
Ulang Tahun Nadya, Green Forest Hotel.
Tibalah hari ulang tahun yang ditunggu-tunggu oleh Nadya. Ia benar-benar menyerahkan segala keperluan terkait pesta ulang tahunnya pada Satya dan juga sang Mama mertua. Awalnya Nadya bersikeras agar pesta di selenggarakan di Golf Country Club, namun Satya pun tak kalah kerasnya melarang Nadya agar tidak menyelenggarakan di sana.
Pada akhirnya lagi dan lagi, Satya harus turun tangan untuk mencarikan lokasi yang tepat untuk pesta Nadya. Hingga urusan makanan pun di supply oleh Grace, sang mama mertua. Hari ini tak di pungkiri, penampilan Nadya terlihat sangat menawan. Dengan gaun berbahan silk yang berwarna hampir menyerupai warna kulitnya, semakin membuat kesan sensual pada dirinya. Gaun berpotongan dada yang rendah hingga dua bola kenyal Nadya benar-benar tercetak. Dengan ukuran yang pas dengan tubuhnya, mata lelaki yang melihatnya pasti akan tergoda.
Namun lain hal dengan Satya, pria itu sejak tadi sudah sangat bosan padahal acara belum dimulai. Satya berulang kali mengecek ponselnya menunggu sebuah balasan pesan dari istri keduanya, Sandra. Sejak tadi di ruang rias, Satya hanya sibuk saling berkirim pesan dengan Sandra. Istri keduanya itu sedang merajuk ingin Satya datang ke apartemen, namun apa daya... Dirinya tidak mungkin meninggalkan pesta ulang tahun Nadya begitu saja.
Bukan karena pesta Nadya lebih penting, Satya hanya tidak ingin mengundang banyak pertanyaan karib kerabat kedua keluarga jika tidak melihat kehadiran Satya pada hari spesial istrinya.
Satya menghela napas manakala sudah dua puluh menit berlalu, Sandra belum juga membalas pesan terakhir yang Ia kirimkan. Ia beralih menatap Grace dan Chandra serta kedua orang tua Nadya yang sedang berbincang sangat akrab. Satya lantas melihat Nadya berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang di wajah.
Satya menatap penampilan Nadya malam ini. Netra mata tajamnya benar-benar mengamati Nadya.
Huh.
Satya merasa kesal. Tidak ada lagi bibit perasaan pada istri pertamanya itu. Semua menguap begitu saja. Apa perasaan yang di miliki oleh Satya memang sedangkal itu pada Nadya? Hanya orang yang pernah berada di posisi Satya lah yang bisa merasakannya.
"Yank, yuk keluar.. Acara udah mau dimulai.." Ujar Nadya mengulurkan tangannya pada Satya.
Satya menatap tangan Nadya yang terulur ke arahnya lalu beralih menatap kedua orang tuanya juga kedua orang tua Nadya sedang mengamati anak menantu mereka. Mau tak mau Satya meraih uluran tangan Nadya dan menggenggamnya dengan erat. Keduanya jalan bersisian layaknya suami istri yang selalu dimabuk cinta.
__ADS_1
Area pesta ulang tahun Nadya dibuat semewah mungkin namun tidak melepas kesan asri. Bunga mawar berwarna merah muda dan putih menghiasi area venue. Nadya terpana dengan dekorasi yang dibuat oleh vendor terpercaya sang mama mertua.
Hanya karib kerabat serta relasi kedua perusahaan yang di undang. Tentu saja tidak ada media yang meliput dan Satya pun menghimbau agar para tamu bisa menjaga privasi, dalam hal apapun. Termasuk tidak mengunggah foto atau video apapun di media sosial. Aturan yang pernah di berlakukan saat pernikahan Satya dan Nadya.
Sebuah kue ulang tahun bertingkat 5 dengan hiasan ala puteri kerajaan berwarna putih keemasan berada di tengah-tengah venue. Angka 27 tersemat di cake paling atas. Nama Nadya Carlton terukir dengan apik di sekeliling cake.
Nadya memeluk lengan kekar Satya dengan manja. "Makasih yank untuk pesta malam ini..." Bisik Nadya. Satya hanya mengangguk tipis dengan wajah yang datar.
Seorang pembawa acara mempersilakan Nadya agar memotong kue dengan di iringi alunan piano. Nadya tersenyum lebar saat Ia memotong kue ulang tahunnnya.
"Kira-kira mau dikasih ke siapa nih suapan pertamanya?". Tanya Sang pembawa acara.
Grace dan Chandra serta kedua orang tua Nadya yang sedang berdiri di kedua sisi Nadya terlihat tersenyum lebar. Nadya menatap mereka lalu beralih menatap Satya yang tetap memasang wajah cool. Nadya lantas menyuapi suapan pertamanya pada Satya.
"Waahhh tetap yaaa.. Suaminya nomor satu!". Ujar Sang pembawa acara. "Naaah.. Ini suaminya gak mau kasih ucapan khusus untuk istrinya nih?".
Sontak saja seluruh tamu mengarahkan pandangannya pada Satya. Menunggu pria itu mengucapkan sekata dua kata untuk sang istri, Nadya. Chandra memberikan sebuah mic pada Satya.
Satya menggenggam erat mic tersebut seraya menatap satu per satu para tamu undangan. "Ehm... Saya bukan pria yang pandai merangkai kata". Ucap Satya seraya terkekeh.
Satya lantas menatap pada Nadya. Menatap Nadya yang tiada henti tersenyum lebar kepadanya. "Selamat ulang tahun, Nad. Semoga kau menjadi wanita yang lebih baik dan bahagia". Lanjut Satya.
__ADS_1
Sontak saja para tamu undangan serta orang tua Satya dan Nadya mengerutkan kening. Mereka semua terdiam. Nino yang berdiri di belakang lantas menepuk keningnya saat mendengar ucapan sang bos pada istri pertamanya.
Satya menyadari keheningan yang menyelimuti area venue. Ia lantas berdeham. "Mmm.. Kalian tahu kan kalau mood wanita seringkali kacau balau?Istriku ini....." Satya menarik pinggang Nadya hingga tubuh keduanya menempel. "Dia ini memikili temperamen yang unik. Terkadang membuatku kewalahan menghadapinya... Aku hanya ingin dia menjadi istri yang lebih kalem saja. Apa bapak-bapak yang hadir malam ini pernah di lempar bantal saat berdebat dengan istri?" Tanya Satya.
"Dia seringkali melemparku dengan bantal jika sudah kesal hehehehe" Ucap Satya menoleh pada Nadya. Nadya hanya bisa tersenyum malu seraya memukul manja dada bidang Satya.
"Oohhh astagaa.. Kurasa hampir semua suami pernah merasakan ledakan emosi ya?? Itu bukan hal yang aneh lagi hahaha!". Ujar sang pembawa acara menanggapi dengan gurauan hingga membuat para tamu undangan tertawa memahami maksud dari perkataan Satya.
Satya lantas menatap wajah Nadya. Tangan kekarnya masih belum lepas dari pinggang Nadya. "Aku punya hadiah untukmu..." Ujar Satya.
Satya lalu melemparkan pandangannya ke arah Nino. Nino yang mengerti dengan sigap melangkah ke depan dan memberikan sebuah kotak kado berwarna putih. Satya lalu memberikan kotak tersebut pada Nadya. "Bukalah..." Ujar Satya.
Dengan semangat Nadya membuka kotak kado tersebut dan seketika mulutnya menganga terkejut. Ia menatap kotak dan wajah Satya dengan silih berganti. "Ya ampun yank.. Ini beneran?" Tanya Nadya tak percaya.
"Tentu saja..." Jawab Satya. "Apa kau senang?".
Nadya lantas menghamburkan diri memeluk erat tubuh Satya. "Aku senang banget! Ini impianku yank!" Ujar Nadya terisak.
Nadya lantas mengulur pelukannya. Tanpa aba-aba, Nadya mencium bibir Satya begitu saja. Mata Satya melotot terkejut namun sedetik kemudian Satya memejamkan matanya.
Sial... Merepotkan sekali seperti ini...
__ADS_1
...🌴🌴🌴...