
Permintaan maaf dari Gendhis tak ditanggapi oleh Riani. Sesaat setelah perempuan itu meminta maaf, pemilik restoran datang untuk membuka pintu.
Hari ini Riani tidak bisa bekerja dengan semangat, ia terus teringat dengan perkataan Gendhis serta beberapa pegawai lain yang mengatakan kondisi wajahnya.
Sepanjang hari Riani berkutat dengan smartphone restoran dan smartphone pribadi. Ia merespon pelanggan yang memesan makanan, menyiapkan pesanan mereka dan mengantarkannya. Riani tidak berkomunikasi dengan siapapun hari ini setelah ia berkomunikasi dengan Gendhis tadi pagi.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, berangsur-angsur orderan mulai lambat berdatangan tidak secepat sebelumnya.
Riani kembali ke restoran untuk mengambil pesanan makanan yang lain dan mengantarkannya kembali ke tujuan. Tidak seperti sebelumnya, kali ini pesanan makanan yang harus diantar lebih sedikit.
Sepeda motor matic yang dikendarai Riani melewati jalanan yang cukup ramai siang ini, kendaraan pribadi terlihat melintas dan lebih mendominasi.
"Gang mawar," lirih Riani sembari membaca pesan singkat berisi alamat dalam smartphone kantor, lantas mencocokkannya dengan papan nama kecil bertulisan nama gang.
Pandangan matanya melihat ke arah gang yang masih bisa dilalui oleh mobil, ia melajukan sepeda motornya menyusuri jalanan gang yang dicor itu.
"Dua delapan ... dua sembilan ... nah, ini dia," ujar Riani merasa senang karena sudah sampai di tempat tujuan.
Setelah mengambil sebungkus makanan dari dalam kotak yang ada di bagian belakang sepeda motornya, Riani mendekat ke arah rumah berwarna biru langit dengan pintu putih itu.
"Permisi ...." Riani setengah berteriak. Masih belum mendapatkan jawaban, Riani kembali mengetuk pintunya. "Permisi ...." Kali ini suaranya lebih keras.
Tanpa jawaban dari dalam atau suara langkah kaki yang terdengar terlebih dahulu, tiba-tiba saja pintu di hadapan Riani terbuka membuat kedua matanya seketika terbelalak lebar.
"I--ini pe--pesanannya." Riani tak kuasa untuk melihat wajahnya.
Bagaimana tidak? Di hadapan Riani sekarang berdiri seorang laki-laki dengan dada yang tak ditutupi apa-apa. Otot-ototnya terbentuk sempurna dan perutnya membentuk kotak-kotak.
"Ka--kamu ma--manusia, kan?" Pandangan mata Riani menyusuri perut, dada, leher hingga wajah laki-laki itu. Dia tidak asing. "Ka--kamu bukannya ...." Riani merasa mengenali laki-laki di hadapannya.
"Toyalnya delapan puluh tiga ribu lima ratus, kan?" tanyanya tanpa eskpresi.
Riani menelan salivanya kuat, ia tak kuasa bersuara hanya mampu menganggukkan kepala.
"Riani!"
Pandangan mata Riani melihat ke arah sumber suara, ia melihat teman dekatnya ada di dalam rumah itu.
'Nindira? Apa laki-laki ini pacarnya dia?'
Seketika Riani merasa kecewa, ia tidak suka melihat keberadaan Nindira berada dalam satu rumah yang sama dengan laki-laki di hadapannya, padahal tanpa disadari dirinya juga telah membuat kecewa kekasihnya sendiri.
Bungkusan plastik dalam genggaman tangan Riani diambil paksa oleh laki-laki itu, ia juga menyerahkan sejumlah uang.
__ADS_1
"Kembaliannya bawa aja."
Kata-kata tersebut sangat menyenangkan didengar oleh Riani. Ia memberikan senyuman termanisnya. "Terima kasih banyak."
"Masuk dulu yuk, Ri."
"Ehm, maaf tap--"
Belum sempat Riani menyelesaikan kata-katanya, tangan Riani sudah ditarik masuk ke dalam.
Ini tidak benar, bagaimana mungkin di dalam ruangan terdapat satu laki-laki dan dua perempuan? Bagaimana jika ada yang melihat mereka nanti?
"Duduk dulu, Ri, biar aku ambil minum dulu."
Lagi-lagi, belum juga Riani menjawab, Nindira sudah masuk semakin dalam ke rumah ini.
Dari tempat Riani duduk, ia melihat laki-laki yang sama yang dia temui di kampus sedang berada di ruang keluarga.
"Kamu kenal sama dia?"
"Pernah kerja di mall sama aku dulu, kenalan gih, Kak!"
"Apaan sih kamu, Ra!"
'Kak?' batin Riani. 'Apa hubungan antar mereka sebemarnya?'
Tidak lama kemudian, Nindira kembali ke ruang tamu dengan segelas air putih di tangannya.
"Maaf ya, Ri, cuma ada air putih ternyata. Kakak aku itu terlalu hemat sih," kesal Nindira sembari melirik sinis ke arah laki-laki yang duduk tidak jauh dari televisi. "Ini pesen makanan juga tadi dipaksa dulu sama aku." Nindira turut mendudukkan tubuhnya tidak jauh dari Riani.
"I--iya, nggak papa." Riani mengangguk kaku. "Dia ... siapa emangnya, Ra?"
"Kakak aku," jawab Nindira sembari menyantap nugget yang dia ambil dari kakaknya.
"Kakak?" Riani sedikit terkejut mendengarnya.
"Kenapa? Ganteng kan?"
Riani tersenyum. "Namanya laki-laki ya ganteng, Ra."
Keduanya lantas berbincang membahas hal-hal acak. Nindira menceritakan keadaan mall yang sudah membaik sementara Riani menceritakan pekerjaannya yang sekarang.
"Udah lama juga aku di sini, aku pamit ya, Ra, takut dicariin anak resto." Riani sedikit beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Oh, ya udah deh, hati-hati ya." Nindira turut beranjak dari duduknya. "Eh, tunggu bentar, Ra."
Nindira masuk ke dalam dan menghampiri kakaknya yang Riani sendiri belum mengetahui siapa. Dia sedikit berbisik padanya, entah mengatakan hal apa.
"Nih, buat kamu." Nindira menyerahkan sebotol air mineral. "Diminum ya sampai habis."
"Apa ini?" tanya Riani mengernyitkan dahi, ia menerima sebotol air tersebut.
"Air minum aja biar kamu nggak kehausan, tapi ini spesial."
"Spesialnya?"
"Dari aku."
Riani terkekeh mendengarnya. "Thanks ya." Tangannya yang memegang botol itu diangkat sedikit.
Sepeda motor matic milik restoran kembali melaju menyusuri jalanan. Rasa haus yang tak tertahankan karena cuaca yang juga sedang sangat terik membuat Riani memutuskan beristirahat di bawah pohon rindang.
"Pengertian banget si Ira," ujar Riani sembari membuka tutup botol itu.
Perlahan air mineral tersebut diteguk hingga tersisa setengah. Riani masih berada di atas sepeda motor, terduduk melihat beberapa kendaraan yang melintas.
Menoleh ke sebelah kanan, Riani merasa tidak asing dengan tempat ini.
"Bukannya ini pemakaman umum ya?" Pandangan mata Riani mencoba untuk melihat lebih jauh.
Ia menyadari sekarang berada di sisi barat pemakaman, tiba-tiba ada keinginan untuk mengunjungi makam ayahnya di pemakaman umum ini.
Riani memarkirkan sepeda motornya, ia lantas berjalan kaki menuju ke sebuah makam yang berada di tengah-tengah pemakaman.
Pohon kamboja yang ditanamnya sudah cukup besar dan melindungi makam ayahnya dari sinar matahari. Perlahan bibir Riani tersenyum, namun kedua matanya menangis.
"Riani rindu, Yah," ucap Riani dengan suara yang sedikit bergetar.
Tangan Riani mengusap gundukan tanah merah yang kering karena sudah beberapa minggu tidak turun hujan, tapi tiba-tiba Riani merasa ada yang aneh dengan gundukan tanah yang dipegangnya.
"Apa ini?" Riani mencoba menggalinya sedikit, ia menemukan sebuah kain putih kecil dari dalam tanah yang ia gali.
Mendapati benda aneh tersebut, tentu saja Riani semakin mengernyitkan dahi. Sebuah kain putih yang sudah lusuh dan kotor karena tanah berada dalam genggamannya. Kain tersebut seperti digunakan untuk membungkus sesuatu.
Bentuknya menyerupai sebuah permen, Riani memutar kedua ujungnya membuat kain itu kini terbuka dan menunjukkan isi di dalamnya.
Benda-benda aneh ditemukan Riani di dalam bungkusan itu, ia juga menemukan kertas sebuah kecil yang digulung dan sudah begitu lusuh. Riani membuka dan membaca isinya.
__ADS_1
"Riani Sulistyowati Budiono binti Agus Budiono."