PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Ada Apa


__ADS_3

"Masa sih?!" Dahi Sella mengernyit.


Riani mengangguk pasti, ia benar-benar tidak salah mendengarnya. "Apa jangan-jangan--"


"Nggak mungkin, Ri," potong Sella begitu saja. "Aku pernah tanya ke ayahku apa ayah mau menikah, tapi dia bilang dia nggak mau nikah lagi dan mau fokus besarin aku aja. Aku tahu betul kalau ayah paling bisa dipercaya omongannya, aku juga yakin ayahku setia dengan cintanya. Oh, terus juga kamu tahu sendiri kan ayahku lumayan agamis, nggak mungkin lah kalau sampai berhubungan sebelum nikah sama ibu kamu."


Mendengar Nindira yang terus berbicara seakan tak ada hentinya, Riani menundukkan kepala. "Maaf kalau seandainya kalimatku menyinggung hati kamu, Sel."


"Nggak papa," jawab Sella dengan cuek kali ini.


Beberapa detik tidak terjadi perbincangan apapun di antara keduanya, mereka semua sama-sama terdiam dan masuk ke dalam pikiran masing-masing.


"Ri," panggil Sella.


Mendengar namanya disebut, pandangan mata Riani menoleh ke arah sumber suara. "Iya, kenapa, Sel?"


"Ehm, maaf ya kalau selama beberapa hari ini aku cuma bisa kirimin kamu makanan. Aku--"


"Nggak papa, aku tahu kamu sibuk. Oh, ya, gimana usaha kamu?'


Nindira terlihat tersenyum palsu, ia menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu. "Gitulah, Ri. Ya ada aja sih setiap harinya pemasukan mah."


"Syukurlah kalau kaya gitu, Sel. Aku ikut seneng dengernya." Riani tersenyum. "Hidup kamu ... bahagia banget ya, Sel. Kamu juga udah bisa punya usaha sendiri di usi muda."


Tidak ada sepatah katapun yang dilontarkan oleh Sella, ia hanya memberikan senyuman kepada Sella atas pujian serta sindiran yang mengandung rasa minder akan dirinnya sendiri.


Keduanya menjadi cukup canggung, tidak ada banyak hal yang bisa dibicarakan oleh keduanya lagi.


"Aku tinggal ke atas nggak papa ya, Sel, aku mau ngasih sup ini ke ibu, takutnya nanti keburu dingin."


"Ehm, iya nggak papa aku juga mau pulang kalau gitu."


"Sel," panggil Riani sebelum ia melangkahkan kedua kaki. "Aku ... boleh minta tolong sama kamu?"


***


Beberapa hari berlalu.

__ADS_1


Riani memandangi dirinya sendiri pada pantulan cermin, pandangan matanya menatap ke arah perut yang mulai membuncit.


"Apa iya secepat ini?" lirih Riani, tangannya terangkat untuk mengusap perutnya yang masih cukup rata.


Tiba-tiba saja, Riani mendengar suara seperti pintu yang dibuka. Pandangan matanya melihat ke arah pintu kamar yang masih tertutup. Dari ekor matanya, Riani melihat pantulan dirinya pada cermin sama sekai tidak bergerak. Cepat-cepat Riani kkembali melihat ke arah sebelumnya, ia melihat pantulan dirinya pada cermin masih tetap normal seperti biasanya.


Aneh, tapi mungkin hanya perasaannya saja. Apalagi hal tersebut terjadi hanya dalam beberapa detik saja.


Riani melupakan hal tersebut, langkah kedua kakinya keluar dari kamar untuk menemui siapa yang datang.


Menuruni anak tangga, Riani melihat Sella yang berjalan masuk ke dalam rumah sembari membawa sebuah kantong plasik dengan ukuran sedang.


"Gimana kondisi kamu, Ri?"


"Aku sehat aja, kamu gimana?"


"Ya, seperti yang kamu lihat." Sella kemudian terkekeh. "Oh ya, ini aku udah bawain kamu stok makanan selama seminggu. Nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung kabari aku aja."


Riani tersenyum melihat temannya yang sedari kecil selalu baik kepadanya. "Makasih banyak ya, Sel." Bungkusan plastik berukuran sedang itu beralih ke tangan Riani. "Orang-orang di sini belum ada yang tahu kalau aku udah di rumah kan?"


"Belum ada, kok, asalkan kamu nggak menampakkan diri di hadapan mereka, mereka tahunya ya kamu masih entah ada di mana."


Keduanya terkekeh.


"Eh, gimana keadaan Tante Rita?"


"Masih kaya sebelumnya." Senyuman pada wajah Riani memudar. "Bahkan ibu juga makin hari porsi makannya makin sedikit."


Tidak hanya pada Riani, senyuman pada wajah Sella juga memudar usai mengetahui tidak ada perkembangan yang justru keadaan Rita semakin menurun. "Kamu nggak mau coba bawa ke rumah sakit?"


"Aku nggak ada cukup uang buat itu, Sel." Riani menghembuskan nafasnya. "Aku udah coba bilang ke ibu baik-baik dia malah ngasih syarat."


"Syarat? Syarat apa?"


"Katanya kalau aku mau bawa ibu ke rumah sakit, aku harus mau dinikahkan sama Bayu."


"Kok gitu?"

__ADS_1


Riani mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu juga aku, Sel. Kaya gini aku tambah bingung. Kalau aku nggak tetap nggak mau nikah sama Bayu, kondisi ibuku juga makin memburuk kan setiap harinya. Aku nggak tahu harus gimana, Sel."


"Ehm, aku boleh nggak ngobrol sama Tante Rita?'


"Boleh aja," ujar Riani. "Ayo ke atas."


Langkah kedua kaki Riani terlebih dahulu menaiki anak tangga. Pintu kamar Rita dibukakan olehnya.


"Bu, ini ada Sella mau ketemu sama Ibu katanya."


Di atas tempat tidur, Rita sama sekali tidak bergeming. Posisinya miring membelakangi Riani, tapi ia tidak sedang tidur karena Riani juga baru saja dari kamarnya untuk mengantarkan segelas susu.


"Kamu mau aku tinggal apa gimana?" tanya Riani dengan suara lirih.


"Ehm, kalau bisa sih aku berdua aja sama Tante Rita, Ri."


Riani menganggukkan kepalanya setelah merasa mengerti. Memang mungkin lebih baik jika ia membiarkan Sella berbicara empat mata dengan ibunya. Siapa tahu hasil yang akan dia dapatkan juga lebih baik daripada apa yang sebelumnya sudah ia lakukan.


Sesaat setelah Sella masuk ke dalam ruangan, Riani menutup pintu kamar itu kembali. Kedua kakinya kembali menuruni anak tangga satu-persatu. Bungkusan plasti yang tadi ia letakkan di atas meja ruang tengah ia ambil dan bawa ke dapur.


Sedikit banyak Riani tahu dimana saja penempatan bahan masakan ini, ia sering melihat dan bahkan membantu Dwi untuk melakukan hal ini.


Semua bahan makanan dan kebutuhan selama satu minggu sudah ia masukkan ke dalam lemari dan kulkas. Riani beranjak untuk kembali ke ruang santai dan menunggu Sella yang masih sedang berbincang dengan ibunya.


Sementara itu di dalam kamar, Sella berjalan mendekat ke arah ranjang. Bau tak sedap tercium jelas siring dengan langkah kedua kakinya yang semakin mendekat. Entah kapan terakhir kali Rita mandi dan membersihan tubuhnya, Sella juga tidak tahu pasti.


"Tante Rita," panggil Sella dengan suara yang lembut.


Tidak ada jawaban apapun dari perempuan yang kini terbaring membelakangi dirinya.


"Tante gimana keadaannya?" lanjut Sella, ia masih belum mendapatkan respon apapun. "Tante ke rumah sakit yuk sama Sella. Kalau kaya gini terus kapan Tante bisa sembuh?"


"Nggak ada yang perlu disembuhkan." Rita menjawabnya dengan lirih.


"Tante sakit, Tante perlu disembuhkan." Sella berusaha membujuk.


"Ini bukan sakit biasa."

__ADS_1


"Iya makannya kita ke rumah sakit, Tan, biar di sana Tante juga dapat perawatan yang lebih bagus."


"Percuma, umur Tante tinggal beberapa hari lagi."


__ADS_2