Riani di mana, Tan? Kok dari kemarin aku kaya nggak lihat dia di rumah ya?"


"Oh, Riani nggak berani di rumah sendirian sekarang jadi dia di sini terus sama Tante."


"Kenapa kok nggak berani?"


"Iya, gara-gara dikerjai sama Bayu."


"Bayu?" Sella mengernyitkan dahi, ia tidak mengenal nama yang disebutkan tadi.


"Iya, saudaranya Mba Dwi."


"Oh ...."


"Bukan Bayu, Nyonya, emang dasarnya rumah sekarang jadi agak serem," celutuk Dwi.


"Hush!" Rita menghentikan kata-kata Dwi. "Mereka berdua tuh emang suka halu gitu, Sel, jangan didengerin. Emangnya kamu ada denger sesuatu dari rumah Tante gitu? Kamu juga nggak diganggu, kan?"


Sella menggelengkan kepala. "Nggak sih, Tan."


"Nah iya makannya, mereka aja yang penakut." Rita melirik ke arah rantang plastik yang dibawa oleh Rita. "Kamu masak apa ini, Rit?"


"Oh, itu aku bikin kangkung sama tempe goreng, ada kulit krispinya juga, Tan, di bawah," jelas Sella.


Sementara Rita sibuk membuka rantang plastik itu. Tidak hanya lauk, tapi ada juga nasi di dalamnya.


"Sampai ada nasinya segala, Sel."


"Oh, hahaha." Sella terkekeh. "Takutnya nggak ada nasinya, Tan, lagian kan kayanya gimana gitu kalau cuma lauk doang."


"Iya juga ya kaya ada yang kurang, hahaha." Rita turut terkekeh. "Dwi, tolong dong pisahin ini, aku mau makan."


Pandangan mata Rita dan Sella mengarah ke Dwi yang masih sedang melipat baju ganti. Perempuan itu segera beranjak mendekat.


"Kamu mau makan juga?"


"Udah kok, Tante. Biar buat Tante Rita sama Mba Dwi aja."


Sella merasa senang karena makanan yang ia bawa dimakan dengan lahap hingga habis oleh Rita. Selama Rita menyantap makanan, Sella hanya melihat ke arah televisi.


"Kamu nggak lihat Riani tadi di luar?" tanya Rita, rantang plastik yang sudah kosong isinya itu kembali diletakkan di atas nakas.

__ADS_1


Sella menggelengkan kepala. "Nggak, Tan. Emang Riani bilangnya mau kemana?"


__ADS_2