
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Matahari sudah menampakkan sinarnya dengan terik memberi kehangatan bagi setiap insan di bumi. Namun berbeda untuk seorang wanita muda yang berada di sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Tatapannya hampa menatap sejauh mungkin keluar jendela dari ketinggian. Matanya sedikit menyipit saat sinar matahari menerobos masuk seakan berusaha memberikan sedikit kehangatan bagi hatinya yang terasa rapuh.
Sandra memijat pelipisnya dengan pelan berusaha mengenyahkan rasa pusing yang melanda dirinya. Semalaman Sandra tidak bisa tertidur. Air mata terus tumpah membasahi wajah hingga bantal tidurnya. Kenyataan yang harus Ia hadapi benar-benar di luar dugaan. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua.
Sisi nuraninya bicara semua ini tidak benar, namun sisi nuraninya yang lain tak bisa dipungkiri jika hati Sandra sudah terpaut jauh pada Satya. Ia benar-benar sudah mencintai pria itu.
Sandra menghela napas dan menyentuh dadanya. Rasa sakit terasa merayapi hatinya saat Ia mengingat betapa beratnya Ia membiarkan Satya pulang kerumah untuk menjelaskan pada istri pertamanya. Dahulu Sandra selalu santai saat Satya pulang ke rumah. Namun setelah mengetahui segalanya, terbesit rasa tidak rela membiarkan sang suami untuk pulang ke rumahnya. Karena kini Sandra tahu bahwa di rumah itu ada Nadya, istri pertama sang suami.
Sandra membalikkan tubuhnya menatap pada pintu apartemen yang terdengar seseorang sedang memasukkan password. Ia mengerutkan kening, Sandra tidak sedang menunggu siapapun. Bahkan Mbak Laras yang biasa datang untuk membersihkan apartemen pun Sandra liburkan agar Ia bisa menyendiri sejenak.
Pintu apartemen pun terbuka. Sandra membeku menatap kehadiran Satya di apartemen pagi ini. Ia menyusuri penampilan casual sang suami, tubuh tegapnya hanya di balut dengan sebuah kaus santai serta celana jeans. Tidak ada setelan jas kantor walau hari ini masih hari kerja.
Satya melangkah menghampiri Sandra yang masih berdiri termenung. Netra mata pria itu menyusuri seluruh penampilan Sandra yang terlihat sangat kacau. Rambut panjangnya hanya di ikat cepol asal, mata yang sayu dan bengkak serta wajah yang pucat seakan memberitahu Satya bahwa semalaman Sandra tidak terlelap sedikitpun.
Satya memegang kedua bahu Sandra, Ia menatap Sandra dengan tatapan yang lembut. "Kenapa ponselmu tidak aktif?" Tanya Satya dengan nada pelan.
"Aku sengaja mematikannya. Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun" Jawab Sandra.
"Aku sangat kuatir kalau kau pergi dariku".
"Apakah mungkin aku bisa pergi darimu? Apa kamu akan melepaskanku jika aku ingin pergi?" Tanya Sandra menatap Satya dengan nanar.
Satya menarik tubuh Sandra ke dalam dekapannya. "Tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi dariku. Bahkan jika kau nekat pergi diam-diam, aku akan mencarimu kemanapun." Ujar Satya. Terdengar nada ketakutan dalam suara pria itu.
Sandra membalas pelukan Satya. Ia menyusupkan kepalanya ke dalam dada bidang pria itu seraya terisak. Tubuh Sandra bergetar hebat. Tangisannya terasa memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.
"Hatiku sangat sakit... Sangat. Aku... Hiks... Aku ingin meninggalkanmu. Aku ingin pergi darimu. Aku ingin melupakanmu dan menganggap kita tidak pernah saling kenal hiks.. Tapi aku...." Sandra tidak melanjutkan ucapannya, Ia justru semakin menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi kaus Satya.
__ADS_1
Satya semakin mendekap erat Sandra. Ia mengusap punggung Sandra berusaha menyalurkan rasa ketenangan."Aku minta maaf sayang. Sungguh aku sangat mencintaimu Sandra Aruni. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Tetaplah di sisiku.". Ujar Satya dengan mata berkaca-kaca. Satya bisa merasakan rasa sakit di hati Sandra. Karena Ia pun pernah mengalaminya. "Aku minta maaf.." Ujar Satya menyesal.
Badan Sandra berguncang kecil di dalam pelukan Satya karena menangis dengan keras setelah mendengar penuturan Satya padanya. Sandra lalu melepas tautan tangannya di balik punggung Satya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan berusaha mengatur emosinya kembali.
Sandra lantas menatap Satya dengan matanya yang sembab. "Ini menyakitkan karena kamu menghancurkan hatiku, tetapi semalaman aku berpikir.. Semalaman aku menyelami perasaanku setelah apa yang kamu perbuat.. Ternyata hatiku tetap milikmu, aku tidak berpikir aku akan bisa mencintai siapa pun seperti aku mencintaimu.." Ujar Sandra dengan air mata yang menggenang siap untuk membasahi wajahnya kembali.
Satya terperangah saat mendengar kejujuran Sandra. Netra matanya melihat wajah Sandra dengan penuh cinta. Satya mengusap wajah Sandra yang basah dan menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi Sandra.
"Katakan sekali lagi sayang..." Ujar Satya dengan mata yang berkaca-kaca. "Tolong katakan sekali lagi".
Sandra menatap Satya sejenak. "Aku mencintaimu" Seru Sandra akhirnya.
Setelah mendengar pengakuan sang istri, Satya lantas mencium bibir Sandra dengan lembut. Ia mengecupnya berulang kali.
"Sudah hentikan..." Ujar Sandra seraya memalingkan wajahnya. "Kepalaku sedang pusing". Keluh Sandra.
Satya menatap Sandra seraya mengerutkan kening. "Apa kau benar-benar tidak tidur?" Tanya Satya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Sandra menggelengkan kepala dengan pelan. "Lupakan saja" Ujar Sandra seraya membuang muka.
Satya tersenyum melihat tingkah sang istri. Sebagai pria, Ia mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Sandra. "Jangan berpikir macam-macam oke? Istriku hanya kau, Sandra. Yang melayaniku hanya dirimu. Aku tidak mau yang lain" Ujar Satya.
Sandra menghela napas perlahan. "Setelah ini apa yang akan terjadi? Apa aku perlu bertemu dengan istri pertamamu?". Tanya Sandra.
"Untuk apa kau bertemu dengannya? Serahkan segalanya padaku. Kau hanya harus berada di sisiku, maka semua akan baik-baik saja". Ujar Satya dengan raut wajah serius.
Sandra tak menjawab apapun. Ia hanya memijat pelipisnya dengan lembut berusaha menghalau rasa sakit di kepala yang semakin menjadi-jadi. Tidak tidur dan menangis semalaman hingga saat ini pun Ia masih menangis, benar-benar membuat kepalanya terasa serasa dihantam sebongkah batu besar.
__ADS_1
"Apa sakit sekali kepalamu?" Tanya Satya seraya menundukkan sedikit kepalanya agar bisa menatap Sandra. "Ayo istirahatlah dulu.." Satya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Sandra seraya berjalan melangkah menuju kamar tidur.
"Apa kau sudah sarapan?".
Sandra menggelengkan kepalanya seraya menarik selimut hingga ke sebatas dada. "Kenapa kau belum sarapan? Astaga.." Ujar Satya. Ia melirik sebuah arloji di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Tidurlah dulu. Nanti setelah kau bangun, kita akan pergi makan siang". Satya mengusap kening Sandra dengan lembut seraya tersenyum hangat.
Sandra yang merasakan usapan di keningnya merasa sangat nyaman dan tenang. Hingga akhirnya Ia pun terlelap.
...🌻🌻🌻...
Nadya memasuki sebuah gedung yang di depannya tertera nama Carlton Inc. Gedung pencakar langit yang dimana seluruh lantainya hanya diperuntukkan untuk seluruh karyawan Carlton Inc. Termasuk di dalamnya ada hotel mewah hingga apartemen premium yang di jalankan oleh kerajaan bisnis keluarga Carlton.
Nadya berjalan dengan wajah yang angkuh. Tak sedikitpun karyawan yang menyapa dirinya hanya mendapat sikap acuh serta picingan mata dari wajah cantiknya. Nadya lantas masuk ke dalam lift dan menekan lantai teratas.
Tak menunggu lama, Ia pun keluar dari lift dan segera melangkah menuju sebuah ruangan khusus yang tak lain ruang kantor sang ayah, Aldanar Carlton.
Tanpa menghampiri sekretaris sang ayah, Nadya pun langsung saja membuka pintu ruang kantor Aldanar. "Ayah!". Sapa Nadya saat melihat sang ayah tengah menikmati secangkir kopi.
"Astaga putriku! Kenapa kau kemari tidak memberitahuku?". Ujar Aldanar seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri Nadya.
Aldanar lantas memeluk tubuh ramping Nadya dan mengecup salah satu sisi pipi sang putri. "Ada apa kau tiba-tiba kemari?". Tanya Aldanar.
Nadya pun duduk di sebuah sofa berwarna hitam di ikuti oleh Aldanar. "Aku ingin memberitahu sesuatu, Ayah". Ujar Nadya.
Aldanar menatap wajah sang putri. "Memberitahu tentang apa? Sepertinya kau serius sekali". Ujar sang ayah.
"Ini memang serius. Sangat serius. Ini tentang suamiku, Ayah"
__ADS_1
...🌴🌴🌴...