
Pukul sepuluh siang, Riani sudah berada di halte. Ia menunggu bus yang akan mengantarkannya ke suatu tujuan.
Melihat ke arah jam tangan berwarna putih yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih tujuh belas menit.
"Lama banget bisnya," lirih Riani sembari melihat ke arah datangnya bus. Namun belum terlihat bus yang mendekat ke arahnya.
Halte semakin penuh, beberapa ada yang memutuskan untuk pergi beberapa yang lain tetap tinggal di sini, termasuk Riani. Ia masih cukup sabar untuk menanti.
Tiga menit berlalu, Riani mendapati salah satu orang berdiri. Melihat ke arah datangnya bus, terlihat bus yang ditunggu-tunggu sedari tadi sudah datang.
Riani turut beranjak dari duduknya, ia berjalan mendekat ke bahu jalan.
Sebuah bangku kosong yang berada di tengah dan dekat jendela menjadi incaran Riani, ia mendudukkan tubuhnya dan memasang headset untuk kemudian mendengarkan musik selama perjalanan.
Belum lama setelah bus berjalan, Riani merasa ada yang menepuk bahunya. Menoleh ke sebelah, Riani mendapati seorang perempuan tua yang tersenyum ke ke arahnya.
"Kenapa, Bu?" tanya Riani dengan ramah, ia juga melepas headset yang masih memutar sebuah lagu.
"Mau ke mana?"
"Ehm, ke rumah sakit," ujar Riani tersenyum.
Wanita tua itu menganggukkan kepala. "Hati-hati, ya."
"Emangnya kenapa?" tanya Riani mengernyitkan dahi.
"Nggak papa." Wanita itu menggelengkan kepala. "Hati-hati aja."
Riani mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya merasa penasaran. "I--iya, Bu."
"Beruntung kamu punya teman yang setia, dia jagain kamu tanpa kamu tahu."
"Iya, Bu." Riani kembali mengangguk pelan, meskipun ia bingung kenapa wanita asing yang tidak dikenalnya itu bisa tahu jika ia memiliki teman yang sangat baik.
Bus berhenti di sebuah halte dan Riani beranjak dari duduknya. "Saya duluan, Bu."
Wanita itu mengulum senyum, tak mengatakan apapun, ia hanya nengangguk pelan.
Turun dari bus, Riani tak memikirkan lagi perkataan wanita asing di dalam bus itu. Langkah kedua kakinya segera menuju ke sebuah bangunan yang hampir semuanya dicat putih.
Keadaan rumah sakit hari ini cukup ramai, Riani duduk bersama dengan orang-orang lain yang juga sedang menunggu antrian untuk diperiksa.
"Nona Riani."
Mendengar namanya dipanggil, Riani segera beranjak dari duduknya. Ia berpapasan dengan seorang pasien yang baru keluar dari ruangan.
Proses pemeriksaan berjalan dengan lancar, Riani mengikuti semua langkah-langkah yang diberitahukan oleh seorang dokter perempuan berkacamata dan berambut pendek.
__ADS_1
"Semuanya normal."
"Normal?" tanya Riani heran.
Dokter tersebut mengangguk pasti. "Semuanya normal, setelah dicek tadi Nona Riani sehat-sehat aja."
"Padahal tiap malem saya selalu sakit kepala, terus juga kadang kerasanya badan kaya berat banget gitu. Masa nggak ada penyakitnya, Dok?"
"Semuanya normal, Nona Riani."
Berjalan keluar dari ruangan, Riani dirundung kebingungan. Benar apa yang dikatakan Sella jika yang mengalami sakit yang aneh.
'Apa ini ada hubungannya sama omongan Dwi kemarin?'
"Riani!"
Seseorang menepuk pundak Riani membuat ia yang sedang memikirkan penyakitnya sedikit tersentak.
"Gendhis?"
"Riani, ya ampun, Ri. Semua orang nyariin kamu, kamu abis kemana aja selama ini?"
Sudah tidak ada lagi waktu untuk Riani menghindar dari pertemuan ini. Mau tidak mau ia harus berbicara dengan Gendhis.
Keduanya kini sudah berada di kafetaria yang ada di dalam rumah sakit. Di atas meja yang ada di tengah mereka terdapat dua gelas es jeruk yang masih penuh dan belum berkurang sedikitpun.
Riani menceritakan semua yang telah terjadi beberapa hari ini kepada Gendhis. Sepanjang bercerita, Gendhis hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.
"Kemarin malam." Riani menjawab dengan nada putus asa.
"Maaf tapi ... kamu islam kan?"
Riani mengangguk. "Iya."
"Apa kamu beribadah?"
Sejenak Riani terdiam, ia tidak langsung menjawabnya. "U--udah lama nggak," jawab Riani dengan sedikit ragu.
Terdengat lenguhan nafas dari Gendhis seakan ia tahu kenapa semua ini bisa terjadi. "Coba deh kamu beribadah, Ri, siapa tahu ada bedanya."
"Ta--tapi aku udah lupa."
"Duh, gimana ya. Kamu bisa lihat aja di HP tutorialnya, atau kamu beli buku tuntunan sholat. Di situ udah jelas kok semuanya. Aku juga nggak bisa ngajarin kamu kalau sekarang, Ri, soalnya aku harus berangkat siang."
"Nggak papa kok, Ndhis. By the way, makasih ya sarannya."
Gendhis mengangguk. "Maaf ya, Ri, kalau kesannya kaya ngajarin gitu. Tapi dari yang aku denger kalau orang rajin sholat itu nggak bakal kena gangguan kaya gini."
__ADS_1
"Nggak papa kok, Ndhis. Aku malah seneng diingetin kaya gini sama kamu."
"Oh ya, kamu tahu nggak sih kalau di restoran kamu udah ada gantinya lagi?"
Riani mengangguk lemah. "Aku udah bilang sama bos kalau aku nggak kerja lagi, aku ngerasa nggak siap buat ketemu banyak orang lagi, Ndhis. Apalagi kerjaan aku kan harus ketemu sama orang-orang."
"Terus sekarang kamu sibuk apa?"
"Nggak ada," ujar Riani menggelengkan kepala. "Saat ini aku belum kerja apa-apa."
"Terus buat hidup kamu?"
"Aku ngandelin gaji bulan lalu, Ndhis."
"Kamu mau kerja dari rumah nggak? Aku ada temen yang lagi butuhin editor."
Riani terdiam sejenak. "Ehm ...." Ia nampak berpikir. "Tapi aku nggak pengalaman jadi editor, gimana ya?"
"Santai aja, nanti diajarin. Nanti aku kasih nomornya deh biar kamu tanya-tanya dulu. Dia asik kok orangnya jadi nggak perlu ngerasa sungkan."
Kabar dari Gendhis seakan sebuah angin segar dalam kehidupan Riani yang gersang. Tanpa berpikir lagi, Riani menganggukkan kepala mengiyakan tawaran itu.
Pukul dua belas siang, Riani kembali di rumahnya. Kalimat Gendhis selalu terngiang dalam kepala.
Usai menggantung tas selempang di tempatnya dan berganti pakaian mengenakan baju yang lebih santai, Riani segera masuk ke dalam toilet untuk berwudhu.
Semuanya berjalan dengan lancar, Riani menyalakan sebuah video yang menuntunnya untuk melakukan gerakan ibadah dan bacaan yang harus dia lafalkan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Kedua tangan Riani diangkat dan mengusap wajahnya. Haru, merinding dan juga perasaan bersalah menyelimuti hati Riani.
Entah sudah berapa puluh tahun lamanya ia tidak merasakan ketenangan ini lagi. Sejuk, damai, Riani merasa malu kepada dirinya sendiri.
***
Seperti dua malam sebelumnya, Riani merasa kepalanya mulai pening sesaat setelah menyelesaikan ibadah. Kali ini bahkan terasa lebih sakit daripada dua malam sebelumnya.
Tanpa melepas mukenah, Riani berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
"Kenapa ini lebih sakit?" lirih Riani sembari terus berusaha untuk menahan rasa sakit itu.
Tidak hanya kepala, namun sekarang perutnya juga terasa sakit seperti ditusuk-tusuk.
"HAHAHAHAHA ...! HAHAHAHA ...!"
Suara tawa yang menggelegar itu terdengar jelas, entah siapa. Namun Riani merasakan jika suara itu berasal dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Dalam pandangan yang buram, Riani bisa melihat ada sesosok yang mendekat dan hendak mencengkram perutnya dengan kuku-kuku yang panjang dan tajam.
"JA--JANGAN, KUMOHON JANGAN!!!"