
Nenek lama sekali perginya, aku merasa tidak nyaman harus berduaan dengan cowok di rumah.
Tok...Tok...Tok...
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar, aku membuka pintu, ternyata Ali. Apa yang dia lakukan? Apakah bibi masih belum datang? Dia masih telanjang dada. "Apa yang kamu lakukan?" Aku segera membalikan wajah. "Aku hanya ingin melihat kamarmu. Dia masuk tanpa seizin ku. Benar-benar anak ini, apa perlu aku pukul saja dia? "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam." Sudah berapa kali dia mengatakan itu, aku tetap saja takut. "Ohh kamu punya serial komik ini? Dari mana kamu dapat?" Komik petualangan ninja? Dia suka juga? Tak ku sangka ternyata orang seperti Ali suka membaca komik ini.
"Citra yang memberikannya padaku, kamu suka membaca komik ini juga?" Tanyaku. "Tentu saja, aku belum sempat membaca kelanjutan nya karena sudah habis terjual." Benar juga, komik ini kan digemari banyak orang. "Kalau gitu kamu boleh meminjamnya." Aku menawarkan Ali. "Benarkah, terimakasih banyak." Dia langsung mengambil buku itu dari raknya. Kemudian dia duduk di kasurku dan membaca komik tersebut. Aku mendekatinya lalu duduk di sampingnya, aku bisa melihat ekspresi wajah nya sangat antusias membaca komik ini.
__ADS_1
"Den ini baju...nya." Eh bibi, dia sudah datang. Tapi kenapa dengan ekspresi nya itu? "Ahh bibi, kok lama sekali!" Ali menghampiri bibi. "Sini bajunya..." ucapan Ali terpotong oleh bibi. "Aduh maaf telah menggangu, bibi akan keluar Sekarang, ka-kalian lanjutkan saja." Astaga, tampaknya bibi salah paham dengan yang dia lihat. Aku langsung menyusul bibi ke bawah. "Bi tunggu dulu, bibi salah paham." jelasku. "Apa maksudnya neng?" Wajahnya tampak bingung. "Aku dan Ali hanya sedang membaca komik saja, tidak ada hal lain yang kami lakukan kok." Aduuuh, pipiku memerah.
"Kamu tau, membiarkan seorang laki-laki masuk ke kamar perempuan itu adalah hal yang berbahaya?" Astaga, tanganku dipegang dengan kencang, "Apa maksudmu?" Mataku masih tertutup, aku tidak berani melihat Ali. "Aku bisa saja membuatmu..." Ucapannya terpotong. "Hahaha, kamu ini aku hanya bercanda." Ali melepas pegangannya. akupun membuka mata, dia sedang memakai baju. "Aku tidak mengerti, apa maksudmu itu?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa, tidak usah di pikirkan." Ali keluar dari kamarku. Aku mengikutinya, di bawah, nenek ternyata sudah pulang. Aku turun untuk membantu nenek membawakan barang-barang, tapi aku didahului oleh Ali. Dia membawakan barang belanjaan nenek lalu disimpan di dapur. "Terimakasih nak." Nenek mengelus rambut Ali. "Tidak masalah nek."
"Sri, tolong ambilkan nenek minum, nenek haus." Baiklah, sekarang saat nya aku membantu nenek, tapi, apa-apa si Ali itu, dia langsung mendahului ku lagi. Sungguh menyebalkan. "Ini nek saya saja yang ambilkan." Lihat gayanya, sok-sokan di depan nenek. "Ehh, terimakasih, kamu memang anak baik." Sekali lagi nenek mengelus rambut Ali. Aku cemburu melihatnya, apa nenek tidak sayang lagi padaku? Eh apa yang aku katakan , sudah lah aku pusing, lebih baik aku kembali ke kamar.
__ADS_1