
Kedua mata Riani perlahan terbuka, beberapa kali sepasang mata dengan manik coklat tua itu mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya.
Kini perempuan itu sudah berada di dalam kamar, Riani bisa mengetahui itu dari langit-langit yang tidak asing baginya. Perlahan Riani beranjak dari tidur, ia menoleh ke kanan dan ke kiri yang seketika gelap.
"Perasaan tadi terang banget, kenapa sekarang jadi gelap gini?" lirih Riani merasa aneh.
Tangannya terangkat dan meraba tengkuk lehernya, Riani merasakan hawa yang tidak biasa.
Merasa kurang nyaman berada dalam kamarnya yang gelap dan terasa pengap, Riani memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Langkah kedua kakinya berjalan gontai menuju ke dekat pintu ruang kamar, ia menekan beberapa saklar untuk menyalakan lampu kamar, namun lampu itu tidak kunjung menyala.
"Oh, apa mati lampu ya?" Riani bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tangannya yang telah menggenggam gagang pintu menarik pintu tersebut hingga terbuka. Langkah kedua kakinya terayun menuju ke luar. Keadaannya sama, gelap, tidak ada satupun cahaya yang terlihat.
"Ibu ... Mba Dwi ...." Kedua kaki Riani sangat berhati-hati menuruni anak tangga dengan tangan yang membantu dengan meraba-raba sekitarnya.
Tidak ada jawaban dari keduanya membuat Riani merasa ketakutan. Tujuan utamanya saat ini adalah pintu keluar utama karena ia ingin segera keluar dari dalam rumah yang gelap ini.
Namun samar-samar Riani mendengar ada suara dengkuran dari arah ruang santai yang ada di sebelah ruang makan. Rasa penasaran membuat Riani merasa bimbang, haruskan ia mendekat?
"Jangan-jangan itu Mba Dwi lagi tidur," lirih Riani, ia memutuskan untuk mendekat.
Riani masih terus berjalan dengan perlahan dan dengan kedua tangannya yang meraba sekitar. Meskipun ia sudah paham dengan lay out rumahnya, namun Riani merasa masih harus mengetahui apa yang ada di depannya, barangkali ada sesuatu yang menghalangi langkahnya.
Suara dengkuran itu semakin terdengar jelas, suaranya berasal dari ruang bersantai dengan tenis meja yang ada di bagian tengah ruangan.
__ADS_1
"Masa Mba Dwi tidur di sini bukan di kamarnya," lirih Riani sembari terus melangkah.
Semakin lama dalam kegelapan, kedua mata Riani seakan mengeluarkan cahaya sendiri sehingga ia bisa melihat ke sekitar dengan cukup jelas.
Tak ada siapapun di ruang bersantai ini dan suara dengkuran itu juga seketika menghilang. Riani menoleh ke kanan dan ke kiri melihat ke sekitar, ia tak mendapati Dwi atau siapapun selain dirinya sendiri yang semakin dirundung rasa takut.
"Sssttt ...."
Suara itu seketika membuat Riani menoleh, dalam kegelapan di tengah ambang pintu menuju ruangan Riani melihat seseorang yang sedang dalam posisi yang aneh.
Dari penglihatan Riani, ia melihat jika seseorang di ambang pintu itu adalah seorang laki-laki. Dia memiliki jenggot yang panjang berwarna hitam dan kulit yang coklat hampir di seluruh tubuhnya, bahkan Riani juga tidak bisa melihat apakah dia mengenakan pakaian atau tidak.
Posisinya yang aneh membuat Riani mengernyitkan dahi saat pertama kali melihatnya. Dia seperti sedang berjongkok dengan kedua tangan berada di depan sebagai tumpuan, namun salah satu kakinya berada di depan salah satu tangan. Sangat aneh, bukan?
"Siapa kamu?!" tanya Riani berusaha tegas meskipun ia ketakutan.
"A--ayah?"
"Dia bukan ayah kamu, Ri!" bentak seseorang yang seketika membawa Riani pergi dari ruangan ini.
Tubuh Riani dibopong paksa dan bahkan Riani tidak tahu siapa yang membawa tubuhnya. Namun didengar dari suaranya, dia adalah Bayu.
Pandangan mata Riani masih melihat ke arah yang sama, ke arah laki-laki yang Riani anggap sebagai ayahnya itu berada.
Saat Riani digendong oleh Bayu, Riani melihat laki-laki di ambang pintu itu berteriak tanpa suara. Dengan gerakan yang aneh dia berusaha mengejar Riani dan Bayu. Dia merangkak seperti seekor anjing, namun saat melangkah kedua kakinya bergantian berada di depan.
__ADS_1
"Cepat ... Cepat!" Riani memukul punggung Bayu untuk mempercepat pelariannya.
Hingga akhirnya Riani masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap, pengap dan penuh dengan debu.
Tubuh Riani diturunkan dalam ruangan itu. Pandangan mata Riani melihat ke arah pintu yang terus didobrak oleh sosok aneh yang mengejarnya tadi.
Dada Riani membusung dan mengempis dengan cepat, jantungnya berdetak hebat dengan nafas yang tak beraturan. Beberapa saat berlalu, pintu ruangan itu sudah tidak lagi didobrak oleh sosok yang ada di luar.
Riani merasa sangat lega, ia mendudukkan tubuhnya begitu saja karena kedua lututnya juga terasa sangat lemas seakan tak bisa lagi menopang beban tubuhnya.
"Terima kasih, Ba--" Riani tak melanjutkan kalimatnya.
Saat menoleh ke arah Bayu yang tadi membawanya ke dalam ruangan ini, ia melihat Bayu sudah dalam wujud yang sangat aneh. Di bagian atas kepalanya terdapat tanduk kecil yang menyeramkan, wajahnya keriput dengan mata yang terbuka lebar, kuit-kulit wajahnya kering dan beberap terlihat merah.
Sosok yang tadinya Riani anggap sebagai Bayu itu menyeringai lebar hingga bibirnya hampir sampai ke kedua telinga. Pada saat yang sama, Riani merasa nafasnya seakan terhenti. Ia tak bisa beranjak pergi dan terpaku pada satu titik dengan pandangan mata yangterus melihat ke sosok itu seakan terkunci.
Sosok tersebut memang sangat mirip dengan Bayu, namun versi yang sangat seram. Bagaimana bisa sosok tersebut menyerupai kekasih Riani?
Pintu ruangan terbuka dengan kuat hingga membuat suara yang keras. Riani menoleh dan mendapati seorang wanita tua yang berdiri di ambang pintunya.
"Nenek?" Riani merasa ragu, ia takut jika nantinya dia bukanlah nenek seperti sosok yang dia anggap sebagai Bayu, namun rasa takut membuat Riani mau tidak mau mendekat ke arah neneknya.
Meskipun sedikit kesulitan, Riani tetap berusaha untuk mendekat. Setidaknya jika dia juga bukan neneknya, dia sudah keluar dari ruangan pengap ini. Dan jika memungkinkan nanti, Riani akan berusaha keluar dari rumah ini secepatnya dan meminta bantuan kepada orang-orang yang akan dia temui di luar rumah.
Entah bagaimana Riani dan wanita tua itu kini sudah berada di bagian depan rumah. Di hadapan mereka berdua sudah ada sosok yang mirip seperti Bayu sedang terkapar tak berdaya di atas rerumputan.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di rumahku? Pergi! Pergi sekarang juga! Aku tidak sudi, aku tidak setuju jika kalian berdua bersama nanti!" Wanita tua itu berkata sembari menunjuk ke arah sosok Bayu yang sudah terkapar tak berdaya. "Kamu terlalu hina untuk cucuku yang suci, kamu, Agus dan Rita sama saja, kalian bertiga seharusnya berada di neraka!"