
PRAAANGGG!
Suara benturan sebuah vas yang di lempar ke dinding benar'-benar memekakkan telinga."Siaaaallllllaaaannn!!!" Teriak Nadya yang saat ini tengah berada di dalam sebuah kamar hotel miliknya pribadi di Hotel Carlton.
"Kemana sebenarnya pelacur itu?!" Tanya Nadya beralih menatap seorang pria yang tak lain adalah detektif yang sempa Ia sewa untuk membuntuti Satya.
"Maaf Nona.. Menurut informasi dari seorang security, wanita itu memang terakhir kali terlihat keluar bersama dengan suami anda dengan membawa sebuah koper." Jelas Sang detektif. "Sejak hari itu memang wanita tersebut belum terlihat kembali ke apartemen hingga hari ini".
"Apa kau yakin security itu bisa di percaya?!". Sentak Nadya.
"Bisa, Nona. Saya sudah menyogoknya dengan banyak uang. Dia pasti akan segera memberitahu saya kalau wanita yang bernama Sandra sudah kembali ke apartemen jadi Nona tidak perlu kesana terus menerus seperti sebelumnya". Ujar sang detektif.
Nadya menyugar rambut panjang pirangnya. "Kau harus segera menghubungiku jika pelacur itu sudah kembali!". Titah Nadya. "Aku takut suamiku lebih dulu pulang sebelum aku menyelesaikan urusanku dengan pelacur itu. Waktuku hanya tinggal satu pekan lagi. Karena suamiku pergi ke luar negeri selama dua pekan".
Sang detektif pun mengangguk. "Baik, Nona. Saya akan langsung menghubungi anda jika wanita itu sudah terlihat di apartemen".
"Lalu bagaimana dengan keluarganya?Apa kau belum bisa menemukan alamat rumah orang tua pelacur itu? Semakin aku mengetahui segala hal tentang pelacur itu, semakin mudah aku menghancurkannya". Ujar Nadya.
"Sayangnya saya belum bisa mengorek informasi tentang keluarganya, Nona. Kepala Caddy di Golf Country Club tidak mau membuka mulutnya untuk memberikan data diri wanita itu." Sahut sang detektif.
"Kau tanya langsung pada pihak HR disana bodoh!". Umpat Nadya.
"Maaf, Nona. Saya sudah mencobanya. Namun pihak HR pun tidak mau membuka informasi atas para pekerjanya kecuali jika para pekerjanya terlibat masalah hukum, baru mereka mau bekerja sama".
Nadya semakin geram mendengar penuturan sang detektif. "Sialan! Hanya seorang pelacur yang bekerja sebagai caddy saja kenapa sulit sekali aku temui!".
"Pergilah sekarang! Jangan lupa segera hubungi aku jika ada info lain!". Ujar Nadya mengusir sang detektif keluar dari kamar hotel.
Selepas sang detektif pergi, Nadya meraih ponselnya dan menghubungi Satya. Dalam dua kali panggilan, telfonnya pun terhubung.
__ADS_1
"Dimana, Yank?" Tanya Nadya dengan suara lembut.
"Ada apa menelfonku?"
"Tidak ada apa-apa. Apakah aku harus mempunyai alasan untuk menelfon suamiku sendiri?"
"Aku sedang sibuk, Nad. Aku tutup dulu telfonnya"
Tuuuuttt...
Nadya lantas menatap layar ponselnya dengan terperangah. Tak di pungkiri hatinya merasa sakit dengan sikap sang suami. Nadya menggenggam erat ponselnya hingga jari jermarinya memutih.
"KAU BAJINGAN SATYA!!! AKU MASIH ISTRIMU SIALAAAANNNNNN!!!" Nadya berteriak hingga wajahnya memerah menampakkan amarah yang teramat sangat.
Lukisan hingga vas bunga sampai sebuah Smart TV pun menjadi korban dari kobaran amarah Nadya. Ia melempar, membanting apapun untuk melampiaskan rasa amarah yang menyelimuti dirinya saat ini.
Hingga akhirnya Nadya jatuh terduduk begitu saja di lantai. Ia menutup wajahnya dengan tangan seraya menangis dengan hebat. Nadya menyesali segala hal yang terjadi di antara dirinya dan Satya. Ia rindu dengan kehangatan dan kelembutan pria itu sebelum mereka menikah. Hatinya terasa sakit hingga relung hati saat mengingat betapa Satya menjaga kehormatan dirinya dan memperlakukan dirinya seperti ratu.
Semua karena malam itu. Malam jahanam itu. Nadya mabuk. Nadya hanya melihat Sean sebagai Satya hingga akhirnya Ia malah menyerahkan kesuciannya pada pria lain. Lebih bodohnya lagi ketika Ia mengetahui dirinya hamil, Nadya meminta Satya untuk menjadi ayah angkat dari anak yang di kandungnya.
Nadya tidak pernah berpikir bagaimana sakitnya hati Satya. Ia hanya berpikir Satya akan memaafkannya. Satya akan memakluminya karena bagaimanapun kejadian malam itu bukanlah hal yang di sengaja. Bukan juga kemauannya.
Nadya semakin menenggelamkan kepalanya seraya memeluk kedua lututnya. Pemandangan Nadya saat ini di antara barang-barang yang pecah berserakan membuat siapapun akan berpikir bahwa wanita itu terlihat sangat menyedihkan.
...🌻🌻🌻...
Di lain sisi, Sandra yang baru saja selesai makan siang segera merapihkan baju-bajunya untuk di susun ke dalam koper. Dengan hati yang bahagia dan bibir yang selalu tersenyum mengingat Satya akan kembali ke tanah air.
"Nak, apa sebaiknya kamu tunggu suamimu di sini saja? Ibu kuatir kalau kamu pulang ke apartemen. Tidak ada yang menemanimu". Ujar Retno sembari duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Tidak masalah, Bu. Sandra juga sudah terbiasa sendiri di apartemen kalau suami Sandra sedang bekerja. Lagipula dia besok siang pasti sudah sampai, Bu".
Retno menghela napas pelan. "Kalau kamu mual-mual lagi bagaimana?"
"Sandra kan bawa larutan tradisional yang Ibu buat untuk Sandra. Pasti akan Sandra minum untuk meminimalisir rasa mual" Ujar Sandra masih mencoba memberi pengertian pada Retno.
"Ya sudahlah. Ibu tidak bisa berbuat banyak kalau kamu bersikeras mau pulang" Ujar Retno akhirnya mengalah.
"Terima kasih, Bu" Sandra tersenyum lebar pada Retno.
...
"Pak Aldanar, ada yang ingin saya sampaikan.".Ujar seorang pria yang berusia di pertengahan 30-an.
"Ada apa, Kev?". Tanya Aldanar menatap sekretarisnya dengan serius.
"Begini, Pak..General Manager Hotel Carlton baru saja menghubungi saya" Jeda Kevin, sekretaris Aldanar. "Beliau menyampaikan kalau putri anda mengamuk di kamar hotel pribadinya hingga merusak seluruh properti kamar, Pak". Lanjut Kevin menatap dengan sungkan pada bos besar kerajaan bisnis Carlton.
Aldanar mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa sampai seperti itu? Sejak kapan dia berada di hotel?". Tanya Aldanar.
Sejak kedatangan tiba-tiba sang putri ke kantornya satu pekan yang lalu. Nadya belum menghubungi dirinya sama sekali atau sekedar berkunjung. Aldanar hanya berpikir jika sang putri sedang fokus menyiapkan sesuatu untuk mengatasi permasalahan rumah tangganya. Untuk itulah Ia pun belum menghubungi Nadya lagi.
"General Manager memberitahu bahwa putri anda sudah menginap dua malam di hotel, Pak".
"Dua malam?".Aldanar menampakkan raut wajah serius. "Kenapa Chandra tidak memberitahuku?" Gumam Aldanar seraya menatap layar ponselnya.
"Kirimkan CCTV di lantai kamar hotel putriku". Titah Aldanar pada Kevin.
"Maaf, Pak. Tidak ada CCTV di lantai tersebut karena lantai itu diperuntukkan hanya untuk keluarga sehingga privasi terjaga. Anda sendiri yang membuat peraturan itu". Sahut Kevin mengingatkan.
__ADS_1
"Astaga kau benar. Aku lupa tentang hal itu".Ujar Aldanar seraya memijat pelipisnya.
...🌴🌴🌴...