Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 10


__ADS_3

"Bagaimana kalau anda gabung dengan kami? Saya juga baru mulai di hole 1 ini. Hitung-hitung mereka semua bisa lebih awal belajar menangani pemain di lapangan". Terdengar sebuah tawaran dari Satya pada Mami Sari yang membuat Sandra dan rekan-rekannya terkejut.


"Tidak perlu, Pak Satya. Mereka semua baru saja saya bawa untuk mengenali lapangan hari ini. Mereka masih buta mengenai medan lapangan. Jika saya gabung dengan anda, itu hanya akan merepotkan anda dan rekan anda". Tolak Mami Sari secara halus seraya menatap pada Satya dan seorang pria di sebelahnya.


Satya menoleh pada Nino, asisten pribadinya. "Apa kau keberatan jika bergabung dengan Mami Sari dan anak didiknya?" Tanya Satya.


Nino mengedarkan pandangannya pada ke sepuluh peserta training dan mengedikkan bahu. "Aku bebas saja. Tidak masalah". Ujar Nino.


"Anda dengar? Asisten saya tidak keberatan sama sekali. Bagaimana?". Sahut Satya menatap intens Mami Sari.


Mau tak mau Mami Sari pun akhirnya menerima ajakan Satya.


"Silakan anda lebih dulu memukul bolanya". Ujar Satya mempersilakan Mami Sari untuk melakukan pukulan keduanya.


Mami Sari lantas segera mengambil posisi untuk memukul. Sandra dan rekan-rekannya yang lain melihat dengan fokus.


Tak!


Bola putih kecil itu melambung tinggi dan jatuh tepat di green area. Lalu kini giliran Satya yang mengambil posisi untuk memukul bola. Tak di pungkiri ketika giliran Satya, Sandra dan rekan-rekannya terpana. Tubuh yang tegap dan gagah di balut dengan polo shirt putih dan celana berwarna senada lengkap dengan topi dan kaca mata hitamnya.


Ah.. Sungguh pemandangan yang menyegarkan di kala perut kelaparan!


Sandra berucap dalam hati. Tentu saja Sandra selalu melewatkan sarapan hingga makan pun hanya 1 kali dalam sehari saking harus irit dirinya selama training.


Karena termenung beberapa saat, Sandra hingga tidak menyadari jika Satya sudah melakukan pukulan keduanya. Sandra lantas berlari kecil mengikuti kelompoknya menuju green area.


Ia mengusap dahinya yang cukup basah karena keringat dengan sebuah handuk kecil yang di sematkan di celana jeans hitam nya.


Tak lama tibalah mereka semua di green area. Ada 3 bola dengan jarak yang berdekatan.


"Yang mana bola Mami?" Ujar Mami Sari membuyarkan keheningan.

__ADS_1


Sandra dan rekan-rekannya sedikit membungkuk untuk memperhatikan ketiga bola tersebut. Ini sedikit membingungkan bagi mereka semua.


"Jika kalian membawa pemain golf yang bermain dalam grup. Misalnya dalam 1 grup itu ada 4 orang, kalian harus selalu mengingat merk bola pemain yang sedang kalian bawa agar tidak tertukar oleh pemain lain". Ujar Satya.


Sandra lantas menatap Satya. "Maaf Tuan, tapi kalau merk dan warnanya sama semua seperti ini lalu gimana caranya mengenali bola pemain kita kalau berdekatan seperti ini?". Tanya Sandra memberanikan diri.


Satya memandang Sandra seraya mengulas senyum tipis. "Akan selalu ada perbedaannya. Seiring waktu kamu akan terbiasa dan dapat dengan mudah mengenalinya" Ujar Satya seraya melirik nametag yang tersemat di polo shirt Sandra.


Sandra mengerutkan keningnya. Ia masih belum bisa memahami maksud Satya.


"Ini bola saya, lalu ini bola asisten saya dan yang itu bola Mami Sari". Ujar Satya menunjuk satu per satu bola yang berada di dekatnya.


Mami Sari lantas meminta Giska untuk mengambilkan putter. Giska segera berlari menuju buggy car.


"Jika pemain golf sudah berada di green area, yang perlu kalian lakukan bukan lagi memberi tahu tentang jarak namun memberi saran tentang sudut pukulan dan kemiringan agar bola masuk ke dalam hole". Ucap Mami Sari.


Mami Sari lantas berjongkok di depan bola miliknya. Ia menatap sudut kemiringan tanah. "Jika kalian sulit melihat sudut miring di area ini, kalian bisa berjongkok atau membungkuk." Jelas Mami Sari.


Satya lantas menerima sebuah putter yang di berikan oleh seorang caddy. Ia menatap bolanya menuju ke hole (lubang). Namun kemudian Satya menatap ke arah Sandra begitu saja.


"Bisa beritahu saya bagaimana saya harus memukul bola ini agar langsung masuk ke dalam lubang?". Tanya Satya.


Sandra menoleh ke arah rekan-rekannya mengira Satya bertanya pada orang lain.


"Kamu. Saya tanya sama kamu". Ucap Satya seraya menunjuk Sandra.


Sandra dengan gugup lalu melangkah mendekat ke arah Satya. Ia lantas menatap bola milik Satya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Jika kamu bingung, berjongkok Sandra". Titah Mami Sari mengingatkan.


Sandra dengan reflek segera berjongkok. Ia berulang kali menatap antara bola putih kecil dan lubang yang berada tak jauh di depan. Sandra masih kebingungan. Ia gugup luar biasa. Jika Ia jawab tidak tahu, Ia takut di marahi. Namun jika Ia memutuskan menjawab dengan asal, Ia juga akan malu karena memberikan arahan yang tidak sesuai medan lapangan. Ia mengusap keringatnya yang turun di sisi pipinya.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba saja Satya ikut berjongkok tepat di sebelahnya. Aroma parfum mahal seorang pria sangat jelas tercium oleh indera penciuman Sandra.


"Kamu lihat kemiringan tanah ini..." Ujar Satya pelan.


"Tanah nya lebih tinggi di sebelah kiri dan letak lubang berada di sebelah kanan. Lihat bola saya..." Lanjut Satya.


"Jika di tarik garis lurus, bola saya memang sejajar dengan lubang. Namun jika saya memukul bola dengan lurus begitu saja, bisa di pastikan bola saya akan melenceng menjauhi lubang. Jadi saya harus memukul bola ini bagaimana jika melihat sudut kemiringan green area ini?". Tanya Satya menoleh pada Sandra dengan jarak yang sangat dekat.


Sandra menoleh ke arah Satya yang sedang menunggu jawabannya. Pria itu masih santai berjongkok di sebelah Sandra.


"Pak Satya...." Panggil Mami Sari.


Satya dengan cepat menadahkan tangannya ke udara memotong ucapan Mami Sari. "Tunggu calon caddy baru ini menjawab. Salah atau benar jawabannya, tidak masalah". Ujar Satya.


"Apa kamu sudah tau jawabannya?". Tanya Satya seraya berdiri. Sandra pun ikut berdiri dan menatap Satya.


"Sepertinya anda harus memukul bola ini mengikuti sudut kemiringan tanah yaitu sedikit ke kiri atas agar bola nantinya mengikuti gravitasi turun ke lubang". Jawab Sandra.


Satya tertegun sejenak dan tak lama Ia memukul Nino sang asisten. "Waaahh! Lihat dia, Nino!". Pekik Satya seraya tertawa renyah.


Tak di pungkiri sikap Satya yang seperti itu membuat seluruh orang yang berada di green area melongo terkejut termasuk Mami Sari.


"Dia menjawab dengan sangat akurat!". Puji Satya hingga membuat Sandra tertunduk malu.


Satya pun lantas segera mengambil posisi dan melakukan pukulan seperti yang di arahkan oleh Sandra. Dan benar saja, bola golf putih milik Satya dengan gesit masuk ke lubang.


"Birdie!". Ujar Satya seraya menatap Sandra.


...🌴🌴🌴...


Like, komen and vote yaaaaa!😘

__ADS_1


__ADS_2