
Satya segera merebahkan tubuh Sandra dengan perlahan ke atas kasur berukurang king size. Mata dua insan yang sedang di mabuk asmara itu saling menatap dengan mesra. Satya menahan beban tubuhnya dengan bertumpu pada kedua siku. Jari jemari Satya menyusuri wajah Sandra yang tanpa make up sama sekali.
"Kau cantik..." Gumam Satya. "Kau juga wanita tangguh.. Aku bisa tahu itu sejak pertama kali melihatmu..."Lanjut Satya menatap ke dalam manik mata Sandra.
"Aku pria yang beruntung karena memilikimu.." Ujar Satya seraya mengecup bibir merah muda yang sejak tadi menggodanya.
Kecupan yang awalnya perlahan kini berubah menjadi intens hingga membuat sang pemilik bibir itu tanpa sadar melenguh. Mata keduanya saling menatap menyelami satu dan lainnya dengan detak jantung yang mulai berpacu liar. Satya yang awalnya terdiam dan menghentikan ciumannya saat manik mata tajamnya seakan terpaku ketika mencoba menyelami manik mata hangat milik sang istri, kini kembali mengecup dan memangut bibir merah muda itu.
Sandra hanya bisa diam menikmati dan sedikit demi sedikit mengikuti nalurinya. Tangan Satya pun saat ini mulai menjelajah tak tinggal diam, mulai menyusup mencari bola kenyal yang menjadi salah satu lahan favoritnya.
"Sayang... " Lenguh Sandra.
Tanpa sadar Sandra menahan tangan pria itu untuk menjelajah bola kenyal miliknya, bukan karena tidak ingin, Tapi Sandra hanya merasa takut.
"Rilekskan dirimu sayang..." Ujar Satya seraya mengecup pucuk bola kenyal yang sudah mengeras. "Aku akan melakukannya perlahan..."
Akhirnya malam itu pun mereka lalui dengan pergulatan panas saat penyatuan itu terjadi, deru napas yang berpacu dengan suara hentakan, serta geraman memenuhi setiap sudut kamar megah bernuansa abu-abu. Memperlihatkan dahsyatnya percintaan yang sedang dilakukan oleh dua insan yang akhirnya melepas diri keduanya untuk satu sama lain. Mereka benar-benar mensahkan pernikahan mereka dengan sangat syahdu.
Keesokan harinya...
Satya terbangun dari tidurnya merasa terkejut saat matanya yang terbuka menatap punggung polos seorang wanita yang tertidur di sampingnya. Apalagi saat Ia menyadari kalau mereka berdua sedang tidak memakai sehelai benang sedikitpun di balik selimut.
Satya menatap punggung Sandra yang polos. Pikirannya berlari pada kejadian tadi malam, kejadian yang akan selalu Ia ingat seumur hidupnya karena akhirnya Ia melepas keperjakaannya dengan istrinya sendiri. Satya tidak peduli jika saat ini Ia memang masih beristri dua, namun baginya.... Sandra adalah satu-satunya.
Satya mengulas senyum saat mengingat betapa sulit torpedo miliknya menembus lembah hangat sang istri. Sandra benar-benar memberikan dirinya dengan utuh pada Satya.
__ADS_1
Sandra membalikkan tubuhnya hingga kini keduanya berhadapan. Satya menatap wajah lelah Sandra yang masih tertidur lelap. Siapa yang tidak lelah jika torpedo milik Satya menggempur Sandra berulang kali tadi malam hingga teriakan sang istri justru menjadi baham bakar penyemangat dirinya untuk semakin memberikan kenikmatan.
Satya lantas turun dari tempat tidur dengan perlahan. Ia berjalan dengan tubuhnya yang polos ke kamar mandi. Satya memutuskan untuk segera membersihkan diri karena pagi ini Ia harus menghadiri sebuah meeting penting. Satya benar-benar harus memperhatikan langkahnya. Jika Ia sampai tidak datang meeting, Satya takut itu akan mengundang kecurigaan Chandra Nagara, Sang Ayah.
Lima belas menit waktu yang di butuhkan Satya untuk membersihkan diri. Pagi ini moodnya benar-benar sangat baik. Ia sudah berubah menjadi pria sejati! Berulang kali Satya seperti orang gila karena tertawa kecil saat melihat tampilan dirinya di cermin. "Tampan, kaya dan torpedoku mampu membuat istriku berteriak... Hidup yang sempurna!". Gumam Satya menatap dirinya di cermin seraya menata rambutnya dengan pomade.
Satya lalu menghampiri Sandra yang masih lelap tertidur. Satya menyingkap rambut Sandra yang menutup sebagian wajah wanita itu. Satya membungkukkan tubuhnya dan mengecup kening Sandra dengan lembut. "Aku akan segera pulang ke sini setelah selesai bekerja". Bisik Satya. Ia menatap sejenak pada Sandra yang tidak terganggu sama sekali, wanita itu masih tidur di buai mimpi.
Satya lantas beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar dengan hati-hati. "Loh Bapak ada di sini" Sapa Bik Laras saat melihat Satya yang baru saja keluar dari kamar.
Satya mengangguk seraya melemparkan senyum pada Bik Laras, seorang wanita dengan usia sekitar 40 tahun. "Iya, Bik. Tadi malam saya datang" Jawab Satya.
"Mau Bibik buatin kopi dulu sebelum berangkat?". Tawar Bik Laras.
Bik Laras mengulum senyum diam-diam paham apa yang telah terjadi tadi malam di antara dua anak muda yang baru menikah ini. "Siap, Pak!". Ujar Bik Laras.
Satya menghela napas. "Bik, jangan panggil saya Bapak bisa? Saya ini masih muda dan mungkin cocok menjadi anak Bibik juga. Panggil saya dengan nama atau senyaman Bibik tapi tolong jangan panggil Bapak ya, Bik!". Ujar Satya menatap Bik Laras dengan raut serius.
"Den Satya dan Nona Sandra saja. Tidak enak kalau Bibik hanya panggil nama". Sahut Bik Laras.
"Terdengar lebih baik". Ujar Satya tersenyum tipis dan segera pamit untuk pergi ke kantor.
...🌻🌻🌻...
Gedung Nagara Corporation
__ADS_1
Di lantai teratas gedung perusahaan milik Satya, tepatnya di dalam ruang kerja Satya. Nino sedang kalang kabut menghadapi amukan Nadya yang tiba-tiba saja datang ke kantor. Wanita itu mencari keberadaan Satya karena sejak semalam sang suami tidak pulang ke rumah.
"Katakan padaku brengsek! Di mana Satya?!"
"Astaga harus berapa kali aku katakan kalau suamimu sedang sibuk!Dia pergi ke kota sebelah kemarin sore, mungkin dia kelelahan untuk kembali dan memutuskan untuk menginap!" Jelas Nino dengan berbohong.
"Lalu kenapa kau tidak ikut dengannya hah?". Cecar Nadya.
"Karena aku pun banyak tugas yang harus di selesaikan di kantor! Sudahlah kau tunggu saja dia datang. Pagi ini ada jadwal meeting penting yang harus di hadiri olehnya. Dia pasti sampai sebentar lagi". Ujar Nino seraya melangkah keluar dari ruangan Satya tanpa berniat mendengar ocehan istri pertama sang bos.
Tiga puluh menit kemudian, Satya akhirnya menampakkan batang hidungnya di kantor. Nino yang memang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya langsung menarik Satya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya lebih dulu.
"Ada apa kau menarikku seperti orang kesetanan seperti ini huh?" Omel Satya yang di tarik begitu saja.
"Di dalam ruanganmu ada nenek lampir! Dia mengamuk sejak tadi mencari keberadaanmu."
Satya mengerutkan keningnya. "Nenek lampir?". Satya terlihat berpikir. "Maksudmu Nadya?".
"Ya! Istri pertamamu itu!".
Satya mengibaskan tangannya acuh. "Sudahlah biarkan saja! Aku beri check pun dia akan tenang kembali" Sahut Satya seraya melangkah keluar ruangan Nino.
Namun tepat di palang pintu, Satya membalikkan tubuhnya. "Kau tahu? Aku akhirnya berhasil menjadi kucing jantan tadi malam! Hahahahhaha". Satya tertawa terbahak-bahak seraya melangkah menuju ruangannya.
Nino tertegun sendiri di ruangannya. "Sialan... Bisa-bisanya dia bicara seperti itu!". Gerutu Nino yang semakin buruk di kala sang bos justru sedang dalan nuansa hati yang sangat baik.
__ADS_1