
Satya sedang mengamati kamar tidur Sandra yang sederhana. Kasur berukuran single yang mepet ke tembok serta jendela yang masih memakai kaca kanopi tepat di atas kepala jika berbaring membuat Satya tertegun.
Lemari kayu dua pintu yang kokoh serta meja belajar yang di letakkan bersisian. Satya mengamati beberapa buku yang tersusun di atas meja. Ia mengambil sebuah buku yang berasal dari sebuah lembaga kursus bahasa asing yang cukup terkenal. Satya melihat level yang sudah di dapat oleh Sandra di lembaga kursus tersebut yaitu High Intermediate. Satya tanpa sadar tersenyum. Istri mudanya itu ternyata diam-diam memiliki banyak sisi menarik yang tidak pernah di perlihatkan pada orang lain.
Satya lalu menaruh kembali buku kursus tersebut saat Sandra masuk ke dalam kamarnya seraya membawa 2 buah tas besar. Satya mengerutkan kening saat melihat yang di bawa oleh Sandra.
"Kenapa tas seperti itu yang kau bawa? Apa kau tidak punya koper?". Tanya Satya seraya meraih salah satu tas yang sudah terlihat lusuh.
Sandra terkekeh pelan. "Buat apa aku punya koper? Aku tidak pernah pergi kemanapun. Sejauh aku pernah pergi, hanya kota-kota sebelah saja yang aku kunjungi dan itu tidak membutuhkan koper hehehee". Ujar Sandra seraya membuka lemari pakaiannya.
Satya lalu menarik tubuh Sandra dengan cepat masuk ke dalam dekapannya. "Mulai sekarang kau akan memerlukan banyak koper. Aku akan sering mengajakmu bepergian entah dalam rangka menemaniku saat bekerja atau liburan. Aku akan membawamu melihat dunia ini". Ujar Satya mendekap Sandra dengan hangat.
Sandra tidak menjawab apapun, Ia hanya membalas pelukan hangat suaminya seraya mengulas senyum manis. Tak ada henti-hentinya Sandra bersyukur sudah di pertemukan dengan Satya. Walau mereka belum kenal terlalu lama, namun semakin hari Sandra bisa melihat ketulusan Satya serta pria itu pun memperhatikan kesejahteraan keluarganya. Itu yang terpenting bagi Sandra.
"Apa kamu yakin mau menginap di rumahku malam ini?". Tanya Sandra memastikan. Pasalnya Satya tiba-tiba saja mengungkapkan bahwa Ia ingin menginap di rumah Sandra. Tentu saja Dimas dan Retno sangat senang dan menerima kedatangan Satya dengan sangat terbuka.
Satya mengangguk. "Tentu saja aku yakin. Kenapa aku harus tidak yakin?". Tanya Satya bingung.
Sandra menggaruk tengkuknya. Bingung bagaimana menjelaskan bagaimana situasi rumah Sandra. "Kamu tahu kan.... Rumahku rumah tua..."
"Tanpa kau bilang aku sudah bisa melihatnya. Apa yang salah dengan itu?".
"Mmm.. Kamu juga tahu kan kalau perumahanku ini identik dengan rumah-rumah peninggalan zaman Belanda. Rumahku ini masih menjadi model asli dari zaman itu belum pernah di rombak" Ujar Sandra.
Satya mengerutkan keningnya. "Lalu kenapa?" Ia bertanya dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
"Terkadang kamu bisa merasakan hal mistis di malam hari....." Cicit Sandra.
Satya melongo. "Hal mistis?". Ulang Satya pelan yang di angguki oleh Sandra.
Satya terdiam sejenak seraya netra tajamnya beredar ke seluruh sudut kamar Sandra. "Hahahahahahahaha astaga istriku lucu sekali!" Satya tiba-tiba saja tertawa renyah.
"Ini sudah tahun 2023 sayang! Mana ada hal seperti itu? Ahahhaha".
Sandra mencebik. "Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Aku dan keluargaku sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi tidak dengan pendatang." Sandra memperingatkan. Kali ini Sandra memang bicara apa adanya karena Ia memang berulang kali mengalami kejadian aneh sejak kecil di rumahnya.
Saat dahulu Dimas memelihara seekor anjing, anjing itu selalu menggonggong serta melompat-lompat ke atas pohon duku yang tumbuh rindang dan tinggi di halaman rumah Sandra. Anjing itu selalu menggonggong tepat di waktu petang. Hingga tak sengaja adik Sandra berniat memfoto tingkah anjing tersebut, justru malah terkejut saat melihat ada sebuah siluet putih yang sedang duduk di salah satu dahan pohon duku tersebut.
Pengalaman-pengalaman mistis lainnya pernah di lalui oleh Sandra. Apalagi kamar Sandra terletak di paling ujung dekat yang memiliki dua buah jendela. Satu jendela kecil yang mepet dengan kasurnya dan satu jendela besar yang di baliknya adalah sebuah lorong yang menghubungkan ruang tengah ke area belakang rumah yang terdapat dapur, kamar pembantu yang di jadikan gudang, serta kamar mandi khusus pembantu yang tidak pernah di pakai. Setiap anggota keluarga Sandra mengakui bahwa mereka semua selalu tiba-tiba saja merinding saat melalui lorong tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Ibu minta Kak Sandra dan mmmm...Om Satya untuk makan siang bersama". Ujar Siska pelan. Matanya melirik takut-takut ke arah Satya.
Satya lantas berdiri menghampiri Sandra dan Siska. Ia melemparkan senyum hangat pada adik iparnya itu. "Apa aku setua itu untuk kau panggil dengan Om?". Tanya Satya.
"Eeeehh.. Maaf.." Ujar Siska gugup.
"Untuknya kamu memang om-om ehehehehhe". Timpal Sandra meledek Satya.
"Enak saja!". Gerutu Satya pada Sandra. "Panggil aku seperti kau memanggil kakakmu. Kak Satya. Lebih enak di dengar hehe" Ujar Satya beralih pada Siska yang di angguki oleh gadis itu.
__ADS_1
Tak lama Sandra dan Satya pun segera menuju ruang makan. Di sana sudah ada Dimas dan Retno yang sedang duduk menunggu kedatangan mereka.
"Ayo.. Ayo kita makan dulu.." Ujar Dimas saat Satya menarik sebuah kursi untuk Sandra.
"Maaf ya Nak Satya kalau menu yang Ibu masak tidak sesuai selera Nak Satya. Apa kamu mau memesan makanan di luar saja?". Sahut Retno menatap sang menantu.
Satya menatap beberapa menu yang sudah tersedia di atas meja makan. "Tidak perlu, Bu. Saya akan memakan masakan Ibu mertua saja. Kapan lagi saya bisa merasakan masakan Ibu? Hehhehehe". Satya terkekeh seraya mengambil sebuah piring.
"Kamu akan selalu bisa merasakan masakan Ibu karena kamu menantu Ibu, Nak". Ujar Retno tersenyum tulus.
Suasana di ruang makan pun terasa begitu hangat. Kehadiran Satya di tengah-tengah keluarga Sandra tak di pungkiri seperti sebuah oase di tengah padang gurun yang gersang. Satya memberikan warna baru di keluarga Sandra. Tak ayal sikap Satya yang bisa beradaptasi pada keluarga Sandra membuat Sandra kagum pada sang suami.
Di sisi lain.....
Gedung Nagara Corporation.
"Apa katamu? Dia tidak ada jadwal business trip kemanapun? Apa kau yakin?" Tanya Chandra pada sekretaris kantor yang bertugas langsung di bawah Satya.
"Be-benar Pak Chandra." Ujar sang sekretaris dengan gugup. Tidak biasanya pemilik perusahaan itu datang ke lantai khusus ruang kerja Satya. Dan jika ada hal terkait apapun tentang sang putra, Chandra pasti menghubungi langsung pada Nino, asisten pribadi sang putra.
"Lalu bagaimana dengan Nino? Apa dia juga pergi bersama Satya?".
Sang sekretaris mengangguk. "Iya, Pak. Pak Satya dan Pak Nino memang mengajukan cuti selama tiga hari secara bersamaan.".
Chandra berkacak pinggang seraya menarik napas. Pria paruh baya yang masih segar itu melemparkan tatapannya ke luar melalui jendela kantor yang terhampar panjang.
__ADS_1
Kemana sebenarnya mereka berdua?!
......🌴🌴🌴......