
"Pak.. Bu.." Panggil Sandra ketika Ia menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk bersantai di teras.
Retno dan Dimas menoleh ke arah Sandra. "Ada apa, Nak?"Tanya Retno seraya mengulas senyum. "Sini duduk sebelah Ibu". Retno menepuk-nepuk space kursi kosong di sebelahnya.
Sandra lantas duduk di sebelah Retno. "Ada yang mau Sandra bicarakan sama Ibu dan Bapak" Sahut Sandra menatap silih berganti pada kedua orang tuanya.
"Bicara apa, San? Tentang pria yang semalam?". Tanya Dimas menebak seraya terkekeh.
"Mas, sudah kubilang jangan menggodanya! Harapanmu belum tentu jadi kenyataan!". Sanggah Retno menatap sang suami dengan melotot.
"Loh berharap tak ada salahnya kan?"
"Ya boleh... Tapi yang realistis saja, Mas!". Ujar Retno mengingatkan.
Sandra mengerutkan keningnya melihat kedua orang tuanya berdebat yang tidak Ia mengerti sama sekali. "Bapak dan Ibu sebenarnya bicarain apa sih? Kok malah debat!. Ujar Sandra.
"Ini loh, San... Bapakmu itu dari tadi bilang ke Ibu tentang teman pria kamu yang semalam itu. Yang membantu kita. Siapa namanya?".
"Satya, Bu". Jawab Sandra.
Retno mengangguk. "Nah iya nak Satya ya.. Bapakmu itu nyerocos terus ke Ibu kalau berharap Nak Satya itu jadi menantu. Lah Ibu omeli Bapakmu itu! Ngarep kok gak kira-kira!". Sungut Retno melirik tajam pada sang suami.
Bukannya kesal, Dimas justru terkekeh geli. "Bu... Bapak ini pria. Bapak sadar kalau teman Sandra yang semalam itu tertarik pada anak kita, Bu! Iris kuping Bapak kalau Ibu tidak percaya".
"Benarkah begitu, Pak?". Tanya Sandra terkejut menatap Dimas.
"Benar! Bapak mana mungkin berbohong padamu. Walau Bapak seperti ini, tapi Bapak juga ingin pria yang baik untuk kamu" Ujar Dimas penuh penekanan.
"Sudah.... Sudah... Jangan dengarkan Bapakmu ini, San!". Timpal Retno.
Sandra menghela napas pelan. "Tapi dia memang melamar Sandra untuk jadi istrinya Pak.. Bu.." Sahut Sandra pelan.
"APA?!". Mendengar ucapan Sandra, Dimas dan Retno tak ayal terkejut bukan main seraya melotot tak percaya.
Sandra menggaruk tengkuknya kikuk. "Dia semalam meminta Sandra untuk menikah dengannya. Sandra harus bagaimana?". Tanya Sandra dengan wajah bingung menatap silih berganti pada Retno dan Dimas.
Dimas meneguk kopinya hingga tandas dan menegakkan tubuhnya menatap Sandra yang sedang menatap ke arahnya. "Kamu tidak bercanda, San?".
__ADS_1
"Bapak saja menganggap Sandra bercanda, bagaimana aku yang sejak tadi mendengarkan khayalanmu". Cibir Retno.
"Pak.. Bu! Sandra serius banget loh ini! Dia hanya memberikan waktu sampai malam ini untuk Sandra menjawabnya." Ujar Sandra kesal melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Astaga.... Jadi ini beneran, Nak?"
"Kita dapat durian runtuh, Bu! Apa Bapak bilang? Menjadi Caddy tidak selalu berakhir buruk kan?". Dimas tak kuasa menunjukkan sukacitanya.
"Apa kamu sudah mengenal dengan baik bagaimana pria itu?Keluarganya? Apa pekerjaannya?". Tanya Retno.
"Selama Sandra mengenalnya, dia pria yang baik dan humoris Bu... Dia adalah anak dari pemilik lapangan golf tempat Sandra bekerja." Ujar Sandra.
"Tuh kan Bu! Anak pemilik lapangan golf! Sudah pasti bukan dari keluarga biasa-biasa saja!". Timpal Dimas.
"Selama dia baik padamu Bapak akan menyetujuinya, San." Ujar Dimas beralih pada Sandra.
"Kamu pun dulu dari keluarga kaya. Kamu sangat baik padaku hingga aku percaya, Mas. Tapi setelah menikah, rasanya aku ingin mengganti suami! Jadi, anak kita perlu teliti saat memilih pendamping hidup". Ujar Retno mencibir suaminya.
Dimas melotot mendengar Retno berbicara seperti itu padanya di hadapan Sandra. "Kamu menyindirku??". Ujar Dimas kesal.
"Anggap saja seperti itu."
...🌻🌻🌻...
Di sebuah kantor mewah bernuansa cokelat yang menampilkan kesan hangat, Satya sedari tadi duduk berputar-putar di kursi kebesarannya. Ia tak menampik bahwa Ia merasa gugup bukan main menunggu kabar dari Sandra. Namun Ia pun merasa percaya diri kalau gadis itu akan menerima lamarannya.
Nino yang sejak tadi sedang membereskan beberapa berkas di brankas milik Satya merasa merinding dan heran melihat tingkah bosnya yang absurd.
"Kau sehat kan? Apa aku perlu panggilkan psikolog atau psikiater untuk memeriksamu?". Tanya Nino dengan hati-hati.
"Aku baik-baik saja. Jangan membuat mood ku yang sedang sempurna dengan sikap kurang ajarmu, Nino. Bereskan saja berkas di brankas itu". Sahut Satya.
"Kau ini aneh sekali. Aku kan hanya bertanya apa kau perlu konseling ke psikolog atau sekalian psikiater? Dari tadi pagi kau hanya senyum-senyum sendiri, berputar-putar di kursimu tanpa melakukan apapun. Wajar saja aku bertanya!".
Satya lantas beranjak dari duduknya dan melangkah ke jendela kantornya. Ia melemparkan pandangannya sejauh yang Ia bisa. Tangannya di selipkan ke dalam saku celana kerjanya yang berwarna navy.
"Aku semalam sudah melamar Sandra".
__ADS_1
BRAAKKK
Tumpukan berkas yang berada di tangan Nino terjatuh begitu saja. Nino terkejut dan melangkah menghampiri Satya. "Kau serius?????".
Satya mengangguk. "Ya. Aku memintanya untuk jadi istriku."
"Tapi kau sudah punya istri bodoh! Kau lupa kalau statusmu sekarang adalah suami orang?!". Cecar Nino tak habis pikir.
Satya menyeringai dan mengangkat bahunya. "Jangan pura-pura tidak tahu bagaimana kondisi pernikahanku".
"Aku tidak bisa memulihkan kondisi pernikahanku dengan Nadya tapi aku juga tidak bisa menceraikannya begitu saja. Kau tahu kan betapa banyak hal yang melatar belakangi itu?"
"Tapi bukan berarti kau bisa menikahi gadis lain yang tidak tahu apa-apa! Kau sama saja seperti menyeret dia ke dalam neraka. Apa kau tidak berpikir bagaimana kalau kedua orang tuamu tahu? Nadya tahu? Mertuamu tahu?". Cecar Nino berusaha mengingatkan agar Satya tak gegabah.
"Aku sudah memikirkannya". Ujar Satya berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya di sana. "Ketika aku sudah berani untuk memintanya jadi istri keduaku, itu artinya aku juga siap melindunginya dari apapun yang akan terjadi nanti".
"Apa kau mencintainya?". Selidik Nino menatap seksama pada Satya.
Satya menyandarkan punggungnya ke sofa dan menatap langit-langit ruang kantornya yang tergantung lampu kristal yang mewah.
"Sejak Nadya berkhianat, aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi kau tahu? Aku menikmati waktuku bersama gadis itu hingga rasanya tidak ingin berpisah. Aku rasa itu sudah cukup menjadi alasan untuku membuatnya berada di sisiku". Ujar Satya.
Nino memijat pelipisnya merasa pusing luar biasa dengan apa yang Satya utarakan saat ini. Tiba-tiba ponsel Satya yang berada di atas meja kerjanya berdering. Nino beranjak mengambil ponsel tersebut dan memberikannya pada Satya.
Satya mengulas senyum lebar tatkala melihat caller id yang terpampang di layar. Satya menekan tombol hijau.
"Halo..."
"................"
"Baiklah. Aku akan kerumahmu sekarang juga". Ujar Satya pada seseorang melalui sambungan telfon.
Satya lantas segera berdiri dan meraih dompet serta kunci mobilnya setelah Ia menutup telfon.
"Hey! Kau mau kemana?". Sergah Nino.
"Menemui calon mertuaku". Sahut Satya lalu melangkah pergi begitu saja.
__ADS_1
"Calon mertua?! Dia benar-benar gila!". Gumam Nino menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pintu ruang kerja Satya yang baru saja tertutup.
...🌴🌴🌴...