
"Mika, kamu kenapa?" Aku terjatuh, kakiku rasanya sangat sakit, entah apa yang terjadi, sepertinya ada serangga yang menggigit nya. "Kalian berdua cepat cari bantuan sana!" Citra menyuruh Ranel dan Rian. "Enak aja, kita juga tersesat, bagaimana cara mencari bantuan jika kita tersesat?" Ranel dan Citra berdebat, sementara aku dan Rian hanya melihat dan mendengarkan. "Sudahlah kalian ini, tidak usah bertengkar segala, lebih baik kita pikirkan cara untuk bisa pergi dari hutan ini." Rian ada benarnya juga, tumben sekali dia berkata hal yang bermanfaat.
Citra memapah ku berjalan, sementara Ranel dan Rian berjalan di depan kami dengan senter yang kami bawa. "Astaga sepertinya kita sudah terlalu dalam masuk ke hutan." Ranel berkata kesal. "Ranel jangan bilang gitu, aku jadi takut." Tubuh Rian gemetaran. Kami melanjutkan perjalanan. Aduhh, sepertinya aku menginjak sesuatu..." aaaaaaaaa....." aku berteriak sangat keras, sampai Ranel, Rian dan citra berlari terbirit-birit entah kemana. Aku di tinggal sendiri, Citra yang biasanya berani ternyata bisa ketakutan juga.
__ADS_1
Aku masih terduduk di tempat itu karena kakiku masih sakit, ternyata aku menginjak papan nama kuburan tua dan aku tepat di samping kuburan tua itu. Tubuhku seketika merinding dan kaku aku tak tau harus berbuat apa, yang jelas aku ketakutan. Beberapa saat kemudian, aku masih terdiam seperti batu. Aku benar-benar butuh pertolongan, entah kemana Citra, Ranel dan Rian, sepertinya mereka juga tersesat. Aku mulai kedinginan, angin berhembus cukup kuat. Disaat yang bersamaan, terdengar langkah kaki besar dan berat sedang mengarah padaku.
Langkah tersebut terdengar semakin dekat, aku mencoba untuk tidak berpikiran negatif, aku lantas berteriak Tolong tolong... dan seperti nya berhasil, langkah itu semakin dekat dan dekat. Dia menyalakan lampu senter dan mengarah padaku. Ternyata Ali, sedang apa dia di sini? "Mika ngapain kamu di sini?"
__ADS_1
"Aku tersesat, dan kakiku terkilir, kamu sendiri kenapa ada di sini?" Dia membantuku berdiri. "Aku juga tersesat dan terpisah dari kelompok ku." Ternyata kita samaan. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Aku khawatir. "Kita telusuri saja jalan setapak ini, siapa tau ada pemukiman di depan sana." Aku dan Ali pun berjalan menyusuri jalan setapak. Di pinggir kanan dan kiri jalan setapak, adalah kuburan. Mungkin ini pemakaman warga setempat, tapi kenapa jauh di tengah hutan?
"Itu jelas ide yang buruk Ali, aku tidak mau!" Aku menolaknya. "Tidak apa-apa, tidak ada yang namanya hantu atau Monster, itu cuma ada di film dan novel saja." Ali mulai membuka pintu pagar dan masuk, aku mengikutinya karena di luar sangat menakutkan. Dihalaman depan rumah aku merasa pijakan di bawah kakiku sangat licin ditumbuhi lumut. "Ali apa sebaiknya kita mencari pedesaan warga di sini?"
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih? Tidak apa-apa, ada aku di sini. Kamu jangan khawatir." Ali menarik tanganku agar aku merasa tenang. Pintu terbuka, di dalam rumah itu luas, tapi berantakan. Seperti habis disapu angin kencang saja. "Rumah sebesar ini kok di tinggalkan sih, kan sayang!" Aku mengikuti Ali terus. Udara semakin dingin, karena ini adalah rumah tua yg jendela dan pintu nya sudah rusak jadi udara dingin langsung masuk menyengat kulit. Juga kelembapan dirumah ini terasa tidak nyaman. Rasanya ingin segera keluar dari rumah ini.
"Ali, coba lihat ini! Aku menemukan sesuatu yang bagus." Ali berlari menuju tenpatku sekarang. Aku menunjukkan nya suatu buku yang berbentuk aneh. Tepatnya berbentuk daun pohon jati. "Buku apa ini?" Ali membuka-buka buku itu, halaman per halaman ia lihat. "Buku ini sama seperti yang ayah dan ibuku hadiahkan padaku 7 tahun yang lalu!"
__ADS_1