
Malam harinya di rumah Satya...
"Kemana dia?! Brengsek Satyaaaaa!!!!!" Nadya melemparkan ponselnya ke sembarang arah hingga akhirnya ponsel boba keluaran terbaru itu menghantam tembok hingga jatuh ke lantai.
Nadya sedari tadi hanya menunggu dengan gelisah kepulangan Satya. Ia dikuasai oleh berbagai pikiran buruk yang memenuhi sampai ke sudut otaknya. Entah sudah berapa kali Ia mencoba menghubungi Satya baik melalui pesan maupun telfon. Namun tidak sekalipun ada tanggapan dari pria itu.
"Siapa sebenarnya caddy itu?" Nadya berjalan tak tentu arah seraya menarik rambutnya. "Apa hubungannya dengan suamiku? Kenapa dia sampai di lindungi oleh suamiku sampai seperti itu?". Nadya bergumam pada dirinya sendiri.
Ting!
Bunyi lift terdengar. Nadya membalikkan tubuhnya dan berlari kecil menuju ke arah lift. Tak lama pintu lift terbuka dan Satya melangkah keluar. Nadya segera menghalau tubuh Satya dengan cepat.
"Darimana saja? Kamu tidak pergi dengan caddy itu kan?!". Tanya Nadya to the point.
Satya menatap Nadya dengan wajah yang lelah. Ia menghela napas dengan kasar. "Aku baru sampai, Nadya". Ujar Satya jengah.
"Aku sudah menunggumu berjam-jam! Dan kamu berjanji padaku akan menjelaskan segalanya! Jadi jelaskan padaku sekarang juga!'. Ucap Nadya memaksa Satya karena sudah tidak sabar.
"Apa yang ingin kau dengar huh?"
"Semuanya! Aku ingin kamu menjelaskan semuanya padaku! Siapa caddy itu? Ada hubungan apa kamu dengannya?!" Cecar Nadya. Satya menatap sejenak tepat ke manik mata Nadya lalu berjalan melangkah begitu saja menuju kulkas untuk mengambil sebotol air minum.
Nadya lalu menarik lengan Satya dengan kasar hingga tubuh pria itu tertarik beberapa langkah ke belakang. "Sialan Nadya! Bisa tidak kau sabar? Biarkan aku minum lebih dulu!". Umpat Satya dengan wajah kesal.
Nadya bergeming diam di tempat dan membiarkan Satya mengambil sebotol air minum dan meneguknya hingga tersisa setengah botol. Satya lalu duduk di sebuah sofa panjang berwarna putih.
"Duduklah. Kenapa kau masih berdiri di situ?" Ujar Satya seraya menatap Nadya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Nadya lantas segera duduk di sisi Satya. Hatinya tiba-tiba saja berubah menjadi gelisah. Nadya sangat tahu jika Satya memintanya untuk berbicara dalam posisi duduk, Ia tahu pria itu akan menyampaikan sesuatu yang sangat serius.
"Apa yang ingin kau ketahui dariku?" Tanya Satya dengan tenang.
"Kemana saja kamu tadi?" Tanya Nadya seakan berbasa basi lebih dulu.
"Aku pergi.." Jawab Satya dengan ambigu. "Bukankah kau sudah melihat dengan siapa aku pergi?".
Nadya menatap tajam netra mata Satya. "Siapa dia?" Tanya Nadya. "Maksudku, kenapa kamu tiba-tiba membawa pergi caddy itu? Apa dia melakukan kesalahan atau apa?".
Satya menghela napas pelan. Ia menatap manik mata Nadya dengan tatapan yang sulit diungkapkan. "Caddy itu bernama Sandra, Nadya. Kau pasti mengetahuinya juga kan?".
__ADS_1
Nadya mengedikkan bahu dengan acuh. "Aku tidak mengingat nama orang yang tidak penting. Apalagi hanya seorang caddy." Cibir Nadya.
"Tapi dia orang yang penting untukku, Nad". Sahut Satya pelan.
"Maksudmu apa?". Nadya menatap Satya dengan mengerutkan kening.
Satya terdiam sejenak. "Dia, caddy yang bernama Sandra adalah madumu." Ujar Satya menatap lekat pada Nadya. "Dia adalah istri keduaku".
Sontak saja mata Nadya melotot hingga mulutnya pun menganga seakan menggambarkan betapa terkejut dirinya saat ini. "Kamu bercanda kan?" Tanya Nadya dengan suara hampir berbisik.
"Tidak. Kau tahu aku tidak pernah bercanda untuk hal sepenting ini".
PLAK!
Nadya menampar sisi wajah Satya dengan keras hingga pipi Satya terlihat kemerahan. Satya menatap Nadya dengan diam. Netra matanya menyusuri wajah Nadya yang sudah dipenuhi berbagai emosi hingga air mata wanita itu pun tumpah membasahi wajah cantiknya. Tangan Nadya gemetar setelah menampar wajah sang suami.
"Kenapa?" Ucap Nadya seraya menatap tangannya yang gemetar.
"Kenapa kamu melakukan hal ini padaku? KENAPA?!". Teriak Nadya beralih menatap Satya dengan wajah yang sudah berlinang air mata.
Satya menyugar rambutnya ke belakang. "Semuanya mengalir begitu saja." Ujar Satya. "Aku tahu aku salah karena telah menikah lagi dengan diam-diam di belakangmu. Tapi kau tahu dari awal, pernikahan kita tidak bisa di selamatkan. Kau dan aku... Hubungan kita sudah hancur, Nadya".
"Itu hanya alasanmu! Jika kamu mau, kita bisa memulai kembali dari awal!"
"Tapi bukan berarti kamu bisa menikah lagi di belakangku, Satya!!!!!" Teriak Nadya frustasi. "Aku sudah meminta maaf padamu! Ribuan kali aku meminta maaf atas apa yang terjadi! Aku melakukannya dengan tidak sadar! Aku membayangkannya denganmu saat itu terjadi! Apa yang harus kulakukan agar kamu mau memaafkanku?!".
Satya menghela napas seraya mengusap wajah. "Tidak ada yang perlu kau lakukan, Nadya. Hatiku sudah mati terhadapmu." Sahut Satya pelan.
"Aku sangat kecewa. Kamu adalah wanita yang membuatku jatuh cinta pertama kalinya sekaligus kamu juga yang mengukir sakit hati yang sangat dalam padaku".
Nadya mengusap wajahnya dengan kasar. Menghapus air mata yang membasahi wajah. Nadya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap Satya dengan tatapan yang amat lekat. Menyusuri wajah tampan seorang pria yang Ia dambakan sejak usia belia.
"Sudah berapa lama kamu menikahinya?" Tanya Nadya.
"Sudah lebih dari dua bulan".
Nadya menganggukkan kepala berusaha memasang berbagai puzzle yang tersebar dalam kurun waktu dua bulan.
"Apa kamu bersamanya saat kamu bilang padaku pergi untuk perjalanan bisnis setiap pekan?"
__ADS_1
Satya lantas mengangguk dengan cepat. "Ya. Aku bersamanya".
"Kalau begitu apa kamu sudah........"
Nadya menggantungkan ucapannya, terlihat enggan untuk melanjutkan.
"Sudah apa? Sudah melakukan hubungan suami istri maksudmu?" Tembak Satya menerka pikiran Nadya yang akhirnya di angguki oleh wanita itu.
Satya tersenyum miring. "Tentu saja sudah. Kau berharap apa sebenarnya, Nad? Aku pria normal. Hanya saja aku tidak pernah bisa melakukannya denganmu setelah aku melihat video mesramu itu". Ujar Satya.
Nadya menatap Satya dengan tatapan sendu. "Baiklah kalau begitu kita impas sekarang kan?"
"Aku pernah memintamu untuk tidur dengan wanita lain, dan sekarang kamu sudah melakukannya. Kita lanjutkan hubungan pernikahan kita, kita mulai dari awal oke?". Ujar Nadya.
Satya terperangah dengan pola pikir Nadya saat ini. "Kau pikir aku menikahinya hanya untuk menidurinya huh?" Tanya Satya tak habis pikir.
"Apapun alasanmu menikahinya, aku tahu kamu memang tidak ingin menyentuh wanita jika belum dalam ikatan resmi kan? Kamu pernah bilang padaku tentang hal ini".
"Sialan Nadya! Aku bukan pria sebrengsek itu yang menikah hanya untuk menidurinya!". Pekik Satya.
"Lalu apa alasanmu sampai menikahinya?"
"Aku mencintainya! Kau dengar? AKU MENCINTAI SANDRA!" Teriak Satya.
Nadya menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu tidak mencintainya. Dia hanya kamu jadikan pelarianmu dariku. Dia hanya kamu jadikan pelampiasanmu". Sanggah Nadya terlihat yakin dengan argumentasinya.
Satya menatap Nadya dengan sangat serius. Netra tajamnya memancarkan aura kemarahan yang amat jelas. "Aku mencintai Sandra. Aku tidak pernah main-main dengan pernikahanku dengannya, Nad".
"Tapi kamu menganggap pernikahan kita hanya permainan". Timpal Sandra.
"Kau yang memulainya lebih dulu, Nadya. Andai kau jujur padaku setelah pesta lajang malam itu, aku tidak akan menyetujui pernikahan ini. Tapi kau tetap memilih untuk menutupinya dariku. Kau pikir bagaimana perasaanku, Nad?".
"Aku mengakui aku salah karena menikah lagi tanpa sepengetahuanmu. Pernikahan kita sulit untuk diperbaiki dan dipertahankan, Nadyà". Ujar Satya meluapkan pikirannya.
"Ceraikan dia maka aku akan memaafkanmu". Ucap Nadya menatap Satya dengan serius.
"Jika salah satu dari kau atau Sandra yang harus aku pertahankan, maka aku akan memilih mempertahankan Sandra di sisiku". Sahut Satya dengan nada tak terbantahkan.
"Kalau begitu aku tidak bisa menjamin istri keduamu itu akan hidup dengan nyaman. Kau tahu aku siapa dan kedua orang tuaku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padaku". Nadya berkata dengan sedikit ancaman.
__ADS_1
Satya lantas beranjak berdiri dari sofa. Ia menoleh pada Nadya dengan tatapan tajam yang terasa menusuk hingga ke relung hati. "Lakukan semaumu, Nad." Ujar Satya. "Tapi kau pun tahu aku bagaimana bukan? Aku akan menjadi benteng yang kokoh untuk melindungi dirinya darimu, dari keluargamu dan bahkan dari keluargaku sendiri. Kau camkan itu". Ujar Satya dengan tegas lalu berlalu begitu saja meninggalkan Nadya yang diam terpaku melihat kilat keseriusan dari netra tajam pria itu.
...🌴🌴🌴...