
"Tolong carikan aku sebuah villa secepatnya". Sahut Satya pada Nino saat dirinya sudah berada di kantor.
"Villa? Kau mau honeymoon di sebuah villa?".
Satya menggelengkan kepala pelan. "Aku mau membeli sebuah villa." Sahutnya seraya menatap Nino. "Dalam satu pekan kau harus bisa menemukannya. Terserah di mana saja. Lebih jauh dari kota dan terpencil lebih bagus".
Nino menatap Satya dengan mengerutkan keningnya. "Masalah lokasi itu mudah saja. Tapi kenapa kau tiba-tiba ingin membeli villa? Apa kau lupa kalau kau sudah memiliki banyak properti?".
"Aiisshh kau cerewet sekali! Aku membelinya untuk Nadya!". Ujar Satya kesal.
Nino melongo terkejut. "Apa aku tidak salah dengar? Untuk Nadya? Apa villa yang akan kau beli ini tanda berbaikannya hubungan kalian?". Tanya Nino serius.
"Hahaha aku dan Nadya tidak bisa kembali baik-baik saja." Satya tertawa sumbang. "Aku terpaksa melakukan ini".
"Terpaksa bagaimana maksudmu?".
"Papaku tahu kita berdua tidak pergi dalam rangka business trip. Dia bertanya pada sekretaris kantor". Sahut Satya.
Nino terkejut bukan main. Wajahnya seketika itu juga pucat pasi. "Astaga bodohnya aku! Aku lupa memberi tahu sekretaris kantor untuk bekerja sama!". Nino menepuk pahanya sendiri dengan cukup kencang.
Satya mengangguk. "Ya karena itulah aku harus berbohong". Satya terkekeh. "Aku bilang kalau kita pergi mencari hadiah kejutan sebuah villla untuk ulang tahun Nadya 2 pekan lagi. Dan aku benar-benar harus melakukannya untuk meyakinkan papaku bukan?"
Nino mengangguk setuju. "Benar. Mau tidak mau kau harus melakukannya. Dan sebuah villa untuk menutupi kebohonganmu?" Nino tertawa pelan. "Hahahaa aku menantikan apa lagi yang harus kau lakukan demi menutupi pernikahan keduamu itu".
Satya menyandarkan punggungnya ke kursi. "Apapun akan aku lakukan untuk keselamatan Sandra.". Ujar Satya.
__ADS_1
"Tapi suatu hari kau tidak bisa menutupinya. Kasihan juga istri keduamu itu jika kau rahasiakan terus menerus. Cepat atau lambat, dia akan mengetahuinya dan aku harap pada saat itu terjadi, kau menjadi benteng yang kokoh untuk melindunginya karena kau yang menariknya ke dalam hidupmu tanpa dia mengetahui apapun". Nino memperingatkan Satya.
"Aku tahu. Setidaknya untuk sementara yang bisa kulakukan seperti ini. Menghadapi dua keluarga yang terlibat dalam pertalian jaringan bisnis, membutuhkan strategi. Kau juga pasti paham tentang itu".
"Ya. Aku paham.." Jawab Nino. "Baiklah.. Aku akan cari sebuah villa untuk hadiah ulang tahun Nadya". Ujar Nino seraya beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang kerja Satya.
Satya mengetuk sebuah bolpoin ke atas meja kerjanya. Pikirannya berlari kemana-mana namun pada akhirnya bibirnya mengulas senyum. Ia merindukan Sandra. Istri keduanya yang Ia lihat tanpa sengaja saat Ia bermain golf. Pesonanya membuat Satya penasaran hingga diam-diam Satya selalu mencocokkan waktunya bermain golf ketika giliran shift Sandra yang turun ke lapangan.
Hingga Satya menjeratnya dengan sebuah makan malam demi mengganti penilaian saat wanita itu sedang training. Semakin lama Satya semakin nyaman dengan Sandra hingga akhirnya Satya nekat untuk menikahinya diam-diam. Tepat saat itulah Ia sudah paham segala resiko yang akan terjadi. Namun ketika dirinya sudah berjanji, Satya akan menepatinya. Dan yang sudah Ia tanamkan sejak awal menikahi Sandra adalah Ia akan menjaga Sandra, Satya tidak akan main-main dengan janji yang Ia ucapkan.
Satya mengambil ponselnya dan mencari nomor telfon Sandra di daftar kontak. Terdengar nada sambung berulang kali namun tak kunjung di angkat. Ia lantas mematikan sambungan telfonnya dan memutuskan untuk mengirim pesan saja.
Lagi apa sayang?
Satya membaca ulang apa yang baru saja Ia ketik. Ia lantas segera menekan tombol send dan menaruh kembali ponselnya. Satya segera beralih menatap tumpukan berkas yang harus Ia periksa. Dengan menghela napas, Ia pun mengambil tumpukan paling atas berkas dan segera larut dalam pekerjaannya.
Golf Country Club
"Good Shot!". Teriak Sandra saat pemain golf yang di temaninya melakukan pukulan pertama di teeing ground.
Sandra dengan sigap meraih stik berjenis driver dari tangan sang pemain untuk di masukkan kembali ke dalam tas golf. "Ayo!". Sahut sang pemain golf yang tak lain adalah Pak Teguh.
Sandra lantas mengemudikan buggy car sambil sesekali menengok ke arah kiri untuk mencari titik jatuhnya bola kecil berwarna putih.
"Kamu habis cuti ya?" Tanya Pak Teguh memecah keheningan.
__ADS_1
Sandra menoleh seraya tersenyum. "Iya, Pak. Saya sempat cuti satu pekan". Jawab Sandra dengan sopan.
"Saya mencari-cari kamu loh. Pekan lalu saya kesini sampai tiga kali. Saya mau kamu jadi caddy pribadi saya. Ternyata Mami Sari bilang kamu sedang cuti. Lemas deh saya rasanya hehehe". Pak Teguh terkekeh kecil.
Sandra hanya tersenyum menanggapi. Bukan hal aneh apa yang di sampaikan Pak Teguh padanya. Memang ada saja pemain golf yang meminta seorang caddy untuk selalu menjadi caddy pribadinya ketika mereka bermain di lapangan. Entah memang murni karena sang pemain merasa cocok dengan sang caddy atau bisa jadi hal lainnya yang merujuk pada hal-hal yang sensitif untuk dibahas namun sudah menjadi rahasia umum.
"Itu dia bolanya, Pak." Ujar Sandra seraya memberhentikan buggy car. Sandra lalu segera mengambil stik golf berjenis iron nomor 6 dan diberikannya pada Pak Teguh.
Takk!
Sandra melihat kembali titik jatuhnya bola dan berteriak melontarkan pujian. "Nice!" Ujarnya.
Tiba-tiba saja Pak Teguh merangkul bahu Sandra saat keduanya berjalan kembali menuju buggy car. Tak ayal Sandra pun reflek menjauh dari Pak Teguh hingga rangkulan pria tua itu terlepas. "Maaf, Pak." Sahut Sandra dengan menundukkan kepalanya sedikit.
Pak Teguh terkekeh melihat sikap Sandra yang terang-terangan menolaknya. "Santai saja... Saya hanya merangkul kamu kok" Ujar Pak Teguh.
"Tapi maaf Pak Teguh..Saya tidak mau ada kontak fisik berlebihan". Sahut Sandra menjelaskan.
Pak Teguh terdiam namun menganggukkan kepala dengan menatap Sandra dengan tatapan nakal. "Baiklah. Maafkan saya kalau membuat kamu tidak nyaman". Ujar Pak Teguh yang akhirnya di angguki oleh Sandra.
Hingga 4 jam kemudian, Sandra akhirnya selesai menunaikan pekerjaannya. Ia segera bergegas untuk berganti baju. Sandra sudah berjanji pada Satya jika Ia akan selalu langsung pulang setelah bekerja. Sandra lalu membuka loker miliknya dan hal pertama yang Ia lakukan adalah mengecek ponselnya.
Sandra mengulas senyum lebar saat melihat pesan yang di kirimkan Satya beberapa jam yang lalu serta beberapa panggilan tak terjawab. Ibu jarinya dengan gesit mengetik balasan untuk sang suami.
Maaf sayang... Aku baru saja selesai bekerja.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan tersebut, tak sampai lima detik ponsel Sandra bergetar. Satya dengan cepat menelfonnya kembali!
...🌴🌴🌴...