
Satya meregangkan tangannya ke atas. Ia baru saja menyelesaikan segala pekerjaan di hari ini dengan baik. Satya melirik sebuah arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia beranjak dari kursi kebesarannya dan memutar tubuhnya ke sisi kanan dan kiri secara bergantian.
"Aaah.. Duduk seharian seperti ini membuat tubuhku rasanya jompo sekali". Gerutu Satya saat merasakan pinggangnya pegal-pegal.
Satya lantas segera menekan intercom di atas meja kerjanya. "Nino, cepat ke ruanganku". Ujarnya.
Tak lama kemudian, Nino segera masuk ke dalam ruang kerja Satya. "Ada apa?" Tanya Nino to the point.
"Apa kau sudah mau pulang?"
Nino mengangguk. "Ya. Aku lelah". Sahutnya singkat.
"Kerjamu juga seperti aku, hanya duduk di balik meja. Kenapa lelah?" Tanya Satya mengerutkan kening.
"Tanya saja pada dirimu sendiri." Ujar Nino. Mungkin Satya lupa apa yang baru saja di lakukan oleh dirinya ketika beranjak dari kursinya tadi...
"Antarkan aku ke apartemen". Ujar Satya tiba-tiba seraya melangkah mengambil jas kerja yang Ia sampirkan di kursi. Tak lupa, Satya pun mematikan PC yang berada di atas meja.
"Untuk apa minta antar aku? Kau kan bisa pergi sendiri".
"Untuk berjaga-jaga saja. Kalau aku pergi denganmu, kau bisa menjadi alibiku". Ujar Satya terkekeh.
"Sialan kau.. Sudah kubilang jangan membawaku terlalu jauh pada perselingkuhanmu ini".
"Tapi sayangnya tanpa sadar kau sudah terlibat jauh, Nino. Sudahlah.. Dengarkan saja aku... Hidupmu pasti selamat!" Sahut Satya angkuh.
"Brengsek... Kalau kau memang sekuat itu, kau tidak akan kucing-kucingan seperti ini! Kau pasti akan langsung membuat gempar seluruh orang!". Decak Nino kesal.
"Kenapa kau selalu membawa nama binatang di setiap ucapanmu, huh? Kelinci, gorila, monyet, kucing, lalu nanti apalagi? Apa maksud dari kucing-kucingan yang tadi kau bilang?". Tanya Satya dengan serius.
__ADS_1
Nino mengusap wajahnya menahan sabar menghadapi sang bos. "Kucing yang sedang kawin! Puas kau?!".
Satya mengerutkan kening terlihat berpikir lalu bibirnya menyeringai. "Kucing kawin? Kucing jantan yang di atas tubuh kucing betina seraya menggigit leher itu? Dan kucing betina mengeong-ngeong keenakan?".
"Kau ini bicara apa sih?".
"Ah.. Aku akan menjadi kucing jantan malam ini dan membuat istriku berteriak seperti kucing betina! Hahahahahahah" Satya tertawa terbahak-bahak seraya melangkah berjalan keluar dari ruang kantornya.
Nino yang melihat tingkah absurd Satya justru merasa semakin kesal. "Bajingan.... Kenapa dia bicara gamblang seperti itu?! Pikiranku jadi berlari kemana-mana! Sial...." Gerutu Nino.
"Tapi... Setahuku kucing betina bukan keenakan, justru kesakitan karena alat tempurnya itu memiliki duri. Tidak mungkin kan miliknya juga berduri?". Otak Nino benar-benar berlarian.
"Sialan! Apa yang kupikirkan!". Umpat Nino pada dirinya sendiri seraya melangkah pergi menyusul Satya.
...🌻🌻🌻...
"Bu, semua sudah selesai di bereskan ya. Untuk makan malam juga sudah saya masak sedikit untuk Ibu dan Bapak. Saya pamit pulang dulu ya, Bu". Ujar Bik Laras, asisten rumah tangga yang Satya tugaskan untuk membersihkan apartemen setiap harinya.
"Udah tugas saya, Bu. Bapak minta saya setiap hari datang dan saya gak keberatan kok, Bu. Di sini kerjaannya gak berat juga, Bu walau saya kerjakan tiap hari" Sahut Bik Laras.
Sandra pun mengulas senyum manis. "Baiklah kalau bibik maunya seperti itu". Ujarnya. Bik Laras pun segera melangkah pergi keluar dari apartemen.
Sandra yang berdiri di tengah-tengah ruangan pun sejenak tertegun. Pada saat-saat seperti ini Ia merasa kesepian. Tidak ada orang yang bisa Ia ajak berbicara. Sebenarnya Ia ingin meminta izin pada Satya agar dirinya di perbolehkan untuk membawa teman ke dalam apartemen. Namun Sandra masih sungkan untuk mengutarakannya.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memasukkan pin di daun pintu, dan tak lama pintu pun terbuka hingga nampaklah Satya di baliknya. Sandra tersenyum lebar melihat sang suami pulang ke apartemen. Padahal kemarin pria itu bilang kalau hanya akan tidur selama tiga kali dalam satu pekan di apartemen.
Sandra langsung menghampiri Satya dan meraih tas kerja serta jas pria itu dari tangan Satya. "Aku pikir kamu tidak akan kemari malam ini". Ujar Sandra menatap Satya dengan lekat.
Satya menatap Sandra seraya tersenyum. Ia menarik lembut tubuh Sandra ke dalam dekapannya dan mengusap rambut panjang Sandra yang terurai. "Aku merindukanmu". Sahut Satya pelan.
__ADS_1
Sandra mengeratkan pelukannya pada tubuh gagah sang suami seraya menghirup aroma parfum mewah dari tubuh Satya yang sudah bercampur keringat. "Aku juga... Aku tadi sempat sedih karena setelah Bik Laras pulang, rasanya sepi sekali berada di apartemen seluas ini seorang diri". Ujar Sandra jujur.
Satya mengendurkan pelukannya, Ia lantas menatap Sandra dengan pandangan bersalah. "Maafkan aku kalau tidak bisa menemanimu setiap hari.... Hmmm bagaimana jika aku sedang tidak tidur di apartemen, kau mengajak temanmu untuk menginap? Merin atau siapa lah aku tidak ingat nama mereka lagi." Ujar Satya terkekeh. "Yang datang ke pernikahan kita saja, kau bisa meminta mereka menemanimu ketika aku sedang tidak tidur di sini".
Mata Sandra berbinar mendengar penuturan dari Satya. "Benarkah boleh seperti itu?!".
"Tentu saja boleh. Lakukanlah apa yang membuatmu senang dan nyaman, sayang".
Bahkan pada Nadya pun aku masih menjamin kehidupannya...Apalagi dengan Sandra? Yang benar-benar kuanggap istriku... Seluruh kebahagiaan di dunia ini akan kuberikan andai aku mampu melakukannya!
Satya bergumam dalam hatinya tatkala dirinya memeluk erat tubuh ramping sang istri. "Aku mandi dulu sebentar" Sahut Satya melepaskan pelukannya yang di angguki oleh Sandra.
Tiga puluh menit kemudian, Satya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Ia menggosok pelan rambutnya yang masih basah dengan sebuah handuk kecil. Sandra yang melihat itu lantas segera menarik tubuh Satya untuk duduk di depan meja rias.
"Aku keringkan rambutmu pakai hair dryer saja ya supaya cepat kering dan kamu tidak masuk angin". Ujar Sandra.
Dengan hati-hati Sandra menyisir rambut Satya seraya di keringkan dengan hair dryer. Tanpa Sandra sadari jika Satya sebenarnya mengamati dirinya melalui pantulan cermin. Satya mengulum bibirnya saat Ia menangkap berbagai ekspresi dari wajah sang istri.
"Rambutmu halus sekali.. Kalau kupegang sambil tiduran pasti membuatku cepat tidur nyenyak hehehhe" Sandra mengoceh seraya kedua tangannya masih sibuk dengan rambut Satya.
"Apa setelah ini kamu mau makan malam? Bik Laras sudah memasak sedikit tadi.. Kalau kamu mau makan, aku akan menghangatkannya".
"Aku akan makan setelah makan dirimu lebih dulu". Ujar Satya.
Ucapan Satya membuat kening Sandra bertaut. Tatapan keduanya saling bertemu melalui pantulan cermin. "Makan aku? Maksud kamu apa?". Tanya Sandra tidak mengerti.
Satya lantas menarik Sandra ke hinggu duduk di pangkuannya. "Apa kamu sudah selesai datang bulan?". Tanya Satya. Sandra lantas mengangguk pelan dengan malu-malu.
"Aku akan benar-benar melahapmu malam ini sayang". Tanpa aba-aba Satya menggendong tubuh Sandra begitu saja dan membawanya ke atas kasur.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...