Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 12


__ADS_3

"Ada apa ini?". Tanya Satya begitu saja ketika dirinya menghampiri kerumunan yang tak lain adalah Mami Sari dan para peserta training.


Mami Sari beserta yang lain sontak saja menoleh ke belakang. Mereka semua terkejut melihat Satya yang sedang berdiri tengah menatap kebingungan. Satya lantas melangkah lebih dekat.


"Pak Satya, lagi apa anda di sini?". Tanya Mami Sari.


"Saya bertanya tadi ada apa?". Bukan menjawab pertanyaan Mami Sari, Satya justru menekankan pertanyaan nya yang belum terjawab.


"Ada yang pingsan, Tuan". Timpal Merin.


"Kenapa tidak kalian bawa secepatnya ke ruang perawatan?". Ujar Satya mengerutkan dahi. "Permisi saya mau lihat". Satya lantas meminta para peserta training yang menutupi buggy car menyingkir.


"Tadi dia jatuh pingsan setelah turun dari buggy car. Kami cukup keberatan mengangkatnya lagi ke atas buggy car. Baru saja kami berhasil, anda sudah lebih dulu datang".Jelas Mami Sari.


Satya menatap Sandra yang terkulai tak sadarkan diri dengan posisi direbahkan setengah badan di atas buggy car. "Cepat bawa ke ruang perawatan!". Titah Satya pada Mami Sandra.


"Kalian semua tunggu di sini. Mami akan membawa Sandra ke ruang perawatan. Jangan ada yang mengendarai buggy car yang itu nanti kalian bisa celaka!". Ujar Mami Sari pada seluruh anak didiknya seraya menunjuk sebuah buggy car yang berada di belakang.


"Aiisshh anda lama sekali! Satu buggy car tak ada harganya di banding nyawa orang!". Gerutu Satya yang kesal melihat Mami Sari masih sempat-sempatnya memberi himbauan tentang buggy car.


Satya lantas segera menaiki buggy car dan mengangkat tubuh Sandra agar terduduk. Ia memegangi kedua bahu Sandra seraya melemparkan tatapan tajamnya ke arah peserta training.


"Salah satu dari kalian ikut saya! Pegangi teman kalian ini di buggy car!". Titah Satya.


Dengan gesit Merin segera melangkah maju dan duduk di sisi buggy car memegangi Sandra yang kini di apit oleh dirinya dan Satya yang mengemudi. "Anda lanjutkan saja tugas anda, Mami Sari. Biar saya yang bawa dia ke ruang perawatan". Ujar Satya seraya menekan pedal gas buggy car.


Ruang perawatan berada di gedung pusat Golf Country Club. Satya mengemudikan buggy car dengan kecepatan maksimal.


"Siapa namamu?". Tanya Satya tanpa menoleh pada Merin.


Tak di pungkiri kini hati Merin rasanya gugup dan berdebar-debar. Ia tak menyangka bisa sedekat ini dengan Satya. "Saya Merin, Tuan". Jawab Merin akhirnya.


Tak ada ucapan apapun lagi dari Satya hingga Merin pun hanya terdiam memegangi tubuh Sandra agar tidak terjatuh atau bersandar pada Satya.


Tak butuh waktu lama, Satya segera menghentikan buggy car di area belakang gedung. Ia menatap Sandra dan Merin secara bergantian berusaha berpikir bagaimana caranya membawa Sandra yang masih tak sadarkan diri menuju ke ruang perawatan.

__ADS_1


"Apa kita papah saja, Tuan?". Tanya Merin mengerti kegamangan Satya.


"Kau gila? Temanmu ini pingsan! Jika kita papah sama saja kita seret dia".Ujar Satya.


"La-lalu bagaimana.... Tidak mungkin kan saya yang menggendong dia ke dalam". Cicit Merin ketakutan.


"Tidak mungkin juga saya minta Tuan yang menggendong teman saya..." Lanjut Merin.


Satya mengedarkan pandangannya ke sekitar dan melihat suasana di area belakang memang sedang sepi tak ada yang berlalu lalang.


"Sudahlah aku saja! Ayo kau ikut aku ke dalam!". Ujar Satya seraya turun dari buggy car dan mengambil posisi membungkuk di depan Sandra. "Baringkan dia di punggungku!". Titah Satya pada Merin.


Merin lalu menarik tubuh Sandra hingga ke punggung Satya. Dengan sigap Satya lantas segera berdiri dan berjalan menuju ke ruang perawatan dengan cepat.


Sesampainya di depan ruang perawatan, Merin masuk lebih dulu dan menahan pintu agar bisa di lewati oleh Satya dan Sandra.


Seorang dokter umum yang sedang bertugas segera berdiri dan menghampiri. "Apa dia pingsan?". Tanya sang dokter.


Merin mengangguk. "Iya, dok. Tadi dia jatuh begitu saja dan tidak sadarkan diri sampai sekarang". Ujar Merin menjelaskan.


"Saya periksa lebih dulu ya". Ucap Sang dokter dengan cepat menutup tirai.


"Apa dia sering pingsan seperti ini?". Tanya Satya menginterupsi Merin.


Merin menggelengkan kepala. "Tidak. Baru kali ini dia pingsan, Tuan. Tadi pagi dia sempat mengeluh kalau kepalanya pusing. Dia juga tidak sempat sarapan. Dia memang selalu tidak makan!". Ujar Merin kesal mengingat tadi pagi Sandra menolak biskuit pemberiannya.


Namun dengan cepat Merin menutup mulutnya saat Ia menyadari dengan siapa Ia kini berbicara. "Maaf, Tuan". Ujar Merin seraya menundukkan kepala.


Satya hanya tersenyum miring seraya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Merin.


Tak lama tirai pun terbuka. Sang dokter dengan sigap mempersiapkan infus untuk Sandra.


"Apa perlu sampai di infus?". Tanya Satya.


"Dia dehidrasi dan saya rasa dia belum makan sama sekali, Pak". Ujar Sang dokter menjelaskan pada Satya.

__ADS_1


"Padahal seorang Caddy harus menjaga asupan makanan dan cairan tubuhnya karena bekerja di bawah cuaca yang tidak menentu di lapangan". Lanjut Sang dokter.


Satya menatap Sandra cukup lama. Wajah yang pucat dan sayu memenuhi indera penglihatannya. Satya lantas berdiri dan menatap Merin dengan tatapan tajamnya.


"Kau tunggu temanmu hingga sadar. Urusan saya sudah selesai di sini". Ujar Satya pada Merin.


"Pastikan dia baru keluar dari ruangan ini ketika benar-benar segar, dok". Lanjut Satya memberi perintah pada sang dokter.


Tanpa menunggu jawaban, Satya lantas segera melangkah keluar ruangan. Selepas Satya pergi, Merin menghampiri sang dokter yang tengah memasang infus pada nadi Sandra.


"Dok, apa dokter tau siapa Tuan tadi? Kok dia seenaknya memberi perintah sih? Tadi ke Mami Sari juga seperti itu. Walau dia pemain tetap di sini, tetap aja dia gak boleh begitu kan?". Tanya Merin melontarkan seluruh tanda tanya yang berlarian di pikirannya sejak pertama kali melihat Satya.


Sang dokter tersenyum. "Dia bukan hanya pemain golf di sini. Tapi dia adalah pemilik lapangan golf tempat kita bekerja sekarang". Jelas sang dokter dengan santai.


Merin menganga terkejut. "Apa?!".


"Dokter gak bercanda kan?". Pekik Merin tak percaya.


"Untuk apa saya bohong?". Jawab Sang dokter yang sukses membuat Merin melongo.


Masih di tempat yang sama, Satya segera melangkahkan kakinya menuju restaurant tempat dia meninggalkan Nadya.


Terlihat Nadya berdiri dan menghampiri Satya dengan wajah kesal. "Kamu kemana tadi?!". Ucap Nadya sedikit berteriak.


Satya mengedarkan pandangannya ke sekitar yang ramai orang. "Bisa jaga sikapmu, Nadya?". Ujar Satya pelan namun dengan tatapan tajam.


"Habisnya aku kesal. Kamu ninggalin aku begitu aja! Ayo kita turun ke lapangan. Tuh buggy car dan tas golf nya udah siap dari tadi!". Sahut Nadya seraya menunjuk sebuah buggy car yang terparkir di depan.


Satya lantas segera melangkah menuju buggy car. Namun bukannya duduk di dalam buggy car, Satya justru melepas tas golf nya dari belakang buggy car. Ia juga melepas tas golf milik Nadya.


"Kok kamu lepas sih?". Tanya Nadya bingung.


"Aku sudah tidak semangat bermain golf hari ini!". Ujar Satya seraya melengos membawa dua buah tas golf di kedua pundaknya.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Happy reading! Sudah di tepati yaa 2 bab ❤


Like, komen, vote jgn lupaaa donggsss 😘


__ADS_2