PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Rumah Sakit


__ADS_3

Bayu menganggukkan kepala. "Udah, Ri," jawabnya dengan senyuman.


"Kamu kerja di mana?"


"Di sini."


"Serius, Bay!" kesal Riani.


"Itu serius, Ri."


Riani mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti.


"Jadi Ibu denger kalau rumah sakit ini lagi butuh apoteker dan kebetulan Bayu ini juga dulu sekolahnya di farmasi. Jadi deh Ibu suruh Bayu buat daftar dan Alhamdulillah keterima. Mulai besok udah masuk," jelas Rita.


"Keren banget kamu, Bay! Baru daftar langsung diterima." puji Riani.


Riani menyesap thai tea yang sudah ia beli barusan. Langkah kakinya berjalan perlahan dengan Bayu yang berada di sebelahnya.


Berada terus-menerus di dalam kamar cukup jenuh. Setidaknya dengan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit ia bisa sedikit terbebas dari kejenuhannya.


Di kejauhan sana terlihat beberapa orang yang berkerumun dan berlarian, mereka menuju ke toilet perempuan.


Kedua mata Riani menyipit, ia mengernyitkan dahi. "Kok kaya rame banget di sana ada apa ya, Bay?"


Bayu menggelengkan kepala. "Nggak tahu tuh, coba yuk kita ke sana."


Keduanya sama-sama merasa penasaran. Langkah kedua kaki mereka berjalan cepat mendekat ke arah kerumunan itu berada.


"Ini ada apa ya?" tanya Bayu kepada salah seorang perempuan yang berdiri dekat pintu.


"Itu ada yang meninggal katanya," jawab perempuan dengan rambut diikat kuda.


"Meninggal?" tanya Bayu dan Riani hampir bersamaan.


Bayu sedikit berjinjit dari tempatnya berdiri. Ia bisa melihat kondisi toilet perempuan yang sudah penuh dengan para tenaga kesehatan. Tidak hanya itu, Bayu juga menemukan seseorang yang mencoba untuk membuka pintu toilet yang terkunci dari dalam.


Dari bilik sebelah, seorang perawat laki-laki memanjat toilet untuk melihat ke dalam bilik yang terkunci.


"Ada apa, Bay?" tanya Riani yang juga penasaran, namun dikarenakan tubuhnya yang tidak begitu tinggi, Riani hanya bisa melihat punggung-punggung orang lain di depan yang terus menghalangi penglihatannya.

__ADS_1


Bayu tak kunjung memberikan jawaban karena terlalu fokus dengan kejadian di dalam toilet perempuan. Suara orang-orang yang berbicara satu sama lain juga membuatnya tidak menyadari jika Riani baru saja bertanya.


Pintu toilet berhasil dibuka dan seorang perawat menyeruak masuk ke dalam. Dua perawat lain yang merupakan dua orang laki-laki menunggu di depan pintu dekat dengan tandu.


Tubuh perempuan dengan rambut panjang itu diangkat dan diletakkan di atas tandu.


"Minggir ... minggir!" perintah salah satu perawat.


"Duh kasihan banget."


"Kira-kira kenapa dia bisa meninggal ya?"


"Apa dia mengakhiri hidupnya sendiri?"


"Tapi denger-denger emang toilet ini serem tahu, rumah sakit aja udah serem apalagi toilet yang ada di dalam rumah sakit."


"Iya, mana sepi banget kan toilet ini mah."


Suara kerumunan orang yang tak jelas semakin keras terdengar. Riani dan Bayu turut memundurkan tubuhnya karena terdorong ke belakang juga oleh orang-orang di depannya.


Kali ini dari tempat Riani berdiri ia sudah bisa melihat dua perawat yang membawa tandu. Ada tubuh perempuan yang tergeletak lemas di atasnya. Perempuan itu berambut panjang, kedua matanya terpejam dan bibirnya pucat sedikit terbuka. Wajah itu miring tepat ke arah Riani berdiri sehingga ia bisa melihatnya dengan jelas.


"Loh, itukan ...." Riani menghentikan kalimatnya.


Pandangan mata Riani menoleh ke arah kanan, ia mendapati Bayu yang sedang menatapnya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Riani hanya menganggukkan kepala.


Tempat kejadian perkara mulai berangsur sepi tatkala tubuh perempuan itu sudah dikeluarkan dari sana. Riani melihat ke arah salah satu perempuan yang sedang menangis dan ditenangkan oleh seorang perempuan lain.


"Minum dulu nih biar kamu tenang."


Perempuan itu menurut.


"Kamu pasti kaget banget ya pas lihat ada mayat di sebelah."


Perempuan itu hanya mengangguk.


Terlihat dari bagaimana dia menangis, Riani merasa bahwa ada trauma yang sangat berat dalam dirinya. Riani terdiam sebelum akhirnya Bayu menggandeng tangannya untuk berjalan menjauh dari depan toilet perempuan.


Kini keduanya tengah duduk di taman dengan bulan purna yang bersinar terang berbentuk bulat sempurna di sebelah barat sana. Masih ada perasaan tidak menyangka dalam diri Riani bahwa perempuan yang bertemu dengannya itu telah tiada.

__ADS_1


"Kamu kenal sama dia, Ri?" tanya Bayu mengulangi pertanyaan yang belum sempat mendapat jawaban.


Riani menganggukkan kepala. "Aku ketemu sama dia pas lagi di toilet kemarin."


"Pas aku nungguin kamu lama banget?"


Riani mengangguk lagi. "Umur manusia nggak ada yang tahu ya, Bay." Seulas senyum tercipta pada bibirnya.


"Ya, gitu lah, Ri. Usia, jodoh, rezeki, takdir nggak ada yang tahu. Kita sendiri pun nggak tahu sedetik ke depan bakal kaya gimana kan?"


"Iya." Riani membenarkan ucapan Bayu. "Misteri." Riani terdiam beberapa saat. "Kira-kira ... dia meninggalnya kenapa ya?"


"Nggak tahu juga deh, Ri," jawab Bayu.


Keheningan terjadi di antara mereka berdua selama beberapa saat.


"Sebenarnya pas aku ke toilet itu tuh aku denger ada orang nangis, Bay."


"Apa dia depresi dan memutuskan mengakhiri hidupnya?" tanya Bayu dengan segera.


Riani menggelengkan kepala. "Aku rasa nggak, dari kesan pertama bertemu aku udah ngerasa kalau dia itu ceria dan pemberani. Dan suara orang nangis itu bukan dari dia."


"Terus jadi itu suara tangisan siapa?" Dahi Bayu mengernyit.


Pandangan mata Riani menatap Bayu dengan lekat. "Ada sosok lain di dalam toilet itu. Apa dia ada di bilik paling ujung?"


Bayu hanya menganggukkan kepala.


"Nah, di situ juga aku denger suara nangis itu. Terus pas aku mau keluar dia datang buka toilet paling ujung terus masuk ke dalam. Awalnya kan aku kira itu suara tangisan manusia makannya aku nunggu dia keluar, tapi ternyata di bilik toilet paling ujung itu nggak ada siapa-siapa. Dia juga bilang ke aku kalau dia udah sering denger suara orang nangis di situ, dia juga bilang ke aku suruh berani, kalau denger suara atau lihat sesuatu itu sebaiknya samperin jangan malah pergi," jelas Riani panjang.


"Apa mungkin ...." Bayu tak menyelesaikan kalimatnya.


"Itu yang aku takutkan, Bay."


"Kamu nggak bisa lihat sosok itu, Ri?" tanya Bayu kemudian.


Riani menggelengkan kepala. "Pas aku di situ sih aku nggak lihat apa-apa, Bay. Aku juga nggak mau lihat sosoknya gimana, takut serem. Aku tuh sebenernya penakut tahu!"


"Barangkali aja kamu bisa menyelediki kasus kematian perempuan tadi, Ri. Kamu tanyakan aja apa kesalahan perempuan itu sampai bisa meninggal, kan biar jadi peringatan juga untuk yang lainnya biar nggak melakukan kesalahan yang sama dan toilet itu juga nggak merenggut korban lain."

__ADS_1


Pandangan mata Riani menatap ke arah Bayu. Apa yang baru saja diucapkan oleh Bayu sedikit menarik perhatian Riani. Apalagi dirinya juga merasa penasaran dengan alasan mengapa perempuan tadi ditemukan meninggal di dalam bilik toilet itu begitu saja.


"Tapi ... aku takut, Bay."


__ADS_2