
Kami selesai membeli camilan di supermarket, saatnya pulang ke rumah. Saat sampai, aku melihat ada mobil didepan rumah. Karena penasaran aku dan Citra berjalan lebih cepat. Kami masuk, tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangan citra dan langsung menuju kamarku di lantai 2.
Ayahku datang bersama dengan istri barunya. Kenapa dia harus kesini? Setelah semua yang terjadi di sekolah ternyata memang benar hari ini adalah hari terburuk ku. "Yang tadi ayah mu ya?" Citra bertanya padaku. "Ya, kamu benar, sudah jangan di bahas, aku tidak ingin membicarakannya." Jawabku ketus.
Beberapa menit kemudian saat aku dan Citra sedang menonton drama yang kami tonton, ayahku tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Kamu tau itu sangat tidak sopan!" Wajahku mulai kesal. "Apa yang kamu bicarakan, apa seperti itu caramu berbicara pada orang tua?" Jawabnya sambil membentak.
"Maaf sebelumnya om, kami ini sedang sibuk menonton drama. Kami juga adalah remaja perempuan, tidak baik untuk pria masuk ke kamar perempuan." Citra membalasnya. "Ini hak saya untuk masuk ke kamar anak saya sendiri, kamu siapa berani-beraninya lancang seperti itu!" Dia semakin membentak, Citra berjalan lalu membawa tasnya, kemudian pergi.
__ADS_1
"Maaf ya Mika, aku harus pulang. Ada sesuatu yang harus aku urus." Lihat! Citra jadi pulang, karena ayahku. Aku memutuskan untuk pergi menyusul Citra. Ayahku berteriak padaku untuk kembali, tapi aku tidak mempedulikannya. Sebenarnya aku ingin menyusul Citra, tapi dia tiba-tiba menghilang. Karena di rumah ada si ayah sialan, akupun pergi jalan-jalan di sekitar taman dekat rumah.
"Dasar, untuk apa sih dia kesini? Bikin orang emosi aja!" Aku berbicara sendiri sambil duduk di bangku taman. "Siapa yang kamu maksud?" Aku menoleh untuk melihat siapa yang bertanya padaku. Ternyata, sang malaikat! Kak Adam, tak kusangka dia ada di sini juga. "Kak Adam, sedang apa kamu disini?"
"Entahlah, aku hanya ingin menghirup udara segar. Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa yang membuatmu kesal?" Sebenarnya aku tidak ingin menjawab pertanyaan kak Adam, tapi aku sepertinya butuh teman ngobrol.
"Ayahku, dia orang yang sangat aku benci. Saat kecil, orang tuaku sudah bercerai. Aku juga mendapat kenangan buruk dari peristiwa itu. Aku tidak ingin bertemu ayah ataupun ibuku, aku benci mereka berdua!"
__ADS_1
"Saat persidangan hakim berkata siapa yang akan mengurus aku, ayah dan ibuku saling bicara untuk membawaku. Sampai akhirnya ayahku yang menang, tapi ibuku tidak terima.
Selesai persidangan ibuku membawa barangnya, tapi saat di perjalanan seseorang menelfon bahwa ibuku bertabrakan dengan mobil truk."
Tangisku kembali tumpah karena semua cerita itu. "Sejak saat itu aku membenci kedua orang tuaku, untuk apa aku lahir jika ujungnya mereka berdua malah tidak ada untuku." Kak Adam tampak menengkanku. Dia mengelus rambutku dan memberiku sarung tangan untuk air mataku.
"Aku minta maaf karena membuatmu kembali ingat masa-masa itu." Tiba-tiba kak Adam meminta maaf padaku. "Tidak apa-apa, sekarang aku merasa lebih lega." Ya memang benar sih, setelah menceritakan semua itu aku merasa sedikit lega.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita membeli es krim, aku yang traktir." Apa ini benar? Bukan mimpikan? Aku di ajak beli es krim oleh orang yang ku sukai. Baiklah aku tidak menolak dan langsung berdiri. "Sebelumnya terimakasih, kakak sudah mau mendengar ceritaku ini."
"Iya sama-sama, sudah sekarang kamu lupakan semua itu. Mungkin Tuhan memisahkan mereka untuk menjadikanmu lebih kuat dalam menjalani hidup ini." Aku merasa senang mendengar perkataan kak Adam itu. "Baiklah kak, terima kasih sekali lagi."