
Flashback
"Aku udah muak sama kamu!"
"Kamu pikir aku saja yang salah? Kamu juga sama saja!"
"Kamu mengalahkan ku atas semua kejadian yang telah kamu buat sendiri?"
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar! Ibu tidak akan membiarkan kalian merebut Mika dari ibu!"
"Bu, Mika itu anak saya, jadi saya yang akan mengurusnya."
"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri!"
"Nenek, aku takut!"
"Tidak perlu khawatir, kamu sama nenek saja ya."
"Baiklah nek."
"Dengar ini wanita jal*ng! Kamu lebih baik segera pergi dari sini! Aku tidak ingin kau berurusan lagi dengan keluargaku!"
"Baiklah kalau gitu, tapi ingatlah satu hal. Aku tidak akan membiarkan Mika bersama denganmu dan ibu mertua."
"Coba saja kalau bisa."
"Ibu, ibu mau kemana? Bu... Ibuuuuu."
Ibuu...Ternyata hanya mimpi. Mimpi buruk yang selalu menghantuiku setiap saat.
"Mika, akhirnya kamu sadar juga." Citra memelukku erat.
"Aku dimana?" Aku melihat sekitar.
"Kamu di klinik. Malam itu kita terpisah kan, Untung saja tuan muda Ali tidak melakukan hal buruk padamu."
Oh iya, Ali kemana? Apa dia juga terluka?
"Jangan khawatir, Ali hanya kelelahan. Kamu tau, dia menggendongmu sampai akhirnya ada warga yang menemukan kalian loh."
Apa? Apa benar begitu?
"Masa sih, aku gak percaya ah."
__ADS_1
"Yaudah kalo gitu. Oh ya kamu mau makan apa? Guru pembimbing sudah membeli banyak makanan untukmu." Citra memberikan kantung plastik berisi banyak makanan ringan untukku.
"Wah, makasih ya."
•|•|•|•|•|•|•|
Setelah dirasa cukup kuat, aku akhirnya keluar dari klinik tersebut dan langsung ke bus karena kami akan pulang.
"Mika, kamu sudah sembuh."
"Iya, syukurlah."
Beberapa temanku menyapa.
"Baiklah anak-anak, karena Mika telah pulih kita akan pulang."
Kericuhan terdengar dari dalam bus. Semua bersorak-sorai karena akan pulang.
Aku duduk di kursi bus bersama Citra. Aku melihat Ali duduk di belakangku sendirian.
Entah kenapa, wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya. Mungkin dia masih sakit. Aku tau menggendong orang sambil berlari adalah tindakan gegabah.
"Selama kalian bersama apa terjadi sesuatu?"
"Tidak kok. Tapi kami menemukan sebuah rumah tua yang besar di dalam hutan sana."
Aku menceritakan semua yang ada di rumah tersebut sampai ke detail-detailnya. Mulai dari depan rumah sampai isi yang ada didalamnya.
•|•|•|•|•|•|•|
Keesokan harinya sekolah libur. Aku menghabiskan waktu di rumah untuk beristirahat. Aku masih kepikiran tentang Ali. Apa dia baik-baik saja?
"Sri, ini baju siapa?" Nenek berteriak dari bawah. Aku pun menghampirinya.
"Ada apa nek?"
"Baju siapa ini?"
Aku mengambil baju tersebut dan mengingat kembali, sepertinya aku pernah melihat baju ini jawabku dalam hati. Ah, aku ingat. Ini baju Ali. Saat itu diakan ikut mandi di rumahku. Mungkin saja dia lupa membawanya pulang.
"Ini Baju milik Ali nek."
"Ali siapa? Kenapa bisa ada di sini?"
Nenek melihatku dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"I-iya waktu itu dia ikut mandi di sini. Mungkin bajunya tertinggal."
"Baiklah, kembalikan padanya cepat."
Tunggu sebentar, apa aku harus ke rumah Ali untuk memberikan baju ini?
"Tapi nek..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kasian nanti teman mu itu nanti sakit gara-gara gak pake baju."
Baiklah, aku akan pergi. Ya meski aku masih lelah, tapi nanti nenek marah lagi. Aku naik sepeda ke rumah Ali karena jaraknya lumayan jauh dari rumahku.
Beberapa menit berlalu. Tunggu apa aku kesasar? Kenapa rumah Ali tidak ada, padahal aku yakin di sini rumahnya. Aku diam sebentar lalu melihat ada bibi (asisten rumah tangga keluarga Ali) sedang berjalan membawa belanjaan.
Aku mendekatinya lalu menyapanya.
"Hai bi, selamat siang."
"Eh non Mika, selamat siang. Ada apa non, mau ketemu den Ali? Ayo bibi antar."
Aku memperhatikan bibi, sepertinya dia terlihat lelah. Apa Ali menyuruhnya terus menerus? Ah, sudahlah.
"Sebenarnya aku hanya ingin mengembalikan pakaian Ali yang tertinggal di rumahku."
Aku memberikan baju yang sudah di kantongi dengan kantong plastik.
"Aduh, makasih banyak ya non. Bibi jadi tidak enak nih." Bibi menerima kantong itu.
"Tidak apa-apa bi. Oh ya, rumah Ali dimana bi? perasaan ada di sini deh."
Aku mulai bertanya tentang rumah Ali.
"Ohh rumah itu sudah di renovasi non, sebelum tuan dan nyonya meninggal, mereka berencana akan merenovasi rumah."
"Ohh, jadi mana rumahnya?"
"Itu di depan." Bibi menunjukan dengan jarinya yang agak keriput itu.
Benarkah itu rumahnya? Cepat sekali renovasinya, bahkan sampai berubah 360° dari yang dulu, jauh berbeda.
"Cepat sekali bi pembangunan nya."
"Iya, hanya butuh waktu 5 hari non. Tuan dan nyonya sangat hebat memilih arsitek dan pekerja nya. Oh ya, mampir dulu yuk, sebentar."
Bibi mengajak ku untuk berkunjung sebentar ke rumah Ali. Karena aku penasaran jadi aku meng ia kan. Kamipun masuk ke rumah super mewah itu. Bahkan saking mewahnya lebih terlihat seperti mansion daripada rumah.
__ADS_1