PILIHANKU

PILIHANKU
Episode 4


__ADS_3

Kami sampai di depan pintu kamar Ali. "Bibi permisi dulu, kalau perlu apa-apa, tinggal tekan bel dekat pintu balkon." Aku mengangguk bibi pun kembali ke lantai 1. Citra mengetuk pintu, terdengar suara tok tok tok... Ali membuka pintu dan, wah lihat apa yang sedang ia lakukan.


Betapa terkejutnya aku, di saat orang tuanya sedang di beri doa oleh anggota keluarga yang lain, Ali malah asik bermain game dikamarnya. "Dasar binatang, sedang apa kamu heh?" Citra langsung membentak Ali. "ngapain kalian ke sini, ganggu orang aja." Nada suaranya pun terdengar biasa saja, seolah tidaj terjadi apa-apa dengan orang tuanya.


"Ali, kamu sadar apa yang telah kamu lakukan? Orang tuamu, di bawah sana terbaring kaku menunggu untuk di kuburkan. Kamu sebagai anak benar benar tidak tau rasa terima kasih." Aku mencoba untuk menahan emosiku. "Ya aku tau mereka akan pergi sangat lama, jadi aku biarkan saja. Lagian mereka tidak akan kembali, buat apa aku mencampuri urusan mereka lagi.

__ADS_1


Perkataannya sangat kejam. Bagaimana mungkin seorang anak yang di tinggal pergi untuk selama-lamanya oleh orang tuanya tega mengatakan hal tersebut. "Ali dengarkan aku. Mereka menunggumu untuk segera menguburkan jenazah orang tuamu itu, sekarang kamu ikut aku dan pergi mengantar mereka." Aku menarik tangan Ali sampai lantai bawah.


Terlihat mata semua orang tertuju padaku dan Ali. Aku mendorong dia mendekat menuju mayat orang tuanya. "Den Ali, apakah sudah siap untuk mengantar mereka menuju peristirahatan terakhirnya?" Ali menatap lama jasat kedua orang tuanya. Mata hitamnya tampak berkaca-kaca melihat kedua jasat tersebut. "Kalian cepat antarkan kedua orang tuaku, aku ingin mencari udara segar. Tak di sangka Ali akhirnya menurut juga. Aku dan Citra pergi menyusulnya.


Ali berlari sangat kencang sampai aku hampir tidak sanggup mengejarnya. Dia berhenti di depan taman kota dan berbalik padaku dan Citra. Tampak mata hitamnya mulai meneteskan air mata, aku mendekat padanya kemudian memberikan sapu tanganku. "Sudah kamu jangan menangis Ali. Aku mengerti perasaanmu saat ini." Aku mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuaku, aku tidak peduli apa yang terjadi pada mereka. Sekarang mereka sudah tidak ada, aku hanya seorang diri, tidak ada yang ingin menemaniku." Aku tau yang Ali rasakan, Citra dari tadi hanya melihat saja dari jauh. "Aku dan Citra bisa menjadi teman dekatmu. Kamu tau, kisahmu itu tidak jauh berbeda dariku, jadi aku pikir kita bisa saling membantu satu sama lain jika ada sesuatu." Aku meyakinkannya.


"Den Ali, bibi cari kemana-mana ternyata ada di sini toh, ayo makan dulu sudah saatnya makan siang." Bibi asisten rumah tangga berlari menuju Ali. Bibi melihat wajah Ali yang bercucuran air mata, lantas dia mengelus rambutnya kemudian berkata "Bibi mengerti apa yang kamu rasakan, den Ali harus banyak bersabar. Walau sekarang tuan dan nyonya sudah tidak ada, tapi bibi akan selalu ada buat den Ali.


Bibi akan selalu membangunkan den Ali saat pagi hari, menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk den Ali, semua akan bibi lakukan untuk den Ali." Perkataan bibi tampak meyakinkan Ali, dia mengangguk lalu memeluk bibi. "Terimakasih bi. Terimakasih telah menjaga aku dari kecil sampai sekarang."

__ADS_1


"Iya den, den Ali jangan berterima kasih pada bibi, den Ali harusnya berterima kasih kepada tuan dan nyonya besar yang telah membuat den Ali jadi seperti ini." Astaga suasana ini, membuatku menjadi terharu, Citrapun mendekat padaku dan memberi pelukan padaku.


__ADS_2