Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 64


__ADS_3

"Pak, tolong turunin saya sedikit jauh dari aula utama ya". Pinta Sandra saat mobil yang di tumpanginya baru saja masuk ke area perumahan elit.


"Loh kenapa Bu?".


"Gak apa-apa, Pak. Saya hanya gak enak kalau benar-benar turun di depan aula utama. Takut ada yang melihatnya hehe". Sandra menjelaskan seraya terkekeh. Ia memang benar-benar kuatir jika ada seseorang yang melihatnya turun dari mobil mewah milik sang suami. Apalagi saat ini Sandra sudah memakai seragam caddy. Pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan atau bahkan desas desus bagi dirinya.


"Saya diperintahkan Bapak untuk mengantarkan Ibu Sandra sampai di depan aula. Bahkan saya baru boleh pergi setelah Ibu benar-benar masuk" Sanggah sang supir.


Sandra menghela napasnya dengan kesal dengan perintah Satya pada supirnya. "Tolonglah, Pak. Soalnya saya sudah pakai seragam caddy. Kalau ada yang memergoki saya bisa gawat kan?".


Sang supir pun terlihat berpikir sejenak hingga akhirnya mengangguk. "Baiklah Bu. Tapi jalan sedikit tidak apa-apa kan?"


"Justru seperti itu lebih baik, Pak. Terima kasih ya. Saya gak akan bilang-bilang tentang hal ini". Ujar Sandra tersenyum.


Tak lama akhirnya Sandra pun turun sedikit lebih jauh dari area Golf Country Club. Ia harus berjalan sekitar 300 meter untuk sampai ke parkiran. Sandra menghirup udara pagi yang masih terasa sangat sejuk. Ia menengadahkan kepalanya memandang langit yang mulai terang.


Sandra melirik arloji yang melingkar di tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Sandra pun berlari kecil karena dirinya masuk shift 1 hari ini.


...


Nadya membuka kaca jendela mobilnya dengan lebar menikmati semilir angin pagi menerpa wajahnya. Tiba-tiba matanya menyipit tatkala melihat sedan mewah berwarna hitam yang familiar sedang melaju berlawanan arah. Nadya menajamkan penglihatannya saat melihat plat mobil tersebut saat bersisian.


Nadya semakin mengerutkan kening saat mengenali plat mobil sedan mewah tersebut. "Itu kan mobil Satya... Apa dia ada urusan di Country Club? Atau dia juga bermain golf?". Nadya bergumam seraya melihat kaca spion.


Nadya lantas meraih ponselnya di dashboard. Ia ingin menanyakan langsung pada sang suami. Namun sayang ponsel Nadya ternyata habis baterai. Nadya pun mencari wireless charger dan segera mengisi ulang ponselnya seraya di masukkan ke dalam tasnya untuk dibawa ke lapangan golf.


Nadya membelokkan mobilnya menuju parkiran golf. Tanpa menunggu lama Ia dengan cepat menurunkan tas golfnya dan tas kecil berisi ponsel serta dompet.


Di aula Ia langsung di sambut oleh tiga orang teman perempuannya yang sudah menunggu sejak tadi. "Lo lama banget sih?". Salah seorang teman Nadya bertanya.


Nadya hanya cengengesan. "Iya tadi gw di tanya-tanya dulu sama mertua. Lo tau sendirilah!". Ujar Nadya.


"Mana gw tau? Mertua lo sama mertua gw jauh beda beb! Mertua lo baiknya kayak malaikat ke menantu, nah mertua gw mirip setan hahahahhaha". Timpal seorang teman Nadya yang lain. Keempat wanita itu pun lantas tertawa terbahak-bahak seraya berjalan menuju lapangan golf.


...


Sandra, Merin dan Giska sedang duduk di sebuah tangga yang terletak di sudut restoran yang juga menjadi titik awal keberangkatan para pemain golf. Ketiganya sedang menunggu giliran untuk di panggil oleh Mami Sari.


Sandra mengamati pagi ini orang-orang yang ingin bermain golf cukup ramai. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Jika Ia turun lapangan sekarang, setidaknya Ia tidak akan melalui panas terik di tengah lapangan.


"Sandra! Giska!". Teriak Mami Sari.


Sandra dan Giska pun lantas segera berdiri dan menghampiri Mami Sari. "Kalian membawa pemain di buggy car nomor 3 ini ya. Keduanya pemain wanita" Ujar Mami Sari seraya menatap Sandra.


"Oke, Mi!" Sahut Sandra dan Giska secara bersamaan. Keduanya pun segera melakukan tugas mereka yakni memeriksa jumlah stik golf dan covernya.


"Kalian yang menjadi caddy kami berdua?" Ujar seorang wanita dari sisi Sandra.


Sandra dan Giska pun menoleh. "Iya, Bu". Jawab Giska sopan. Lain halnya dengan Sandra, justru Ia tertegun seraya menatap wanita cantik di hadapannya. Wanita yang wajahnya selalu terngiang di memorinya. Wanita yang pernah Ia lihat naik mobil bersama sang suami di kantor Nagara Corporation.


Nadya menatap Sandra yang melihatnya dengan aneh. "Hey! Ada apa kamu melihatku seperti itu?" Ujar Nadya.

__ADS_1


Giska menyenggol lengan Sandra hingga tersadar. Sandra pun menundukkan kepalanya. "Maaf". Ujarnya pelan.


Nadya hanya memicingkan mata angkuh. "Kamu yang jadi caddyku. Ini pegang" Ujar Nadya seraya menyerahkan 3 buah kotak berisi bola golf. "Bola golfku semuanya berwarna pink. Ingat itu".


Sandra hanya mengangguk dan segera memasukkan bola golf milik Nadya ke dalam tas wanita itu. "Aku bermain berempat dengan pemain di buggy car nomor empat. Jadi kita bareng dengan mereka". Ujar seorang teman Nadya pada Giska.


"Baik Bu". Ujar Giska hingga tak lama kemudian buggy car nomor tiga dan nomor empat pun berangkat menuju hole 1.


Sandra lantas dengan cekatan memberikan stik golf yang di butuhkan pada Nadya beserta.bolanya. Tak di pungkiri Sandra terpukau dengan pukulan pertama yang di lakukan oleh Nadya. Wanita itu sudah terlihat ahli bermain golf.


Setidaknya dia tidak merepotkanku di lapangan...


Gumam Sandra.


Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah dua jam berlalu. Sandra, Giska serta dua orang caddy senior sudah menemani keempat pemain wanita hingga setengah permainan. Artinya masih tersisa sembilan hole lagi yang harus di lewati.


"Nad, kapan lo mau buat party di vila baru lo dong?" Ujar seorang teman Nadya saat menunggu kedua temannya memukul bola.


"Nantilah.. Gw izin dulu sama suami!"


"Lo bilang si Satya selalu ngizinin lo ngelakuin apa aja selama gak aneh-aneh kan? Kita juga gak akan aneh-aneh kok! Kumpul aja kita berempat." Sahut teman Nadya.


Sandra yang berdiri di belakang Nadya sontak tertegun. Jantungnya berdetak tak karuan. Satya? Sandra bergumam dalam hatinya. Apa Satya yang dibicarakan adalah Satya yang sama? Manik mata Sandra berlari menatap punggung Nadya yang tengah berguncang kecil terlihat sedang tertawa. Wanita ini.... Aku pernah melihatnya bersama Satya, suamiku. Tapi apa yang dia bilang tadi? Izin dengan suami......... Satya? Sandra lalu menatap teman Nadya.


"Sandra!". Pekik Giska. "Lo dari tadi gak fokus deh gw perhatiin. Ada apa sih?"


Sandra lantas menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. "Gak apa-apa kok".


...


Satya yang baru saja selesai.mandi segera membalut tubuhnya dengan kemeja berwarna putih dan celana berwarna hitam. Ia lalu menata rambutnya dengan gel khusus rambut. Seraya bersiul Satya menatap penampilannya yang sudah sempurna.


Ia lantas segera memakai jas yang berwarna senada dengan celananya. Satya lalu melingkarkan sebuah jam di lengan kiri Memakai sepatu pantofel berwarna cokelat. Sempurna. Ia sudah siap untuk berangkat ke kantor.


Satya lalu meraih ponselnya dari atas nakas. Ia memindai sidik jarinya pada layar ponsel. Sedetik kemudian matanya terbelalak saat membaca sebuah pesan dari Nadya.


Aku akan main golf dengan teman-temanku pagi ini di tempat biasa. Mama mertua memintaku untuk mengabarimu walau aku tau kamu tidak akan peduli. Kamu jadi kan pulang nanti malam kerumah?


Tanpa menunggu lama, Satya melesat begitu saja keluar dari apartemen seraya menggenggam ponselnya dengan erat. Hatinya benar-benar gelisah saat ini.


"Bos!" Panggil Nino saat melihat Satya baru keluar dari lift. Namun Nino mengerutkan kening saat melihat Satya berlari ke arahnya seakan terburu-buru.


"Mana kunci mobil! Kau pergilah duluan ke kantor! Aku harus ke Country Club!". Ujar Satya to the point.


"Untuk apa kau kesana? Bukankah Sandra sudah di antar dengan supir?".


"Cepatlah!" Titah Satya tak sabaran.


"Nadya pergi bermain golf pagi ini dan Sandra pun pergi bekerja pagi ini! Kau tahu kan apa yang mungkin saja terjadi?".


Nino melotot dengan raut wajah terkejut. "Bagaimana bisa?!" Pekik Nino.

__ADS_1


"Tapi bos.. Mereka tidak saling mengenal. Kau tenang saja!"


Satya menggeleng pelan. "Aku tidak.bisa tenang sebelum memastikan semuanya dalam kendali". Ujar Satya. "Cepat berikan kunci mobilnya!"


Tanpa menyanggah apapun, Nino pun segera memberikan kunci mobil.pada Satya.


Sepanjang jalan hati Satya benar-benar gelisah. Ia berharap apa yang di pikirkannya tidak terjadi sesuai kata Nino, Sandra maupun Nadya tidak saling mengenal satu sama lain. Satya menekan pedal gas lebih dalam hingga mobil melaju lebih cepat. Satya memukul stir mobil. Ia kesal karena baru membaca pesan dari Nadya dua jam kemudian.


Setibanya di depan aula Golf Country Club, Satya menghentikan mobilnya di sembarang tempat. Ia bergegas turun dalam keadaan mobil masih menyala. "Tolong parkirkan mobilku". Titah Satya pada seorang petugas yang mengenalinya sebagai Satya Nagara. Petugas tersebut dengan cekatan segera masuk ke dalam mobil dan membawa mobil Satya ke parkiran.


Satya berlari kecil mencari Mami Sari hingga di lihatnya wanita itu masih mengatur beberapa orang caddy. Mami Sari yang melihat Satya lantas menghampiri. "Pak Satya, ada apa kemari?" Tanya Mami Sari.


"Dimana istriku?" Sahut Satya to the point.


"Sandra sedang turun ke lapangan sejak dua jam yang lalu, Pak." Jawab Mami Sari.


"Dia berangkat dari hole 1 atau hole 9 tadi pagi?"


"Dari hole 1. Jadi kemungkinan sekarang Sandra seharusnya sudah di hole 10 atau hole 11. Karena sudah dua jam berjalan". Jelas Mami Sari.


Satya menganggukkan kepala. "Ya. Pasti di sekitar hole itu". Ujar Satya seraya mengedarkan pandangannya ke deretan buggy car.


"Aku harus melihatnya sekarang juga. Terima kasih atas informasinya". Satya pun segera meninggalkan Mami Sari yang kebingungan. Pria itu pun membawa buggy car yang kosong dan meleset menuju hole sepuluh.


Satya mengedarkan pandangannya di hole sepuluh namun nihil, Ia tidak melihat keberadaan Sandra. Satya lantas melajukan buggy car menuju hole sebelas. Dari kejauhan terlihat ada dua buggy car yang sedang berhenti. Satya menyipitkan matanya.


Tepat di belakang dua buggy car itulah Satya memberhentikan buggy car yang di kemudikannya. Ia melirik sebuah tas golf yang Ia kenali milik Nadya yang tersemat di belakang salah satu buggy car yang terparkir. Salah seorang teman Nadya yang menyadari kehadiran Satya lantas melongo.


"Nad! Nadya! Laki lo nih!". Teriak teman Nadya pada Nadya yang sedang memukul bola tepat di sisi rintangan water hazard. Nadya pun lantas menengok ke arah temannya dan tersenyum lebar saat melihat Satya yang tiba-tiba saja berada di lapangan golf.


Giska yang sejak tadi mencari bola golf di area semak-semak sontak terdiam saat melihat suami Sandra berada di tengah-tengah lapangan dengan setelan jas kerjanya. Giska melihat ke arah Sandra yang masih sibuk mengaduk-ngaduk sisi water hazard dengan sebuah ranting. Ia mencari keberadaan bola golf milik Nadya yang terjatuh ke air.


Setelah berhasil, Sandra segera berjalan kembali menuju buggy car seraya menunduk untuk membersihkan bola dengan sebuah lap kecil yang tersemat di celananya.


"Yaaaankkk... Kamu sengaja kesini untuk nemuin aku?" Pekik Nadya menatap Satya dengan tatapan gembira.


Sandra yang mendengar ucapan dari pemain golf yang ditemaninya pun lantas mendongakkan kepala.


Deg


Tubuhnya membeku tatkala melihat sang suami sedang berdiri menatapnya dengan raut wajah terkejut. Sandra menatap Nadya yang sedang merangkul mesra lengan Satya. Silih berganti Sandra menatap Satya dan Nadya.


Pergi ke kantor satu mobil...


Kapan pulang ke rumah...


Izin suami...


Satya...


Pikiran Sandra pun kembali mengingat berbagai kejadian yang tak terduga yang Ia lihat maupun Ia dengar.

__ADS_1


Tanpa sadar air mata Sandra pun jatuh. Ia hanya bisa menatap nanar Satya yang wajahnya sudah pucat pasi. Sandra menyadari satu hal... Satya bukan hanya menjadi miliknya seorang.


...🌴🌴🌴...


__ADS_2