PILIHANKU

PILIHANKU
Episode 11


__ADS_3

Raut wajah Ali berubah 180°. Aku buru-buru meletakkan buku itu di tempatnya dan menggenggam tangan Ali. "Sudahlah, kita lanjutkan saja penelusuran nya!" Aku harap Ali dapat melupakan kejadian tadi. Kami berjalan ke lantai 2 rumah tua itu. Disini tidak terlalu berantakan, tidak seperti di bawah tadi. Ali melihat disebelah kiri ada sebuah foto besar, seperti foto keluarga. "Apa mereka pemilik rumah ini?"


"Sepertinya begitu." Angin berhembus kencang, terdengar deritan jendela tua. Aku duduk di lantai sambil bersandar ke tembok. Kakiku sudah tidak terlalu sakit. Udaranya sangat dingin, aku menggosok kedua tanganku karena kedinginan. "Makanya, kalau pergi ke hutan jangan pakai pakaian pendek." Ali mengenakan jaket nya padaku lalu duduk di sampingku. Aku mengucapkan terimakasih padanya, mataku tak sanggup untuk terjaga. Aku tertidur.


Cahaya matahari pagi menerpa wajahku. Aku terbangun dari tidurku, Ali tidak terlihat. "Ali kamu dimana?" Aku berteriak pelan memanggilnya, tapi tak ada jawaban. Aku berdiri dan berjalan keluar dari rumah tua itu. Apakah Ali meninggalkan ku? "Dorrr.... Ngapain di luar? Kakimu kan masih sakit." Astaga Ali mengangetkan ku dari belakang. "Kamu ini aku kaget tau!" Aku memukul sedikit perut Ali. "Haha maaf, lagian kenapa harus berteriak gitu sih?"


"Aku pikir kamu pergi dan meninggalkan ku sendiri di rumah tua itu." Mata ku berkaca-kaca, air mata hampir saja jatuh tapi Ali lebih dulu memegang daguku lalu bilang "Jangan menangis, kamu terlihat jelek jika menangis." Astaga dia serius bilang gitu pada ku? Coba aku penasaran dengan kalian, apakah kalian pernah dibilang seperti itu oleh teman-teman kalian, ataupun pacar kalian? Tuliskan di kolom komentar ya:), ok mari kita lanjutkan...


"Haha, sudahlah lupakan saja. Ayo kita lanjutkan." Ali berjalan di depan, aku mengikutinya. Karena hari sudah pagi, aku bisa melihat dengan jelas rumah tua itu. Rumah besar dengan halaman yang luas. Jika saja rumah ini terawat pasti akan lebih bagus. Aku dan Ali berjalan ke selatan rumah.


"Hei, ada yang ingin aku tanyakan." Ish dia ini bikin penasaran saja. "Apa itu?" Aku menanggapinya dengan santai.


"Menurutmu aku ini orang yang seperti apa?" Aku berhenti berjalan, begitupun Ali.


"Te-tentu saja kamu ya seperti kamu." Aku bingung mau menjawab apa padanya.


"Ohh begitu." Astaga apa aku salah bilang ya? Kenapa nada bicaranya jadi aneh gini? "Emmm, ada apa Ali? Kenapa kamu tiba-tiba bilang gitu?" Aku berjalan mendekatinya.


"Kamu tau orang sepertiku ini sangat tidak bisa dipercaya."

__ADS_1


"Maksudmu apa, aku tidak mengerti?" Aku berhenti beberapa meter darinya.


"Apa kamu pernah mendengar, bahwa jangan sekalipun percaya pada orang kaya?"


Apa maksudnya itu? Aku semakin tidak mengerti. "Aku tidak pernah mendengar kalimat seperti itu. Tapi aku percaya padamu kok, aku dan Citra percaya padamu."


Aku mencoba untuk menenangkan nya.


"Oh ya? Bagaimana caramu membuktikan nya?"


"Aku tau karena kamu adalah temanku, ya meskipun kamu suka menguntitku dan mencidukku dengan kak Adam, aku tau kamu orang yang bisa dipercaya."


Emmm, ok aku anggap dia puas dengan jawabanku. kami terus menyusuri Hutan. Kami terus berjalan dan berjalan, sampai kakiku rasanya tidak kuat lagi untuk berjalan.


"Ali, berhenti dulu, aku lelah." Aku terjatuh karena tidak kuat lagi. "Kita belum makan dari kemarin malam."


Ali benar, terakhir aku makan sebelum pencarian bunga ih itu.


"Aku akan mencari sesuatu untuk dimakan, kamu diam disini ya." Tidak itu ide buruk, aku butuh teman disini.

__ADS_1


"Jangan, aku takut. Temani aku disini."


Ali menuntunku untuk duduk dan duduk di sebelahku.


"Jadi akhirnya kita akan mati kelaparan, haha konyol sekali."


Dia ini, masih saja bisa membuat jokes seperti itu. 2 jam kami duduk, tidak ada yg berubah, hanya saja...


"Kepalaku pusing." Aku merasakan sakit yang sangat hebat di kepalaku ini


"Kamu harus tetap sadar, aku akan mencari bantuan."


Ali langsung berdiri, berteriak keras meminta pertolongan. Berusaha agar ada orang yang mendengar teriakannya.


Setengah jam berlalu, penglihatan ku mulai kabur, semua menjadi gelap seketika.


"Mik, kamu harus tetap sadar. Buka matamu!"


Tidak bisa, aku sudah tidak kuat untuk menggerakkan tubuhku, bahkan untuk mengedipkan mata saja tidak bisa kulakukan.

__ADS_1


__ADS_2