
"Yank.." Nadya memanggil Satya yang sedang sibuk berkutat di depan laptop. Keduanya kini sedang berada di ruang tengah lantai 3 rumah Satya.
"Yaaankk.." Panggil Nadya lagi namun Satya masih tidak bergeming. Pria tampan itu masih fokus mengetik sesuatu seraya menatap layar laptop.
"YANK!". Teriak Nadya seraya melemparkan sebuah bantal yang mengenai tepat kepala Satya.
"Apa-apaan kau, Nad?!". Ujar Satya menoleh pada Nadya menatap dengan tatapan yang sangat menusuk.
"Aku panggil dari tadi kamu diam aja!". Omel Nadya.
Satya mengusap wajahnya menahan amarah. "Kau tidak lihat kalau aku sedang bekerja, huh?".
"Aku gak suka di cuekin ya!"
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk duduk di sini bersamaku. Sejak 2 jam yang lalu aku sudah di sini lebih dulu dan kau yang menghampiriku". Sahut Satya mengingatkan.
"Setidaknya kamu tutup kek laptop kamu! Daripada lihatin laptop lebih baik lihatin aku kan!".
"Aku lebih baik lihat laptop daripada wajahmu, Nadya." Sahut Satya kesal. "Katakan ada apa kamu menghampiriku".
Nadya lantas beralih mendekat pada Satya. Ia memeluk lengan kekar pria itu dengan manja. "Gak ada apa-apa. Aku cuma kangen manja-manjaan sama kamu, Yank". Ujar Nadya seraya menatap Satya.
Satya melirik sekilas pada Nadya. Wanita yang pernah di cintai dan di jaga sekian tahun selama bersama dengannya justru berubah menjadi wanita yang mematri rasa kecewa dan sakit hati yang dalam pada diri Satya.
"Apa kamu ada waktu besok, Yank? Papa dan Mama minta aku untuk ajak kamu ke rumahnya. Kita udah lama loh gak berkunjung ke rumah orang tuaku". Sahut Nadya.
Besok? Besok kan hari pernikahanku dengan Sandra....
__ADS_1
Satya bergumam dalam hati seraya memikirkan alasan yang pasti untuk Nadya.
"Ayolah, Yank. Luangkan waktu kamu sebentar aja untuk ketemu Papa dan Mama. Mereka selalu tanya loh. Kamu gak mau kan mereka curiga kalau pernikahan kita sebenarnya kayak gini?". Nadya masih berusaha membujuk Satya untuk memenuhi permintaannya.
"Kayak gini? Kayak gini gimana maksud kamu, Nad? Yang buat pernikahan kita berantakan seperti ini siapa, huh? Kamu kan?". Ucap Satya seraya mengangkaymt sebelah alisnya.
"Yaaankk.. Apa gak bisa kamu kasih aku satu kesempatan lagi buat perbaiki semuanya?"
"Nad, sejak malam itu dan sejak kau bilang kau hamil anak pria lain. Sejak saat itu juga pernikahan kita hancur, Nad. Tidak ada yang bisa di perbaiki." Ujar Satya.
Nadya melepas pelukannya dari lengan Satya. "Lalu kenapa kamu masih bertahan sampai sekarang dan kamu gak gugat cerai aku aja hah?" Nadya menatap Satya dengan menantang.
"Kau pikir cerai tidak ada di otakku selama ini? Bahkan setiap hari niatku ingin menceraikanmu semakin besar, Nadya! Tapi apa kau pernah berpikir berapa banyak kepentingan orang tuamu dan orang tuaku yang di gantungkan dalam pernikahan kita?"
"Aku bisa saja menceraikanmu saat ini, tapi aku jamin keluargamu akan terguncang. Keluargaku juga mungkin akan goyah, tapi tidak akan sehancur keluargamu. Apa kau siap jika hal itu terjadi? Jika kau siap, aku akan urus perceraian kita secepatnya". Ujar Satya menatap Nadya dengan sangat serius.
Nadya sontak saja terkejut melihat reaksi Satya yang dengan mudahnya akan urus perceraian. Padahal Ia hanya berniat untuk menggertak Satya saja. Namun reaksi Satya yang sangat berbeda jauh dengan dugaannya, membuat Nadya sendiri kalang kabut.
Satya menutup laptopnya dan menatap Nadya dengan tajam. "Apa yang kau harapkan dariku setelah semua hal sialan yang kau lakukan itu? Melihat tubuhmu di gempur habis-habisan oleh pria lain dan mendengar desah nikmat dari mulutmu itu membawa seluruh perasaanku lenyap begitu saja padamu".
"Jadi kau tau kan jawabannya jika kau bertanya apakah kau masih berarti untukku atau tidak?". Ujar Satya penuh penekanan.
Nadya menarik rambutnya dengan kasar menyalurkan amarahnya. "Oke! Fine! Kamu gak terima aku tidur sama orang lain kan? Fine! Aku izinin kamu tidur sama perempuan lain supaya kita berdua impas! Then after that, you can be mine forever! Aku gak akan pernah mau lepasin kamu ya! Gak akan pernah!". Nadya membentak Satya hingga akhirnya wanita itu melangkah pergi begitu saja.
Satya mengusap wajahnya seraya menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Kalau begitu... Kita lihat apa yang akan terjadi nanti". Gumam Satya menatap laptopnya yang berwarna silver.
...🌻🌻🌻...
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Sandra Aruni bin Dimas Heryana dengan mas kawin 50 gram emas di bayar tunai!" Ucap Satya dalam satu tarikan napas dengan suara lantang.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!". Ucap empat orang saksi serempak yang di hadirkan dari pihak kedua mempelai.
Sandra tertunduk malu ketika Ia menyadari bahwa saat ini telah resmi menjadi istri dari seorang pria bernama Satya Nagara. Pria yang bahkan tidak pernah berani Ia impikan untuk menjadi pasangan hidupnya. Perbedaan strata sosial yang terlalu jauh membuat Sandra bimbang sesaat, namun ketika Satya meyakinkan dirinya, Sandra pun berhasil mengenyahkan kegamangan di hati.
Suasana pernikahan Sandra dan Satya di adakan secara privat yang berada di sebuah cottage mewah dengan pemandangan yang menawan. Tamu yang di undang dalam pernikahan mereka pun hanya sekitar 30 orang. Sandra mengundang Cica, Ditha, Merin dan Giska. Hanya 4 orang sahabatnya itulah yang Sandra undang. Dari pihak Satya, pada akhirnya mau tak mau Nino berakhir menjadi saksi pernikahan bersama supir pribadi kepercayaan Satya. Sisanya adalah kerabat dekat keluarga Sandra.
"Selamat yaaa! Sumpah gw masih gak percaya kalau lo jadi istri Satya Nagara, San!". Ujar Merin dengan heboh.
"Sumpah San... Bagi-bagilah pelet lo supaya kita juga kebagian hoki dapat pemain golf yang muda dan tajir! Hahahhaha" Timpal Giska.
Sandra tertawa renyah. Raut bahagia benar-benar tersirat di wajahnya. "Gw juga masih gak percaya kalau gw udah jadi istri orang hahahaa".
"Sandraaaa... Selamat atas pernikahan lo yaaa.. Makasih udah undang gw kesini.. Jadi caddy bawa berkah ya buat lo? Hehehhee". Ditha menghampiri Sandra seraya mencium pipi kanan dan kiri gadis itu.
"Makasih ya udah mau datang ke nikahan gw yang sederhana ini, tha!". Ujar Sandra seraya mengulas senyum.
"Ehh..eehh.. Suami lo lagi ngarah kesini tuh! Ya ampun, San...Kalau gw gak ingat dia suami lo, gw pasti udah flirting ke dia, San!" Ujar Merin seraya menepuk bahu Sandra cukup keras.
"Awwww Merin! Sakit tau!". Gerutu Sandra melotot.
"Boleh saya bawa sebentar istri saya?". Satya yang kini berdiri di belakang tubuh Sandra dengan menaruh kedua tangannya pada bahu Sandra menatap silih berganti pada teman-teman sang istri.
"Silakan, Tuan! Silakan! Dia milik anda kok!". Sahut Merin asal.
__ADS_1
Satya terkekeh pelan melihat tingkah Merin yang sudah tidak asing lagi untuknya. "Bagaimana sayang? Ikut aku dulu sebentar ya.. Kau bisa lanjutkan obrolan dengan mereka nanti". Ucap Satya menatap Sandra dengan lembut.
...🌴🌴🌴...