
"Sandra, kamu tidak sarapan dulu?". Tanya Retno ketika melihat Sandra terburu-buru memakai sepatunya.
"Tidak, Bu. Kalau aku sarapan dulu nanti aku terlambat". Jawab Sandra tanpa menoleh pada Retno.
"Kamu mulai kapan jadi caddy tetap?". Tanya Retno lagi.
"Hari ini keputusannya, Bu. Makanya tidak mungkin aku datang terlambat ke country club."
Sandra lantas berdiri dan menepuk kedua tangannya pada celana jeans berwarna hitam yang membalut kakinya. "Sandra pergi dulu, Bu. Doakan Sandra ya!". Ujar Sandra seraya mencium kedua pipi Retno.
"Sandra pergi dulu, Pak!". Pamit Sandra pada Dimas yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Tak membuang waktu lama, Sandra segera pergi dari pekarangan rumahnya. Ia berlari kecil tatkala melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Aiisshh.. Bisa-bisanya gw bangun telat tadi!". Sandra menggerutu seraya berlari menuju sebuah angkutan umum yang sedang berhenti menunggu penumpang.
Sementara di rumah, Dimas yang sudah berpakaian langsung saja duduk di ruang makan. Ia meneguk secangkir kopi hitam hangat yang sudah di buatkan oleh Retno.
"Semoga saja Sandra memiliki keberuntungan bekerja menjadi Caddy". Ujar Dimas memecah keheningan.
"Maksudmu apa, Mas?". Tanya Retno dengan raut wajah bingung.
"Ya.. Kamu taulau olahraga golf itu hanya bisa di lakukan oleh para orang kaya, pengusaha, ya orang-orang elit lah!". Jawab Dimas.
"Lantas kenapa?". Tanya Retno lagi.
"Siapa tau ada yang suka pada putri kita. Dapat durian runtuh keluarga ini. Masa kamu tidak berpikir ke arah sana, Retno?". Ujar Dimas santai seraya menggigit sebuah tahu isi di mulut.
Retno menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mas... Kamu ini ayahnya. Apa kamu tidak kuatir pada putrimu?".
"Kuatir? Kenapa aku harus kuatir?". Tanya Dimas tak mengerti.
"Lingkungan kerja Sandra itu rawan, Mas! Aku malah di marahi oleh Ibu karena membiarkan Sandra bekerja menjadi caddy, Ibu bilang aku menjual anakku!"
"Halah.. Ibumu saja selalu berlebihan! Siapa yang menjual anak? Sandra sendiri kan yang tiba-tiba melamar menjadi caddy? Kita berdua bahkan tidak tahu!". Sanggah Dimas.
__ADS_1
"Ya aku tahu itu, Mas. Tapi apa pernah kamu sebagai ayahnya berpikir, harusnya putri kita itu sedang kuliah. Bukan bekerja keras seperti ini.". Ujar Retno sedih mengingat Sandra yang harus melakukan pekerjaan apapun selepas Ia lulus sekolah hingga saat ini.
"Lalu kamu mau aku bagaimana? Aku tidak punya kemampuan untuk menguliahkannya. Uang dari mana! Makanya kubilang padamu tadi, semoga saja Sandra mendapatkan seorang pria kaya raya di pekerjaannya saat ini. Kau berdoa saja". Sahut Dimas santai seakan tak ada beban.
Retno menatap sejenak suaminya lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Dimas di ruang makan seorang diri. Sungguh berdebat dengan suaminya tak akan pernah mendapatkan solusi apapun melainkan hanya meninggalkan perasaan kesal saja.
...๐ป๐ป๐ป...
Satya yang baru saja masuk ke dalam ruang kantornya segera menaruh tas kerjanya di atas sofa. Ia lalu melangkah menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan indah kota metropolitan di pagi hari.
Satya lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku jasnya. Ia mendial sebuah nomor. Beberapa kali sambungan terdengar hingga akhirnya tersambung.
"Tolong kau kirimkan data caddy golf atas nama Sandra Aruni padaku sekarang juga. Dan ingat ini rahasia. Jangan beritahu pada siapapun termasuk Ayahku.".Ujar Satya memberi perintah pada seseorang.
Tanpa menunggu sebuah jawaban, Satya memutus sambungan telfon dan melangkah menuju meja kerjanya. Ia meregangkan kedua tangannya ke samping seraya menarik napas dalam-dalam.
"Aaaahh... Mari mulai mengais berlian!" Ujar Satya pada driinya sendiri.
Namun belum 5 menit berlalu, Satya mendongakkan kepala saat melihat pintu ruang kerjany terbuka begitu saja. Ia menekan kedua pelipisnya tatkala melihat kedatangan seorang wanita yang tak di harapkan melangkah masuk dengan gemulai.
"Buat apa aku menunggu wanita yang masih tidur?". Ujar Satya. "Ada apa kau kemari, Nadya?".
Nadya melangkah mendekat mengitari meja kerja Satya. Ia lalu mendorong kursi kebesaran Satya dan dengan cepat mendudukkan dirinya di atas pangkuan pria itu.
"Ini kantor. Jaga sikapmu". Ujar Satya mengangkat Nadya agar segera berdiri kembali.
Satya lantas bersandar pada kursinya seraya bersedekap dada memandangi penampilan Nadya dari atas kepala hingga ujung kaki. "Kau mau kemana?".
"Aku ada acara arisan dengan teman-teman kuliahku, Beb. Setelahnya mungkin seperti biasa... Shopping hehehehe" Nadya terkekeh pelan.
"Lalu kau kemari mau apa?" Tanya Satya lagi walau Ia sudah tahu mau Nadya.
"Beeeeeebbbbbb" Nadya menggoyang-goyangkan lengan Satya dengan manja. "Jangan pura-pura gak tau deh!". Ujar Nadya sambil memberengut manja.
Satya menatap Nadya cukup lama dengan raut wajah yang sukar di mengerti. Ia lalu membuka laci kecil dan mengambil sebuah cek. Satya membubuhkan tanda tangannya di atas cek dan memberikannya pada Nadya.
__ADS_1
"Kau isi sendiri saja dan pergilah sekarang. Pekerjaanku sangat banyak". Ujar Satya.
Nadya menerima cek tersebut dan mengecup pipi Satya dengan cepat. "Makasih, Beb! Aku akan mengabarimu!". Nadya lantas segera pergi dari ruang kerja Satya dengan gembira.
Selepas kepergian Nadya, Satya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pikirannya berlarian pada banyak hal. Kepalanya penuh dengan banyak hal rumit yang saling memborbadir hingga terasa sanggup meledakkan otaknya.
Satya menghela napasnya. Ia lalu menatap sebuah foto dalam pigura kecil dalam posisi terbalik. Satya sengaja membalikkan pigura foto tersebut. Terlihat tawa dirinya yang pernah terpancar dengan bahagia.
"Hahaha.. Ternyata aku pernah menjadi orang bodoh". Gumam Satya.
Satya tersenyum miring menatap foto tersebut lalu Ia membalikkan kembali pigura tersebut hingga tak terlihat foto dibaliknya. Satya menghela napas pelan. Ia mengetuk-ngetuk bolpoinnya ke atas meja seraya memikirkan sesuatu.
"Bukan salahku kan?". Tanya Satya bergumam pada dirinya sendiri.
...๐ด๐ด๐ด...
Hi!
Udah di bab ke 20 ini aku mau tanya nih sama kalian semua yang udah ikutin cerita ini (Makasih banget loh!)
Menurut kalian, apakah alurnya kecepatan? apa kalian sudah dapat 'feel' cerita ini dengan karakter tokohnya? Apa kalian menikmatinya saat membacanya?
Aku minta maaf kalau kadand ada typo dan membuat kalian membacanya jadi gak enak! Heheehehe..
Ayo dong yang belum pernah berkomentar, yuk tinggalin komennya di bab ini. yang ngasih like aja tanpa komentar, aku pun nunggu komentarnya.
To be honest, aku berusaha membuat cerita yg menarik dan masih belajar. Aku sangat terbuka pada saran apapun dan kritik (yg membangun tentunya). Aku senang loh kalau ada readers yang interaktif hehehe.
Semoga kalian semua sehat selalu ya!
Seperti biasa...
Like nya donggg๐
Komen!๐
__ADS_1
Hadiah dan vote boleh bangettt๐