
Sandra dan Satya akhirnya sampai ke sebuah resort yang letaknya benar-benar di tengah hutan. Bangunan resort itu terdiri dari bangunan kayu yang atapnya berbentuk segitiga meruncing ke atas. Sandra mengedarkan pandangannya ke seluruh area, suasananya terasa nyaman dan resort yang di datangi olehnya benar-benar terasa menyatu dengan alam.
Satya menggenggam tangannya seraya mengajak Sandra melangkah ke dalam. Keduanya melewati jalan setapak. Sandra menengadahkan wajahnya ke pepohonan rimbun di sekitar mereka, mencoba mencari keberadaan burung-burung yang terdengar saling bersahutan seakan menyapa kedatangan dirinya.
"Maafkan aku baru bisa mengajakmu berlibur ke tempat yang dekat. Nanti akan aku atur jadwalku agar kita benar-benar bisa pergi honeymoon ke luar negeri". Ujar Satya merangkul Sandra seraya berjalan.
Sandra menyampirkan satu tangannya ke pinggang Satya. "Tidak apa-apa. Kesini pun aku sudah senang. Suasananya sangat menenangkan". Sahut Sandra.
"Walau aku harus bolos bekerja lagi selama tiga hari".
Satya terkekeh pelan. "Mami Sari bahkan sampai bertanya padaku kenapa aku yang menghubunginya terkait izin kerjamu".
"Aku rasa kita perlu memberitahu Mami Sari tentang pernikahan kita. Setidaknya dia akan menjagamu jika dia tahu kalau kau istriku". Ujar Satya menoleh pada Sandra.
Sandra mencebik. "Aku tidak perlu di jaga".
"Tentu harus! Kau wanita yang cantik dan menarik. Aku saja tertarik padamu sejak pandangan pertama, tidak bisa di pungkiri pasti banyak pemain golf yang ingin mendekatimu sayang". Sanggah Satya.
Sandra hanya diam tak menjawab. Dirinya teralihkan manakala melihat sebuah kolam renang yang cukup besar yang berada di tengah-tengah pohon pinus. "Sayang... Apa kolam renang itu di isi oleh air panas?". Tunjuk Sandra.
Satya mengikuti arah pandangan Sandra. "Sepertinya tidak. Kenapa memangnya?" Tanya Satya.
"Apa tidak dingin berenang di tengah hutan seperti ini? Aku membayangkannya saja merinding" Ujar Sandra.
"Tidak perlu membayangkannnya. Kau tidak akan kubiarkan berenang di tempat terbuka seperti itu. Huh aku tidak rela". Satya cemberut.
Sandra mengerutkan keningnya heran. "Loh kenapa?".
"Pakai tanya pula! Sudah ayo cepat kita taruh koper lalu aku akan mengajakmu berkeliling!".
__ADS_1
Sandra tersenyum tipis melihat raut wajah sang suami yang terlihat kesal.
...🌻🌻🌻...
Hotel Carlton
Seorang wanita bertubuh ramping dengan paras yang cantik terlihat berjalan memasuki lobby hotel bintang 5 dengan percaya diri. Penampilannya yang menawan sukses membuat banyak pasang mata menatap ke arahnya.
Rambut blonde panjang yang di tata curly dengan riasan wajah nude membuat siapapun terpikat. Dia adalah Nadya Carlton. Seorang putri dari keluarga Carlton yang terkenal dengan jaringan bisnis hotel bintang 5 bukan hanya di dalam negeri, namun juga merambah hingga ke luar negeri. Selain hotel, keluarga Carlton pun sukses menggeluti di sektor real estate.
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Keluarga Nagara dan Keluarga Carlton kini telah menjadi dua keluarga yang di ikat melalui pernikahan anak mereka. Itu artinya tidak banyak yang tahu jika Nadya adalah Istri dari Satya Nagara. Begitu pula sebaliknya. Pernikahan mereka di adakan sangat private yang hanya di hadiri oleh karib kerabat serta orang-orang kepercayaan saja. Bukan tanpa alasan, Satya sangat antipati terhadap pemberitaan media.
Nadya memasuki sebuah kamar presiden suite yang berada di lantai khusus. Lantai tersebut hanya diperuntukkan bagi sanak keluarga dan tidak terdapat cctv sama sekali untuk menjaga privasi.
Nadya lalu segera menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Aku sudah sampai. Kau datang ke resepsionis saja dan sebut namaku. Dia akan membuka akses untuk menuju ke lantai khusus". Sahut Nadya dan langsung memutuskan sambungan telfon begitu saja.
Nadya berdiri di tepi jendela kamar hotel seraya bersedekap dada. Hingga tak lama kemudian terdengar sebuah bel di pintu. Nadya lantas bergegas untuk membuka pintu.
"Ada apa kamu ingin menemuiku?". Tanya Nadya to the point.
"Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu dirimu saja". Jawab pria tersebut santai.
"Sialan! Kau bilang ada hal penting!"
"Kau. Kau yang penting". Ucap pria bernama Sean.
Nadya bersedekap dada menatap kesal pada Sean. "Jangan sembarangan menggangguku seperti ini. Aku bukan orang biasa seperti yang kau tahu!"
"Aku tahu itu. Karena itulah aku baru berani menghubungimu setelah enam bulan lamanya". Ucap Sean tersenyum.
__ADS_1
"Bahkan lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi! Kau hanya pria yang di tugaskan teman-temanku untuk menghibur dalam pesta lajangku! Berani-beraninya kau membohongi aku!" Umpat Nadya.
"Ternyata dalam kondisi sadar kau benar-benar wanita yang kasar dan pemarah". Ujar Sean tersenyum miring.
"Apa pedulimu hah? Sudahlah! Kau membuang-buang waktuku saja!". Nadya lantas segera melangkah pergi menuju pintu kamar namun Sean dengan sigap menahan lengan Nadya.
"Apa kau benar-benar melupakan malam itu?" Tanya Sean. "Malam di mana kita berdua melewati malam panas bersama."
Nadya tersenyum meremehkan. "Apa yang perlu aku ingat dari malam jahanam itu? Gara-gara malam itulah hubunganku dengan suamiku hingga kini belum membaik!". Ujar Nadya ketus.
Nadya memposisikan dirinya berhadapan dengan Sean. "Aku penasaran siapa yang merekam kegiatan kita malam itu dan mengirimkannya pada suamiku. Apa kau pelakunya huh?".Nadya menatap curiga.
"Tapi berapa kali aku berpikir keras, kau dan aku baru bertemu pertama kali malam itu. Kau tidak memiliki apapun untuk menghancurkanku". Lanjut Nadya.
Sean terdiam. Pria itu hanya menatap Nadya dengan seksama. Wanita yang Ia renggut kesuciannya saat pesta lajang wanita itu. Bukan salahnya. Ia tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan hal itu pada Nadya. Sean hanya di tugaskan untuk menari semi telanjang saja. Namun malam itu Nadya mabuk berat. Seluruh teman wanita itu pun malam itu terkapar karena alkohol.
Namun Nadya masih bisa mengigau dan memanggil dirinya dengan nama Satya. Sepanjang malam Ia menggempur tubuh menggoda Nadya, beberapa kali Sean mendengar jika Nadya menyebut nama Satya.
"Aku tidak memiliki niat jahat padamu. Apa manfaat untukku jika menghancurkanmu? Tidak ada". Ujar Sean.
"Tapi sejak malam itu, aku selalu dihantui rasa bersalah padamu. Aku takut karena kejadian malam itu, kau hamil".
Nadya mendelik tajam pada Sean. "Aku memang hamil gara-gara kau sialan!"
Sean lantas terkejut bukan main. Matanya membelalak menatap Nadya. Reflek Ia melihat perut Nadya namun sedetik kemudian keningnya berkerut. "Jika kau hamil, seharusnya perutmu......."
"Kau mengharapkan apa huh?" Potong Nadya. "Aku tidak sudi hamil dari pria rendahan sepertimu! Di tambah suamiku tidak mau menjadi ayahnya! Tentu saja aku menggugurkannya!".
"Kau......"
__ADS_1
"Apa?! Ini tubuhku! Aku berhak memutuskannya sendiri!"Sentak Nadya hingga wanita itu berlalu pergi meninggalkan Sean yang terdiam.