PILIHANKU

PILIHANKU
Episode 9


__ADS_3

"Untuk ala? Lagian masih lama, lebih baik aku membeli video game terbaru saja." Jawabnya ketus. "Agar nanti tidak usah berkemas lagi." Lanjutku. Dia tidak memperdulikannya, sekarang dia semakin asyik memiliki video game, sudahlah. Aku dan Citra meninggalkan nya di toko video game itu, kami melanjutkan dengan membeli bahan makanan dan selimut hangat untuk 4 orang. Setelah semua sudah kami beli, kamipun pulang, semua barang keperluan yang telah kami beli, disimpan di rumah Citra.


"Baiklah, keperluannya telah kita beli, tinggal kita lihat, apakah 2 binatang itu benar-benar membeli yang dibutuhkan saja." Benar juga, Ranel dan Rian, apakah mereka membeli keperluan dengan benar atau tidak? "Lihat saja nanti, semoga mereka tidak membeli barang yang tidak berguna." Aku berpamitan pada orang tua Citra, lalu pulang. Aku tidak tau Ali pergi kemana setelah membeli video game yang dia beli tadi, sepertinya dia pulang. Dasar laki-laki, sukanya hanya bermain game saja.


Aku memutuskan untuk membuka ponsel ku dan menghubungi Ali.

__ADS_1



Kira-kira seperti itu. Jawaban Ali selalu singkat jika aku mengirim pesan. Karena dia sudah di rumah akupun jadi tenang. Beberapa hari kemudian, saatnya kami berangkat untuk study lapangan. Kami naik bus menuju desa di pegunungan itu. Dijalan kami bernyanyi, bermain dan melakukan hal yang menyenangkan lainnya. Hanya Ali yang terlihat diam, dia hanya melihat keluar jendela bus. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. "Apa yang kamu lihat?" Aku menepuk pundaknya. "Hanya hamparan pesawahan." Jawabnya singkat, aku mencoba untuk melihat lebih dekat dengan jendela.


"Hei apa yang kamu lakukan?" Astaga si Ali ini bisa minggir sebentar tidak sih, aku juga ingin lihat. "Bisa tolong geser ke sebelah sana? Aku juga ingin melihatnya." Seruku. "Enak saja, ini tempat duduk ku. Kamu duduk saja di tempat lain." Ali menahan tubuhku yang ingin menyingkirkan nya. "Nggak mau, kamu aja yang pindah tempat duduk." Aku dan Ali tampak saling menahan, sampai...

__ADS_1


Sebuah polisi tidur, aku dan Ali terjatuh dengan posisi Ali dibawah tubuhku. Semua orang tampak melihat kami. Aku bergegas memperbaiki posisiku. Aku tau itu sangat buruk, wajahku memerah sekarang, Astaga malunya. "Ali, Mika apa yang kalian lakukan?" Guru pembimbing mendekati kami. "Ka-kami hanya berebut kursi Bu." Jawabku panik. "Kalian ini, sudah besar masih saja mempeributkan hal sepele ini." Semua orang tertawa, guru pembimbing pun kembali ke tempat duduk nya di depan.


"Huuhh... Ini semua salahmu, aku jadi malu." Aku memarahi Ali. "Kamu sendiri yang memulainya." Ihh, rasanya ingin memukul anak ini sekencang mungkin. 30 menit berlalu, kami akhirnya sampai di desa itu. "Baiklah anak-anak, kalian persiapkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki hutan ini." Guru pembimbing tampak kerepotan mengurusi siswa-siswa ini. Kami meletakan perlengkapan yang kami bawa di sebuah penginapan, setiap kelompok memiliki penginapan sendiri. Yang aku tidak suka adalah, penginapan ku dekat dengan sumur dan pohon dengan ayunan tua tepat di belakang penginapan. Hii, menakutkan.


Setelah itu aku pergi menuju tempat berkumpul. Hari mulai gelap, ya memang kami ditugaskan untuk mencari tanaman yang bisa menyala dalam gelap. Aku Citra Ranel dan Rian berjalan di depan kami dengan membawa senter. "Nel, apa benar di sebelah sini ada tanaman itu?" Rian terlihat ketakutan. "Iya aku yakin, waktu itu aku dan orang tuaku pergi berkemah ke sini, dan menemukan tanaman itu." Perkataannya tidak bisa di percaya, sejak tadi kami berputar-putar tidak ada 1 pun tanaman yang bercahaya itu.

__ADS_1


"Aku rasa kita tersesat deh, lihat hutan ini begitu lebat." Eh benar juga kata Rian, sudah 40 menit kami menelusuri hutan ini, dan lihat kami tidak meninggalkan jejak untuk arah jalan pulang. "Dasar bodoh, aku sudah bilang biar aku yg jalan duluan, kalian memang tidak bisa di percaya." Citra mengamuk di depan sana. Aku ketakutan, dan tiba-tiba aku...


__ADS_2